Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Sesama Jomblo Kudu Akur.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


" Dok. Bos saya sudah punya calon istri. Anda jangan berpikiran macam-macam." ancam Joy tegas.


Dokter wanita itu menatap Joy, sambil menelan ludahnya kasar.


"Aih, apa yang anda pikirkan?" elak nya sambil tertawa.


" Apa anda masih single, Dok?"


Dokter wanita itu sontak menoleh dengan wajah ketus.


"Selesaikan administrasinya segera. Agar Bos anda bisa segera di pindahkan." titah Dokter wanita itu, hendak beranjak dengan wajah di tekuk.


Sepertinya dia tersinggung tuh gara-gara Joy.


"Tunggu, Dok!" tahan Joy, hingga langkah wanita berjas putih itu berhenti.


Joy mendekatinya, " jika anda masih single, tuh ada dua orang anak buah saya. Gak kalah keren dan macho kan dari Bosnya." goda Joy, membuat kedua pipi Dokter itu bersemu merah.


" Dokter, tinggal pilih salah satu. Nanti biar saya bantuin buat pedekate." tawar Joy, sedikit berbisik.


Sementara itu, kedua anak buah Joy yang tengah berdiri tegak hanya saling pandang.


" Punya Bos gini amat si. Demen banget ngejodohin orang," bisik penjaga satu.


" Heh, kayak sendirinya punya jodoh aja." sahut penjaga dua. Mereka pun membuang muka untuk menyembunyikan tawa.


" Hei! Anak buah kurang ajar!" Joy meneriaki kedua anak buah gak ada akhlak itu. Membuat keduanya kembali memasang ekspresi siaga.


" Liat kan Dok, kalau salah satu dari mereka macam-macam, kan bisa langsung di suntik mati aja." tegas Joy dengan ucapan yang sengaja di perjelas. Bahkan matanya sengaja melirik posisi anak buahnya itu.

__ADS_1


"Maaf, saya gak minat. Nikah sama bodyguard." Setelah mengatakan penolakannya, sang Dokter pun berlalu.


" Gimana ceritanya, wong saya naksir Bosnya. Kok, malah di tawarin anak buahnya. Yo emoh aku." gumam Dokter wanita itu sambil cemberut di sepanjang koridor.


" Haish, nasib kalian. Memang jomblo abadi sepertinya." ejek Joy, membuka botol kopi instan dan menenggaknya.


" Tunggu di sini, aku akan mengurus administrasi nya." titah Joy. Kemudian berlalu.


" Sendirinya juga jomblo." ucap kedua penjaga itu bersamaan.


" Sesama jomblo jangan saling melecehkan." Kemudian mereka terkekeh lagi.


Susi yang telah membersihkan dirinya di toilet, kini terlihat lebih segar.


" Pakaian ini sangat pas di tubuhku. Bagaimana Joy, bisa begitu mengerti?" gumam Susi, sambil mematut dirinya di cermin.


Kemudian ia membungkus baju bekas pakainya dan membuangnya ke tempat sampah.


Hingga menabrak seorang wanita yang tengah mengepel koridor.


"Aww ...!" pekik wanita itu karena, Susi menabraknya cukup keras.


" Akh. Maaf!" ucap Susi kaget. Dia tidak melihat ketika berbelok tadi.


"Mbak, saya tidak sengaja. Apa kamu ti-?" Sepasang mata indah Susi spontan membola.


"Su-Susi!" seru wanita itu setelah wajahnya mendongak dan ternyata adalah ...,


" Siska?" kaget Susi. Memindai penampilan Siska dari atas hingga bawah.


"K-kau, benaran Susi?" heran Siska, bahkan terlihat ia memukul pipinya sendiri.

__ADS_1


" Tentu, aku memang Susi."


" Kau sekarang bekerja di sini?" tanya Susi pada wanita yang tengah menunduk sambil meremas kedua tangannya itu.


"I-iya, hanya pekerjaan ini yang bisa aku dapatkan," lirihnya.


"Pekerjaan ini bagus, lanjutkanlah! Bersemangatlah!" ucap Susi menepuk perlahan bahu Siska.


"Kau?" Siska mendongak dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Sejak dulu. Kita bukan rival, jadi ... aku tidak pernah membencimu." jelas Susi, dengan senyum tipis.


"Maafkan aku!" Siska menunduk lagi sambil mengusap lelehan air matanya.


"Aku sudah memaafkan mu ... bekerjalah dengan baik, semoga kau bahagia." Setelah mengatakannya Susi langsung pergi.


"Semoga kau juga bahagia, Sus." gumam Siska lirih. Menatap punggung Susi yang berbelok ke arah di mana lift berada.


Pikirnya, Susi akan mempermalukannya dan membalas segala kelakuannya ketika dirinya berada di level serendah -rendahnya.


Susi sampai ke ruang IGD dengan napas terengah-engah.


"Pasien, sudah di pindahkan ke lantai atas Nona," jelas seorang juru rawat wanita. Atau bisa juga di sebut Ners.


"Baiklah, terima kasih!" Susi, tak ingin membuang waktu, dia segera mencari lift untuk membawanya ke lantai yang di maksud.


"Joy!" panggil Susi, ketika pintu lift terbuka.


"Ah, Nona masuklah!" Joy menahan pintu lift dengan kakinya. Hingga lift kembali terbuka.


"Kenapa kau tidak bersama tuan mu!"

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2