Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Die Hard.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Thx Joy," lirih Susi yang tengah gemetar hebat karena telah berhasil melubangi dada pria kekar yang tadi hendak menangkapnya.


"Aku hanya sedikit membantu, kau yang hebat Nona. Anda sungguh berani." Joy membangunkan Susi yang terjerembab ke semak-semak, karena raga rampingnya itu belum mampu mengimbangi tolakan dari tembakan yang di lontarkan pistol di tangannya.


"Nona," Milna berusaha bangun sambil memegangi kepalanya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜—๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ...


๐˜›๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜•๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต.


Pandangan Milna berkeliling, dimana beberapa jasad terkapar tak bergerak.


Setidaknya dua kawan wanitanya selamat, meski mereka sama-sama mengalami luka.


"Mari." Sebuah tangan kekar terulur di hadapannya.


Milna mendongak setelah ia menyapu aliran darah yang merembes pada wajahnya.


"Kau sepertinya terluka cukup parah." Lalu tanpa aba-aba, Joy mengulurkan tangannya kepinggang dan bahu Milna.


"Gyaaaa!" Gadis itu memekik, ketika di rasa tubuhnya melayang di udara. Refleks ia pun memegang erat leher pria yang menggendongnya itu.


Membawanya menuju pasukan bumblebee.


"Milna! Kau baik-baik sajakah!" Susi berteriak histeris ketika melihat pakaian gadis itu bersimbah darah.


"Aku, baik-baik saja Nona. Luka ini, tidak akan merobohkan wanita tangguh sepertiku." ucapnya sok kuat, demi meyakinkan Susi. Padahal, ia tengah mati-matian bertahan agar tetap sadar. Karena kepalanya sangat pusing,serta pandangannya yang mulai kabur dan berkunang-kunang.


"Istirahatlah, kita akan membawa mu dan yang lain ke rumah sakit." titah Susi.


" Kita akan ke hotel dulu, Nona. Itulah pesan dari tuan Arjuna." jelas Joy yang kini berada di depan kemudi.


"Tapi mereka semua terluka, Joy. Semua karena diriku, karena mereka melindungiku!" protes Susi yang terima bila mereka malah ke hotel dulu, sementara tiga pengawal wanita ini terluka parah.


๐˜•๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ.


๐˜•๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต.

__ADS_1


Milna menatap Susi dengan senyum setelahnya ia benar-benar tak sadarkan diri.


"Lihatlah! Milna pingsan!" pekik Susi, panik.


"Nona, rencana tetaplah rencana apapun yang terjadi," jelas pengawal wanita yang memegangi Milna.


"Tapi ...," Susi membekap mulutnya, bahkan pengawal yang di samping Joy pun tengah menahan sakit di bahunya.


"Kami harus memastikan anda selamat sampai tujuan. Karena ini adalah misi kami," jelasnya lagi.


Susi diam, ia tak mengerti akan peraturan aneh yang mereka sebutkan tadi. Bukankah dirinya sudah lolos? Bukankah, itu berarti dirinya sudah aman?


Tak lama mereka pun sampai di hotel, di sambut oleh pasukan pengamanan di sana.


"Bawa para wanita itu kerumah sakit terdekat." Perintah Joy seraya melempar kunci mobilnya, pada salah satu pasukan dari klan Toyobo itu.


Lalu dirinya pun masuk, mengiringi Susi kedalam hotel.


Beberapa saat kemudian.


Sesosok wanita cantik, dengan tubuh ramping semampai berbalut gaun putih panjang yang menyapu lantai.


Gaun putih tanpa lengan, hingga menampilkan bahunya yang mulus dan indah. Model yang sederhana, dengan bahan yang nyaman di kulit putih bersih Susi. Warna yang menyatu sempurna, membuat tampilan mewah nan elegan berkat paduan dari keduanya.


"Apakah ini, aku?" heran Susi. Ketika dirinya menatap cermin di hadapannya.


MUA di hadapannya merasa tergelitik dengan pertanyaan dari kliennya tersebut.


"Tentu saja, Nona. Memang siapa lagi yang sedang kami dandani," jawabnya dengan senyum dikulum, seraya memasangkan mahkota kecil mengkilap di sanggul Susi.


Sekali lagi Susi menatap pantulan gambar dirinya yang begitu sempurna. Bahkan di pernikahan pertamanya, dirinya tidaklah ๐˜ด๐˜ฆ-๐˜จ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด ini.


" ๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ญ." Puji sang penata rias, puas dengan hasil polesan dari jemarinya.


"๐˜›๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ, ๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ด." sahut Susi dengan senyum malu-malu.


"Kami permisi, Nona. Setelah pengantin pria sampai, kami akan kesini lagi." Para penata rias itu undur diri, meninggalkan Susi dalam kesendirian.


๐˜ˆ๐˜ณ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข?

__ADS_1


๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ .


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ... ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


๐˜Š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ...


Susi memejamkan matanya yang memanas. Hatinya seketika kalut dan berselimut kegamangan.


Apapun bisa saja terjadi pada Arjuna-nya.


___________


Arjuna terjatuh duduk, sebuah peluru yang melesat sempat menggores bahunya sedikit.


"Anda tidak apa-apa kan, Tuan," Red menghampiri Arjuna yang tertunduk lesu.


"Aku baik-baik saja, antarkan aku ke hotel sekarang juga." Arjuna memegang lengan Red kencang, lalu menatap mata pria botak itu tajam. Sebuah perintah yang tak boleh di tolak ataupun dibantah.


My Queen, pasti sudah menunggu lama," ucapnya lagi.


"Tapi, keadaan, Tuan?" Red ragu, melihat kondisi tuannya.


" Apa aku bisa di bantah?" Arjuna mendelik, seakan tatapannya itu mampu menembus hingga jantung.


"Baiklah." Red pun memapah tuannya keluar dari kamar berbau anyir campur mesiu itu.


Meninggalkan raga Domino, yang telah terkapar dengan kepala tertembus selongsong besi panas.


"Tuan, anda baik-baik saja?"


"Red, bagaimana kau bisa terlambat!" maki Better tak terima, melihat tuannya terluka.


" Tenanglah, Bet. Aku hanya tergores, bahkan diriku berhutang nyawa pada si Bruce Willis ini." jelas Arjuna sambil terkekeh pada pria botak yang memapah tubuhnya.


"Kecakepan amat di samain ama aktor ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฌ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜‹๐˜ช๐˜ฆ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ." ejek Better tak terima untuk kedua kalinya.


Ish, bang kuncir bisa julid juga๐Ÿคฃ


Mereka pun keluar area villa, yang mana menjadi markas rahasia klan Durex. Biarlah sisanya, menjadi urusan klan Toyobo.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2