
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Berhubung lapar sangat, Arjuna pun menelepon pihak hotel untuk menyiapkan makan malam.
Sementara itu, Susi masih menggulung tubuhnya dengan selimut. Membelakangi Arjuna yang tengah duduk di pinggir kasur sambil memainkan game ๐๐ฐ๐ถ๐ฏ๐ค๐ฆ.
Sengaja ia menyalakan suaranya ponselnya kencang, agar Susi keluar dari cangkangnya dan mengobrol dengannya.
Daripada pura-pura tidur dalam keadaan perut yang lapar. Sayang ia masih lemas, tak bertenaga. Kalau tidak ... beuuhh.
Tok tok tok!
"Permisi layanan kamar. Kami mengantar pesanan makanan." Begitulah bunyi suara di depan pintu kamar hotel.
Arjuna yang telah membalut raga perkasa nya dengan piyama, segera menghampiri pintu. Ekor matanya melirik sebentar ke atas tempat tidur. Kemudian ia menggeleng pelan dengan senyum tipis.
๐๐ช๐ต๐ข ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ .... ๐๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ช๐ฎ๐ถ๐ต ๐ช๐ต๐ถ.
Arjuna mempersilahkan pelayan hotel itu masuk. Lalu, mereka menata makanan di atas meja yang telah tersedia di pojok kamar.
Wangi makanan pun menguar kesekeliling kamar. Membuat onggokan di dalam selimut bergerak-gerak ricuh.
Arjuna lagi-lagi tergelak, ia benar-benar gemas dengan tingkah istrinya itu. Bagaimana bisa wanita yang sudah tak lagi gadis itu memiliki rasa malu yang selangit pada suaminya sendiri.
๐๐ฆ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ, ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ฎ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ฌ๐ด๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ฆ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฏ ๐จ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ. ๐ ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐จ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข , ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ด๐ถ๐ญ๐ช๐ต ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐จ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข, ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ถ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ ๐จ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข. ๐๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช, ๐ฅ๐ช๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข. ๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ด๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐จ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐จ๐ข ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ.
Arjuna melangkah pelan menghampiri tempat tidur, menekan-nekan gulungan selimut itu. Sengaja memberi tekanan pada beberapa bagian-bagian tertentu. Hingga sosok di dalam selimut terpaksa keluar karena kegelian.
Blush ...
__ADS_1
Rona itu masih belum hilang, bahkan semakin merona. Ketika di lihatnya wajah tampan itu terus tersenyum. Wajah yang biasanya dingin dan kaku, datar bagai atap roof top.
"Berhenti memasang ekspresi itu," titah Susi, seraya memalingkan wajahnya. Bagaimana tidak, senyuman Arjuna menambah kadar ketampanan pada wajah pria itu.
"Bukannya, kau suka? Bahkan, kau yang meminta ku untuk terus tersenyum padamu," sahut Arjuna heran.
"Apa kau ingin aku seperti yang dulu saja, memasang wajah ini." Arjuna menarik wajah Susi untuk menghadapnya.
"Ish, gak mau. Tidak dengan ekspresi itu lagi. Menyeramkan! Kau macam Vampire, dingin." Susi mencebik dan kembali melengos, setelah menepis pelan tangan Arjuna di dagunya.
"Terus, aku harus bagaimana? Kau membuatku bingung!"
"Gyaaa ...!" Susi memekik, karena Arjuna menarik tubuhnya hingga kembali terlentang di atas kasur.
"Katakan, aku harus bagaimana?" tanya Arjuna yang tengah menghimpit sang istri di bawahnya.
"Seperti tadi yang mana?" goda Arjuna, senang sekali melihat wajah grogi di bawahnya itu.
"Ck, yang tersenyum manis dan menawan tadi itu ...," gemas Susi, bisa-bisanya Arjuna meledeknya. Tak tahukah bahwa dirinya tengah menahan malu setengah mati.
๐๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ถ? ๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ถ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ณ๐ข๐จ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฉ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฅ๐ข๐ณ, ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ.
๐๐ข๐ฉ๐ฉ ... ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช, ๐๐ณ? ๐๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ช๐ด๐ฉ, ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐บ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ญ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu sayang?" tanya Arjuna lembut, dirinya telah menyingkir dari atas tubuh istrinya itu. Ketika ia menyadari ada yang aneh pada Susi.
๐๐ณ, ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ต๐ถ๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ, ๐ฌ๐ข๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช.
"Wajahmu selalu memerah tiap kali aku memanggilmu sayang. Apa kau suka? Apa panggilan itu begitu berarti untukmu?" tanya Arjuna polos. Karena ia mengucapkannya tulus dari hati, tanpa ada niat untuk merayu. Arjuna terlalu memuja istrinya itu, hingga panggilan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
__ADS_1
"Ehm ... apa perlu kau tanyakan lagi." Susi semakin menundukkan wajahnya. Meski ia tak bisa lagi menutupi wajahnya yang bagai kepiting rebus. Sepertinya, kedua pipinya kesemutan.
"Mau sampai kapan begini, apa kau tidak lapar?" Arjuna menarik dagu lancip itu, hingga sang empunya mendongak.
"Ti-dak ...," ketusnya.
Kruuuukk ....
"Itu bunyi apa?" ledek Arjuna dengan menahan senyumnya.
" Hee ...,"
๐๐ข๐ข๐ข ... ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ซ๐ข๐ณ ... ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข.
"Ayuk makan, apa perlu ku gendong?"
"Tidak, aku hanya mau pake baju dulu." Setelah mengatakan itu Susi pun ngacir secepatnya ke kamar mandi, dengan tubuh yang masih bergulung selimut.
"Astaga, My Queen. Kalau jatuh bagaimana!" teriak Arjuna gemas.
๐พAih, lutuna yang malu-malu meong, miaawww ...!
Penasaran gak sih gais, kenapa Susi bisa semalu itu?
Emang dia ngapain Arjuna sih?
Tungguin yang hareudang tar malem yak bis taraweh๐
Bersambung dulu ....>>>>
__ADS_1