Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kelakuan minus, Pak Jamban.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


*****


"Benarkah dia sehebat itu?"


"Tidak mungkin karirnya selancar ini, pasti ada seseorang di balik semua kemudahan yang ia dapatkan," ucap seorang pria paruh baya dengan rambut sebagian putih dan mata sipit, jangan lupakan badannya yang besar.


"Apa bapak tau, siapa kira-kira orang dalamnya?" tanya Siska. Ternyata ia belum puas juga, justru kali ini ia mencari sekutu.


"Aku mencurigai seseorang memang, dan ia cukup berpengaruh. Karena itu, kita harus berhati-hati dan main cantik," tebaknya dengan seringai menyebalkan.


"Sebelumnya itu, keuntungan apa yang ku dapat dari mu?" tanya pria itu yang pada nickname di kausnya tertulis sepenggal nama yang tak asing.


Harpic Go Cheng.


Kedua mata sipitnya memindai dari atas hingga bawah pada wanita yang cukup cantik di hadapannya ini.


(Lumayan nih bisa jadi selimut gratis) isi otak ngeres Harpic mode on. Ia akan memanfaatkan situasi yang akan menguntungkannya ini.


(Si tua bangka ini pasti menginginkan tubuhku, sebagai bayarannya, Suek!) kesal Siska terpaksa ia memasang senyum menggodanya.


(Demi kelancaran misi menyingkirkan janda cantik sok pintar. Aku akan melakukan apa pun.)

__ADS_1


(Cih, apa aku barusan menyebutnya cantik? Ergh!)


Siska hanya bisa menahan kesalnya dalam hati.


"Apa yang Bapak inginkan dari saya, akan saya berikan. Asalkan Bapak membantu menyingkirkan Susi dari kelompok ini," ucap Siska dengan kilat kebencian yang terpancar dari kedua mata nya.


"Aku ingin tubuh mu yang sepertinya seksi kalau tidak mengenakan apa pun." Harpic mendekat dengan tatapan liar.


"Bisa di buktikan." Siska mulai membuka kancing kaus atasannya satu persatu, hingga nampak belahan dari bukit kembar miliknya yang putih dan mulus.


"Jangan di sini," tahan Harpic karena Siska ingin mengeluarkan isi buahnya.


"Saya cuma mau ngasih DP kok, setelah urusan kita selesai baru full," bisik nya dengan sedikit desah seksi. Membuat bulu kuduk, bulu ketiak hingga bulu buntut Harpic merinding di buatnya.


(Susi, lihat saja nanti. Apa kau alami akan sepadan dengan apa yang aku alami sekarang.)


(Jika bukan karena ambisi, aku tidak akan sudi di sentuh si tua bangka ini. Oh, bibirku yang malang.) jerit hati Siska di tengah pertautan bibir mereka.


*****


"Cepat bawa dan masukkan barang-barang ini ke mobil van!" titah Harpic yang terjun langsung mengawasi para sales.


"Tapi Pak, bukankah saya hari ini menemui calon klien kita di," ucapan Susi terpotong dengan teriakan si kepala supervisor tambun itu.

__ADS_1


"Di sini yang anak buah siapa? Kamu atau saya?" hardiknya membuat beberapa sales bekerja lebih cepat. Memindahkan produk yang akan mereka pasarkan secara door to door.


" Kenapa Kak Susi jadi sales-girl lagi?" bisik Rapika pada Yupi.


"Entahlah beb." Yupi hanya menaikkan kedua bahunya tanda tak mengerti.


"Maaf, Pak hanya saja klien kita menunggu jam sembilan hari ini." ucap Susi mencoba menjelaskan.


" Itu nanti urusanku, sekarang kau ikut kelompok tiga. Cepat sana!" titah Harpic mengirim Susi untuk terjun ke perkampungan padat penduduk.


"Hah! Kelompok tiga kan sasarannya orang kampung dan produk yang di jual sebangsa wajan anti gosong, pemanggang tanpa asap, juga mixer tanpa suara berisik," bisik Yupi pada Rapika, kali ini diikuti kedua matanya yang membola.


"Apa-apaan tuh pak ******! Seenaknya aja dia, Kak Susi kan anak lama. Kenapa di lempar ke tempat begituan," geram Rapika, ia bahkan terlihat menggulung rambutnya asal ke atas.


"Ish, kenapa rambutmu berantakan. Benerin lagi kayak tadi, kita kan mau masuk komplek elit," ucap Yupi mengingatkan kawannya yang sedang menahan amarah itu.


"Tapi Pak," tolak Susi tertahan lengkingan berikutnya.


"Kerjakan saja! Kau pikir dirimu sudah hebat karena naik mobil dan bawa laptop? Hah!"


(Bagus pembersih kakus ku. Tak sia-sia aku luluran dan mandi kembang semalam, demi menghalus jejak ludah tua bangka sepertimu. Ternyata, kau bisa diandalkan.) Siska tengah tertawa jahat di dalam hatinya.


"Untung saja, Pak kepala cabang tengah ke luar kota. Aku akan mengirim orang lain saja untuk menggantikan si janda cantik ini. Seandainya kau tidak jual mahal, mungkin aku tidak akan sekejam ini padamu." gumam Harpic, sambil mengasihani sosok malang itu.

__ADS_1


Bersambung>>>>>


__ADS_2