
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Masih berani bicara!" Arjuna, mendaratkan lututnya pada alat tempur Domino, hingga terdengar seperti suara telor yang pecah.
Kedua mata tajam itu berair, merasakan ngilu sekaligus susah bernapas. Teriakannya tak dapat keluar, karena Arjuna telah menutup akses dengan menekan pita suara Domino.
Pintu kamar yang di kunci membuat kegaduhan mereka tak terdengar. Karena kamar itu kedap suara, maka Arjuna dengan leluasa menghajar Domino yang bukanlah tandingannya. Belum lagi, Domino sudah setengah mabuk. Membuat, Arjuna dengan mudah mematahkan setiap jurus serangannya.
"Kau, bahkan hampir menghabisi anak buah ku!"
"Kau, sudah melewati batas mu orang tua! Aku akan menghentikan semuanya hari ini." Arjuna mengendurkan cengkeraman pada leher Domino, hingga tubuh itu ke lantai.
Ia tak ingin mengotori tangannya dengan menghabisi lawan yang sudah lemas tak berdaya.
Sementara itu di luar area villa, terdengar suara gaduh.
Anak buah Domino kembali bersitegang dengan kubu Arjuna. Pasukan kiriman Erik membawa senjata yang lengkap.
Perang tembakan kembali terjadi dengan jumlah pasukan yang lebih banyak pada kubu Arjuna.
Senjata laras panjang yang mereka gunakan mampu menandingi senjata pasukan klan Durex.
Berbagai jebakan juga mampu mereka tangkis. Karena klan Toyobo menurunkan pakar di bidang tersebut.
Red yang notabene adalah anak buah Arjuna berkepala pelontos, dengan percaya diri merangsek ke samping villa. Pria yang mengenakan rompi tanpa lengan itu, melempar sebuah benda yang mirip buah kopi, tapi berwarna hijau tua.
(Bagi yang tau itu senjata apa, bisa jawab di kolom komeng)
Lalu ...,
BOOMM!!
DUARR!!
Bangunan samping villa pun meledak, menimbulkan getaran yang cukup besar. Selain membuat bangunan rusak, ledakan itu pun mampu membuat belasan anak buah Domino terkapar tak berdaya.
Better langsung maju, melewati pasukan klan Durex yang telah tak berdaya. Merampas senjata mereka, meski harus dengan melangkahi raga tak bernyawa itu.
Dorr. Dorr. Dorr. Dorr!!
__ADS_1
Better menembaki musuh yang baru saja keluar dari bangunan lain.
Red!"
"Cari, tuan Arjuna. Kemungkinan di lantai atas bangunan ini. Cepat!" Perintah pria berkuncir itu, yang kemudian diangguki oleh si pria botak.
Red pun melesat cepat, menaiki undakan tangga yang memutar.
Kembali kekamar, dimana dua pria beda generasi tengah mengambil napas, menjeda sebentar duel antar sesama pria perkasa.
๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข!
๐๐ฆ๐ณ๐จ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ด๐ถ๐ญ ๐๐ช๐ข-๐ฌ๐ถ!
Domino dengan susah payah berdiri, lalu menarik salah satu laci pada nakas.
Takk!
Bunyi senjata di kokang, membuat Arjuna seketika menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu.
Jemari Domino telah siap di depan pelatuk, tinggal menekannya saja.
๐๐ข๐ด๐ข๐ณ ๐ฌ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ช๐ฌ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ. ๐๐ช๐ข๐ญ!
Arjuna, diam tak bergeming.
"Sungguh pengecut!"
" Meskipun aku tiada, kau akan menjadi pecundang selamanya. Bisanya hanya merebut milik orang lain, bukankah itu menunjukkan bahwa kau pecundang ... lemah ... dan tak berguna!" Arjuna menoleh sedikit, hingga ia dapat melihat melalui ekor matanya. Bagaimana tubuh Domino yang berdiri dengan kaki gemetar. Seandainya pria itu menembak, kemungkinan dapat membuatnya cacat seumur hidup. Setidaknya, ia takkan kehilangan nyawa.
Karena itu, Arjuna terus menyerang sisi mental dari seorang ambisius tua, Domino.
"Keturunan Dirgantara tak pantas bahagia!"
"Kau akan kehilangan pengantin mu sama sepertiku!"
"Aku pernah menghabisi calon kakak ipar mu, bukan hal yang sulit bagiku untuk melakukan hal yang sama kepadamu!"
"Pergilah ke alam baka, dan sampaikan salam rinduku pada Mia."
__ADS_1
Tekk!!
๐๐ข๐ค๐ฆ๐ต.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ!
๐๐ช๐ข๐ญ!
Tak! Buagh!
Klontang!!
"Jangan sebut nama kakakku dengan mulut kotormu!"
Senjata api itu terlepas dari genggaman Domino, hingga terpental jauh. Ketika sapuan dari tendangan Arjuna mendarat dengan telak.
Hingga tendangan yang kedua membuat pria itu benar-benar tersungkur.
Arjuna mengangkat sebuah kursi ke atas kepalanya. Akan tetapi, ia ingat pesan dari Susi. Bahwa, janganlah menumpahkan darah manusia jika keadaannya tidak mengancam nyawamu.
Dirinya hendak menurunkan kursi itu kembali ketika seringai dari Domino terarah padanya.
๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฉ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ.
๐๐ข๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข, ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ด๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ!
Domino pun segera berbalik setelah meraih senjata api yang tadi terpental, yang ternyata mendarat di kolong tempat tidurnya.
Mata Arjuna terbelalak melihat benda itu kembali mengarah padanya.
Apakah keberuntungan kedua itu ada?
Akankah ia selamat kali ini?
๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ... ๐๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ.
Doorrr!!!
Bersambung>>>>
__ADS_1