Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pernikahan Van–Be ( Vanish–Better )


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


Siapin amplop gais! Bawa kado kek!


Jangan lupa dandan biar cetar membahana ...💃💃


Kita otewe kondangan ... cuss!


👰🤵


💗💗💗💗💗


"Kamu tuh ya, kok bisa nyangkanya yang mau menikahi kamu adalah Tuan Shim?" heran Kelly, ia memandangi sang putri yang sedang di dandani oleh penata rias. Acara dadakan, maka yang di panggil juga penata rias yang biasa buka salon di ruko depan pasar.


"Ya gimana, Emak sama ayah gak ada yang ngejelasin ke Ninis. Kata-kata kalian selalu ambigu. Wajar 'kan, kalo aku salah sangka?" dalih Vanish.


"Om Shim juga, cuma senyum aja. Gak ada tuh bilang, kalo dia itu calon mertua Ninis." Tambahnya lagi.


"Iya, maafin Emak ya. Untung aja, kalian berdua bisa di temukan. Kalo enggak, bisa-bisa kawin lari deh." Kelly menghela napas lega.


"Gak juga sih, Mak. Ninis juga gak akan mau kalo di ajak kawin lari." Gadis itu tersenyum, sembari menatap pantulan dirinya di cermin. MUA kini tengah memasang hiasan di atas kepalanya.


"Kok gak mau, bukannya kamu cinta banget sama dia?" tanya Kelly heran, atas jawaban dari putrinya.


"Ya gak mau lah, Mak. Lari kan capek. Kenapa gak naik motor, mobil atau pesawat sekalian!" selorohnya, membuat sang penata rias tak tahan untuk terkekeh.


"Dih, kamu tuh ya! Emak serius kamunya malah bercanda." Kelly, pun menghampiri Vanish lalu membantunya merapikan bawahan daro gaun pengantin tersebut. Untung saja, mereka ketemu gaun pengantin yang pas dan cocok buat Vanish. Bagaimana tidak, pas buka toko, salah satu butik terbaik di daerah itu langsung mendapat orderan dadakan.


Acara penggerebekan semalam, membuat keduanya langsung di daulat untuk menikah siang ini juga. Sebelum keberangkatan keduanya kembali ke kota besar.


Bingung, kok bisa nikah dadakan?


Ngurus ini-ono kucrutnya gimana?


Mana bisa secepat itu?


Jawabannya hanya satu, yaitu ... Uang. Ya, benda inilah yang membuat urusan apapun semudah menjentikkan jari.


Roma mengerahkan seluruh kenalannya, dari mulai aparat desa hingga KUA setempat. Sementara itu, Shim yang kebagian mengeluarkan biayanya. Sungguh pasangan besan yang kompak bukan?


" Ya ampun, anak Emak. Cakep bener dah ah!" puji, Kelly. Ketika melihat putrinya yang tak pernah dandan, kini tiba-tiba full make up. Membuat pangling siapapun yang mengenalnya.

__ADS_1


"Iya ya, Mak. Ini beneran Ninis kan ya?" gadis itu heran dengan pantulan dirinya yang ia lihat di cermin.


"Iya, dong. Nurunin siapa dulu!" pamer Kelly.


"Ih, Emak narsis banget." Keduanya pun lantas tertawa. Lalu Kelly, memegang kedua bahu putrinya itu. Matanya menatap lamat wajah cantik putri pertamanya itu.


"Bagaimana pun cara dan jalannya, ini semua terjadi karena memang untuk mempersatukan cinta kalian yang teramat dalam. Berbahagialah." Kelly, berpesan kepada putri pertamanya itu. Ia tak menyangka, di usianya yang terbilang masih dalam usia produktif. Tapi sudah akan memiliki menantu.


"Kakak! Lihat deh, aku cantik gak?" Kiss yang baru saja masuk kamar, menghampiri kakak perempuan dan ibunya itu. Kemudian, ia bergerak berputar sambil menunjukkan gaunnya yang indah.


" Kamu cantik banget Kiss, kayak putri Nirmala temennya Okky," puji Vanish, kepada adik perempuan satu-satunya itu.


"Apalagi, Kak Ninis. Kayak princess yang turun dari kayangan. Pasti, nanti bang Better terpesona pas liat Kakak," sanjung Kiss.


" Yuk, Kak. Kita ke bawah, kata ayah udah di tungguin. Bang Better sama keluarganya juga 'kan udah dateng." Ujar Kiss.


"Ih, kamu tuh. Kenapa gak bilang dari tadi. Malah asik ngomongin gaun aja." Emak hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan ekspresi gemas. Putri yang satu ini memang benar-benar.


Acara sakral pengesahan dua insan pun selesai. Better yang sejak melihat Vanish pertama kali keluar dari kamar, begitu kagum. Kecantikan seorang gadis yang sekarang telah resmi menjadi istrinya itu memang sangat alami.


Ia terpukau, karena sudah terbiasa melihat Vanish yang sederhana. Kini, gadis yang sebentar lagi gak akan gadis lagi itu, terlihat begitu berkilau, anggun juga elegan. Dengan garis wajah yang lebih dewasa dari aslinya.


"Jangan ngeliatin terus, Ninis jadi grogi," ucap Vanish yang sejak tadi. Wajahnya terasa sangat kaku. Mungkin, karena sejak tadi ia memaksakan senyumnya tertarik ke atas.


" Kalo dipandang terus nanti cantiknya abis, lho." goda Vanish semakin membuat rona wajah Better memerah.


"Emang, bisa gitu ya? terus, harusnya gimana?" tanya Better mencoba membalas godaan Vanish.


"Di rasain dong, tapi nanti malem aja jangan sekarang," bisik Vanish. Mendapat tantangan seperti itu, membuat Better seketika meremang. Pikirannya sudah ngebolang kemana-mana. Apalagi, ia sempat mencicipi keindahan tubuh Vanish meskipun hanya sebatas bagian atasnya saja.


𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘨𝘰𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘭𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘨𝘳𝘦𝘣𝘦𝘬. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘨𝘢.


"Suami, ada bagusnya sih kamu nyulik aku. Kita, jadi langsung dinikahin." Celetuk Vanish.


"Iya, aku sangat bersyukur karena aku begitu beruntung. Tidak ku sangka permintaanku, akan terwujud begitu cepat." Better mengulurkan tangannya, mengambil tangan Vanish dan menggenggamnya.


"Itu, kak Susi!" pekik Vanish langsung Berdiri.


"Mereka datang." Better, terlihat menarik kedua sudut bibirnya bersamaan.


"Kakak!" Vanish menghampiri Susi yang sedang bicara dengan ayah dan ibunya.

__ADS_1


"Hei, pengantin!"


"Wah, kau cantik sekali! Ya ampun, aku pangling!" puji Susi setelah ia melepas pelukan mereka.


"Terimakasih, Tuan dan Nyonya." Better menunduk dalam.


"Selamat untuk kalian berdua. Kau sudah mengalahkan tantangan dari ku. Kita akan mengurusnya nanti ketika kau kembali ke kota.


"Terima kasih banyak, Tuan." Vanish dan Better mengucap bersamaan.


"Wah, kalian udah kompakan tuh. Cepet bikin dede ya. Biar jagoan ku ada temen mainnya nanti." seloroh Susi.Berusaha mencairkan suasana.


"Kami, akan memberikan Satria Junior tiga kawan bermain sekaligus." ujar Better. Membuat air muka Vanish, pucat seketika.


𝘔𝘦–𝘢𝘱𝘢! 𝘔𝘦–𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘪! 𝘖𝘩 ... 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬! 𝘐𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯. 𝘙𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘱𝘢𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢.


Vanish tiba-tiba terlihat gelisah, di tempatnya berdiri.


"Nis, siap-siap ya nanti malam," bisik Susi di telinga Vanish. Di mana kata-katanya, itu sukses membuat Vanish semakin gemetar. Keringat dingin sontak membasahi keningnya, padahal suhu ruangan itu sangatlah sejuk.


"Pelan-pelan saja, kau juga harus sabar." Arjuna merangkul, seraya menepuk bahu Better. Di bisiki kata-kata ambigu seperti itu membuat kening pengantin pria ini berkerut. Kedua alisnya pun menukik tajam.


𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘈𝘳𝘫𝘶𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘱𝘢? 𝘚𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘛𝘢𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘦𝘣𝘰𝘭𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘸𝘢𝘯𝘨. 𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢, 𝘕𝘺𝘰𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 ...


Better tidak meneruskan spekulasinya, ia justru teringat dengan perbuatannya kepada Rindy, kekasihnya yang telah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.


Ialah yang merenggut mahkota gadis itu, bahkan mereka melakukan perbuatan haram itu beberapa kali. Karena itulah, semenjak Rindy pergi. Better, menjadi trauma untuk berdekatan dengan wanita, ia merasa bahwa dirinya adalah perusak.


𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭, 𝘙𝘪𝘯𝘥𝘺. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘝𝘢𝘯𝘪𝘴𝘩. 𝘈𝘬𝘶, 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘱𝘦𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘮𝘦𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪.


Better menoleh ke arah istri kecilnya itu, tanpa ia sadari lengkungan sabit telah tercipta di wajah tampannya.


"Hei! Kau pasti lagi mikir mesum kan," celetuk Arjuna. Membuat Better, terkesiap.


" Mesum dengan pasangan yang sah, bukankah itu tidak masalah, Tuan?" tanya Better, yang akhirnya membuat mereka tertawa bersama.


"Kau, tahu? Suamimu sejak tadi mencuri-curi pandang. Dia pasti sedang memikirkan strategi untuk penyerangan nanti malam," ucap Susi dengan mimik wajah seakan menakuti.


"Kak, kau jangan menakuti ku. Kenapa, di lihat dari cara bicaramu, semua itu seakan menyeramkan." Vanish meremas ujung gaunnya, ia benar-benar termakan omong kosong yang di ciptakan oleh Susi.


Sementara itu, Susi justru terkekeh melihat wajah ketakutan dari Vanish.

__ADS_1


🐾Sungguh, Bumil yang jail.😌


Bersambung>>>>


__ADS_2