Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Abang, adek..., ampun.


__ADS_3

____****____


"Nih,Bang. Laporan kerja saya, keren kan? Kurang dari 48 jam semua rebes." Walls menyerahkan berkas penyelidikannya yang telah ia susun di dalam amplop.


"CEO-nya lagi keluar kota kalau menurut penuturan informan di kantor itu. Tapi, menurut data dari informan yang lain, dia sedang mendekam di dalam apartemennya." tutur Walls, sambil oncang-oncang kaki di sofa.


Arjuna membuka berkas itu, melihat beberapa foto," Hebat juga janda bodoh itu," gumamnya.


"Dia baru saja mengalami karma kecil, untung saja benda kebanggaannya itu tidak patah." Arjuna melempar berkas itu, ia berjalan menuju jendela.


"Sepertinya Abang punya masalah sama orang ini? Dendam pribadi kayaknya?" korek Walls, kemudian mendekati sepupunya itu.


"Ya kau benar. Menghancurkannya sedikit demi sedikit, mengalahkan apa yang pernah ia kalahkan dari ku. Mengambil sesuatu darinya seperti dulu ia mengambil sesuatu dari ku." Arjuna berkata dengan kilat amarah di matanya.


"Wow, ternyata musuh bebuyutan." Walls mencibir, alhasil sebuah jitakan mendarat keras di kepalanya.


PLETAKK!!


"Bang! Lu kekerasan mulu ama adek sendiri!" protes Walls sambil meringis.


"Keluar sana! Lakukan pekerjaan berguna! Sekalian panggil janda bodoh itu, ck. Maksud ku sekretaris itu, suruh dia masuk kemari." titah Arjuna, ia sedikit mengendurkan dasinya.


"Emang dia janda Bang?"


"Pengalaman dong? Boleh nih, cantik juga dan lumayan seksi kayaknya." Walls, menaik-turunkan alisnya dengan cengiran menyebalkan.


" Aku akan segera menarik beasiswa sekaligus visa mu!" Arjuna lantas berjalan menuju meja kerjanya. Membuka laptopnya.


"Eh ..., eh, jangan Bang! Iya deh iya, adek janji jadi anak baik." Walls kembali menutup laptop itu.


"Kalau cuma ngajak makan siang boleh kan?" tanyanya dengan cengiran menyebalkan itu lagi.


Seettt!!

__ADS_1


"Akkk!" Pemuda berambut pirang itu memegangi telinganya yang di tarik ke bawah, hingga kepalanya miring.


"Berani menggodanya, apalagi menyentuhnya. Jangan harap kau bisa menanamkan roket mu lagi, ke dasar lembah wanita koleksi mu," ancam Arjuna dengan nada pelan namun penuh penekanan.


" Iya, Bang. Ampun!"


___***___


Waktu jam pulang kantor hampir tiba.


Sejak ultimatum dari Arjuna, Joy tak lagi terlalu mendekati Susi.


Ia bertemu sekedar saja, sesuai urusan kerja. Ia faham, bahwa wanita memiliki arti khusus hanya saja tuannya itu belum menyadarinya.


" Susi!" panggil Arjuna sore itu.


Janda muda yang semakin bersinar itu seketika menoleh, tangannya yang tengah merapikan barang-barang di atas meja, tak sengaja menyenggol ponsel hingga jatuh.


"ASTAGA!" Susi dan Arjuna berusaha menggapai ponsel itu agar tidak membentur lantai marmer yang keras, namun terlambat.


DUG!!


"Awss!" desis Susi memegangi keningnya.


"Ugh! Kau ini!" Arjuna lantas berdiri sambil mengusap-usap jidatnya.


"Huaaa...!" Susi berteriak.


"Ponsel ku..., hiks." Matanya nanar menatap layar ponselnya yang retak .


"Benda pun kau tangisi," cibir Arjuna.


Susi mendongak kemudian berdiri, dengan berani ia menatap wajah Arjuna dengan matanya yang mendung," semua ini karena anda, Tuan. Kenapa suka sekali datang tiba-tiba dan mengagetkan orang!"

__ADS_1


"Sekarang lihatlah. Anda telah merusak ponsel yang ku beli dengan susah payah!" Susi mencoba menyalakannya, berkali-kali namun gagal.


"Demi ponsel, kau membentak ku!" Arjuna bersedekap, menatap tajam wanita yang tengah meratapi benda pipih 6 inchi tersebut.


"Asal Tuan tau, aku bisa membeli ponsel itu setelah berhasil menjual sekian puluh produk dari perusahaan mu!" Susi tanpa sadar terus berteriak dan mendelik pada atasannya itu.


Membuat para pekerja yang masih belum pulang, menatap mereka berdua aneh dan bingung.


"Berani banget si tu sekretaris baru."


" Iya, dia bentak-bentak Bos kita yang killer itu, hiii...."


"Besok pasti di pecat."


"Yah, gak bisa cuci mata lagi dong gua."


Beberapa pekerja pria dan wanita mendapat bahan ghibah gratis sore itu.


"Ikut aku!" Arjuna menarik tangan Susi sampai mereka masuk ke dalam lift.


"Kyaaa! Jangan-jangan mereka pacaran, terus yang tadi itu lagi berantem."


"Sejak kapan pak Bos suka sama cewek?" Asumsi berbeda mulai mencuat dan bakal menjadi trending topik di kalangan mereka besok.


" Lepas deh!"


"Ngapain narik-narik?" Susi tak dapat menahan emosinya dia sangat kesal. Kini mereka telah berada di dalam kotak besi yang akan membawa mereka turun ke lantai bawah.


Nanti malam pasti gagal nonton lanjutan dracin kesukaannya. Susi masih terus saja mengerucutkan bibirnya.


Arjuna tanpa sadar melengkungkan bibirnya ke atas, baginya reaksi Susi macam merajuknya seorang anak kecil. Terlihat lucu dan menggemaskan.


" Ikut aku, kita beli ponsel baru."

__ADS_1


"Hah. Apa?!"


Bersambung


__ADS_2