
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Toktoktok!
"Masuk!"
"Maaf, Tuan. Apa ada yang di butuhkan?" Seorang wanita dengan blues biru muda yang di balut blazer berwarna hitam, senada dengan rok remple di atas lutut. Melangkah dengan begitu anggun memasuki ruangan ruangan.
Rambut coklat sebahunya di buat curly di bagian ujungnya. Meski Arjuna sudah melihat nya tadi lagi, namun baru kali ini ia memperhatikan sekretarisnya itu.
Hingga ia terkesima untuk beberapa saat. Buru-buru Arjuna menepis perasaan aneh di hatinya.
"Duduklah," titahnya pada wanita cantik berstatus janda itu.
"Aku menugaskan kau dan Joy untuk menemui pemilik perusahaan properti, Pradipta Residen," Arjuna menerangkan sembari memperhatikan wanita di depannya dengan seksama.
" Kenapa harus saya Tuan? Kenapa tidak pak Joy saja?" tampik Susi, karena ia tahu siapa yang akan ia temui nanti.
" Karena kau karyawan ku, kau lupa?" sindir Arjuna dengan alis yang dinaikan ke atas.
__ADS_1
" Bukan begitu, Tuan. Tapi...?" Susi ragu, akankah hatinya akan kuat nanti.
Arjuna memajukan tubuhnya, menyatukan kedua tangannya kemudian menatap intens pada Susi," Apa kau tidak ingin balas dendam? Pada orang yang telah merendahkan bahkan menghina mu?" Arjuna menarik kembali dirinya kemudian tersenyum penuh arti.
Susi terkesiap akan pertanyaan Arjuna, seketika kebencian di hatinya akan perlakuan Seno tempo hari, kembali berkobar.
"A-aku. Apa yang telah ku miliki untuk di banggakan? Bahkan, aku saja masih menumpang tinggal dengan anda. Aku masih bukan apa-apa di banding dengan wanita itu." Susi berkata dengan wajah datar, kemudian ia meringis menertawakan dirinya sendiri.
"Aku pasti sudah gila bila harus menemuinya." Ia menatap tajam pada bos di hadapannya itu.
"Kau hanya perlu melakukan beberapa treatment dan pelatihan dari ku. Sebelum menemui pria komodo itu."
"Perusahaan kita akan menjadi pahlawan untuk mereka, dengan begitu dia berada di bawah kekuasaan ku." Arjuna berkata dengan senyum sinis yang seketika membuat tengkuk merinding.
"Apa maksud anda dengan perusahaan kita?" tanya Susi bingung, menampilkan wajah polosnya.
Arjuna menunduk hingga wajahnya berada cukup dekat dengan wanita yang duduk di hadapannya itu. Ia memegang dagu yang lancip itu dengan lembut.
"Aku memberi tawaran kerja sama untukmu, menikahlah dengan ku maka...,"
__ADS_1
"APA!!" Susi sontak berdiri dan menepis tangan Arjuna.
"Apa anda hendak mengambil keuntungan dari ku!" pekiknya kaget, untung saja ruangan itu kedap suara.
"Kau belum mendengar penjelasan ku sampai akhir tapi sudah berani menuduhku sembarangan!" Arjuna menegakkan tubuhnya wajahnya menekuk kesal.
"La-lalu bagaimana maksud anda sebenarnya?" Susi penasaran juga, ia tidak ingin tergesa-gesa menyimpulkan.
"Pernikahan ini berada di atas perjanjian, dengan keuntungan yang akan kita raih satu sama lain. Kau pernah dengar pernikahan kontrak?" Arjuna kembali menjelaskan secara gamblang akan rencananya.
Susi terdiam mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir sensual pria tampan nan gagah itu.
Bibir yang sudah beberapa kali ia rasakan kehangatannya. Tiba-tiba mengajaknya melakukan kerja sama diatas sebuah pernikahan.
(Apa-apaan ini, mana ada pernikahan semacam itu. Apa otaknya habis kesetrum?)
" Aku tidak pernah mendengar lelucon seperti itu, yang ku tau pernikahan itu adalah hal yang sakral. Sebuah janji yang kau ikrar kan di hadapan Tuhan. Apa kau berniat membohongi Tuhanmu?" Susi, bagaimanapun ia menyesali kehancuran rumah tangganya. Ia benci perceraian, dan kini lelaki di hadapannya mengajaknya untuk mempermainkan itu.
Gila, sungguh tidak waras.
__ADS_1
Arjuna memijat pangkal hidungnya, ternyata ini tak semudah perkiraannya. Wanita di hadapannya ini ternyata begitu mengagungkan pernikahan.