
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
****
Terlihat mobil pajero hitam metalik itu bergoyang halus. Karena di dalamnya ada sepasang mahluk tak bermoral yang bercinta tak tau tempat.
"Pelan sedikit sayang...,"
"Kau menyakitiku..., ahh ..., ahh...!" pekik Jelita, karena Seno menghentak begitu ganas. Posisi mereka sungguh ekstrim, karena Seno yang tak ingin berhadapan. Agar ia bebas membayangkan wajah wanita yang baru saja di temui nya.
"Diam lah!"
"Aku belum puas, sekali lagi." Seno terus menghujam pusaka nya, dan membenamkan nya semakin dalam.
"Kita bisa melanjutkannya di hotel sayang, jangan begini, sempit, ughh...!" keluh Jelita membujuk Seno, namun pria itu seakan tuli. Karena bila ia sedang ingin tak boleh di tolak di mana pun jadilah.
"Ehhmmm ..., Su ..., si ..., arrghh...!" Seno memekik ketika lahar panasnya menyembur untuk yang kedua kalinya.
Perlahan ia mencabut pusaka nya, membersihkannya dengan tissue, lalu kembali mengenakan celana panjangnya.
"Rapikan diri mu," ucap Seno datar, melihat Jelita yang sudah acak kadul.
Seno kembali ke depan kemudi kemudian menyalakan mesin mobil.
(Apa-apaan dia! Memperlakukanku dengan kasar dan seenaknya, menyebut nama wanita mandul sialan itu, dan beraninya kau tidak menatap ketika berbicara denganku!) Jelita hanya bisa menahan geram dalam hatinya. Jari-jari lentik itu mencengkeram ujung dress mahalnya.
Ekor matanya melirik Seno yang tengah mengetik sesuatu pada ponselnya, padahal mesin mobil sudah menyala sejak tadi.
📩 Kami menemukannya tuan.
📩Siap laksanakan!
*****
__ADS_1
Para wanita muda itu, tak ada satupun yang berani membahas kejadian tadi. Meskipun aksi shoping mereka gagal lantaran bertemu dengan nyi pelet.
Mereka faham bahwa suasana hati Susi sedang buruk saat ini. Siapa yang tak sakit hati, bila bertemu velakor kemudian di permalukan di depan umum.
" Kita makan bakso rusuk kuy, gais!" ajak Vanish, berusaha mengalihkan pikiran Susi yang sejak tadi hanya melamun sambil memandang ke luar mobil.
"Setuju banget aku, lapar pulak perutku ini, sampai cacing-cacing pita dan tambang sudah berdemo ria ini," sahut Rapika sedikit berkelakar.
"Aku juga setuju, Mbak Susi juga kan ya? Makan bakso rusuk meskipun kita belom jadi tulang rusuknya siapa-siapa," seloroh Yupi dengan gaya polosnya. Hingga Vanish dan Rapika pun tertawa.
" Terima kasih, kalian sudah berniat menghiburku. Aku memang menyedihkan," lirih Susi, dengan wajah sedikit sayu.
"Maaf, jika rencana kita berantakan," tambahnya lagi.
" Eh ..., eh..., itu tidak masalah Kak! Masih banyak lain hari," tampik Rapika, memasang senyum kikuk.
"Iya, Kak. Selow ae ma kita mah," ucap Vanish merangkul lengan Susi kemudian menyenderkan kepalanya ke bahu.
"Itulah gunanya seorang sahabat Mbak, selalu memberi dukungan dan menghibur di kala salah satu gundah gulana," jelas Yupi dengan logat khas jawanya.
Susi menyusut air matanya yang tanpa ijin seenaknya saja membasahi pipi mulus itu.
"Kang baso nya di mana? Kelewatan gak?" tanya Susi membuat kawan-kawannya itu serentak berteriak pada sang sopir.
"Stooppp!"
"Pak kita kelewatan, puter balik yak!" teriak Vanish.
Susi hanya bisa geleng kepala sambil senyum melihat kelakuan kawan-kawannya itu.
Beberapa hari kemudian.
Susi yang berjalan sendirian sambil menggendong tas laptop dan juga menenteng beberapa katalog.
__ADS_1
Diikuti sebuah mobil berwarna hitam metalik yang ia kenal. Mobil mewah yang harga pajaknya saja mencapai sepuluh juta rupiah.
Bisa kebayang kan harga mobilnya, otor gak akan membahas tipe dan harga mobil, karena otor sales sabun.
"Gak mungkin kan kalau yang mengikuti ku adalah? Ah, kenapa aku harus selalu memikirkan dia!" guma Susi sambil terus melangkah. Sesekali ia akan menengok siapa tau ada taksi yang lewat.
"Kalau saja power bank ku gak ketinggalan," keluh Susi sambil mempercepat langkahnya agar ia segera sampai di halte. Mungkin, ia akan naik bus saja. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Karena mobil sport itu berhenti tepat di depannya.
Kemudian seseorang membuka pintunya dan keluar.
"Mas Seno!" pekiknya pelan. Kepalanya menengok ke arah belakang Seno, seakan menunggu penampakan seseorang.
"Kau mencari siapa? tanya Seno, karena di lihatnya Susi seperti mencari seseorang di belakang tubuhnya.
Susi segera menegakkan tubuh dan juga kepalanya, kali ini tidak boleh ada lagi penghinaan terhadap dirinya. Oleh siapapun itu.
" Kenapa menghalangi ku! Apa mau mu?" sergah Susi berani, padahal hatinya seakan mau meledak tatkala melihat senyum itu.
"Wow ... Wow ... Wow...!"
"Kenapa kucing penurut ku sekarang segalak singa, hem?" tanya Seno lembut. Tersenyum manis.
(Tidak, jangan tersenyum padaku. Ku mohon!)
"Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar sambil makan, lagi pula ini sudah lewat senja. Anggap saja makan malam permohonan maaf, bagaimana?" rayu Seno, berkata manis dan terus memasang senyum.
"Pergilah!" tolak Susi, melengos.
" Naik lah ke mobil, kau tahu hanya dirimu yang pernah ku bawa dengan mobil ini," bujuk Seno, kata-katanya semakin lembut.
"Kau pikir aku percaya?" Susi menatap tajam, membuat Seno terkekeh pelan.
" Aku memakai Pajero milik mami, kau puas sekarang." Seno mendekat, dan mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Maaf, semua yang kulakukan karena mami. Sepertinya, aku menyesal sejak mulai merindukanmu." Seno meraih tangan Susi dan menuntunnya menuju mobil.
Bersambung>>>>>