Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
My Sugar, Gulaku ...


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Yang mana kejadian itu adalah, titik awal ia membenci mereka berdua dengan sangat dalam.


Titik di mana ia sadar, bahwa hatinya telah salah meletakkan harapan dan mimpinya.


Titik dimana, ia mulai tak percaya akan adanya cinta yang tulus tanpa memandang status, harta dan juga rupa.


Arjuna tersenyum smirk, menertawakan dirinya.


"Tapi, kini aku telah jatuh cinta pada seorang janda kumel yang hampir loncat dari lantai 8." gumamnya, yang ternyata masih bisa di dengar oleh Joy.


Sehingga, asisten maskulin itu terkekeh pelan.


"Dimana pertemuan tahun ini akan di selenggarakan?" tanya Arjuna serius menatap Joy.


"Inilah yang membuat jantung saya hampir lepas tadi,Tuan." Joy memegangi dada serta keningnya bersamaan. Membuat Arjuna, melempar bolpoin karena sebal.


Pletuk!


"Ish ..." Joy mengusap hidung mancungnya yang terkena lemparan.


"Seriuslah!" seru Arjuna.


"Ekhm. ASEP akan di selenggarakan di salah satu perusahaan komoditi dan ekspedisi, Tuan." jelas Joy ambigu.


"Lebih detil Joy!" geram Arjuna, karena Joy malah mengajaknya bermain teka-teki silang.


" Perusahaan ekspedisi terbesar, milik Don Domino," ucap Joy jelas dan tegas. Ucapan yang sukses membuat Arjuna menegakkan tubuhnya, dan mereka berdua saling bertatapan penuh arti.


"Iblis itu bermaksud merekrut petinggi untuk menjamin keamanan status perusahaannya." gumam Arjuna.

__ADS_1


"Bagaimana, Tuan. Undangannya sudah masuk ke email saya?" tanya Joy, bahkan ia tak lepas memperhatikan gerak-gerik dan mimik wajah bosnya itu.


Berharap dapat membaca dan menduga isi pikiran dari Arjuna.


"Katakan pada Better, kita penuhi undangannya." titah Arjuna, kemudian ia langsung menekan tombol hijau untuk memanggil seseorang.


Joy, setelah mendapat perintah dari Arjuna, langsung melakukan jurus angkat kaki dan melesat secepat angin.


Tuut ... tuuut ...


"Huh! Kemana anak ini?" Monolog Arjuna, kembali menghubungi seseorang di seberang negara.


Klek.


Pemuda berwajah bule yang selalu ceria dan selalu menebar senyum itu mengangkat panggilan dengan teriakan.


"Halo Abang!" Setelah berteriak, pemuda berusia 22 tahun itu tergelak hingga merunduk.


"Menghubungiku yang sangat sibuk ini, hanya untuk mengumpat. Apa kau sedang dalam tahap galau akut?" ledek Walls, pemuda usil yang selalu menggoda abang sepupunya, Arjuna.


"Bisakah kau serius!"


"Atau ku cabut visa mu!" ancam Arjuna, karena hanya itulah senjata andalan satu-satunya. Demi dapat menghadapi kenakalan adik sepupunya itu.


" Oke ... Oke Bang!"


"Just calm down, right!" bujuk Walls masih dengan sedikit kekehan kecil.


"Aku pesankan tiket untukmu, keberangkatan besok pagi!" titah Arjuna penuh ketegasan.


"WTF ...!"

__ADS_1


"Abang, kalo nyuruh pulang selalu ...,"


Tuuuuuuut ....


Sambungan terputus.


" ... dadakan."


"Dasar perjaka tuwir!" umpat Walls pada layar ponselnya yang sudah gelap.


"Honey ... Bunny ... Sweety, whats wrong?" tanya seorang perempuan muda berambut pink, sambil mengelus rahang serta dada pemuda yang tengah geram tersebut.


"Its oke, my dear ... my sugar gulaku." Walls pun menarik tangan ramping itu hingga, tubuh setengah polos itu jatuh keatas pangkuannya.


"Ouch ..., slowly darl." Mereka pun saling berpagutan, saling menyesap untuk mereguk manisnya gelora gairah yang membara.


🍁🍁🍁🍁


"Better, ada apa?" tanya Susi pada asistennya yang nampak serius.


"Perusahaan kita mendapat undangan, dari ASEP." Better selalu menundukkan pandangannya tiap kali berbicara dengan Susi.


"Apa itu asep?"


"Maksudmu ada perusahaan yang kebakaran atau apa?" tanya Susi dengan wajah polos tak mengerti.


"Pftt!" Better buru-buru menghela napasnya, untuk meredakan geli dalam dirinya.


Untung saja bosnya itu tidak sadar akan aksinya barusan.


(Punya, bos begini amat polosnya. Jadi pengen karungin deh, terus bawa pulang. Ups! Mati aku kalau bos Ar tau.) Better membelakangi Susi lalu memukul mulutnya tiga kali.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2