Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Punya Baby S.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Jadi, Benar. Jika sahabatmu itu masuk rumah sakit?" tanya Susi pada Arjuna, seraya memasang kembali kancing pada dasternya. Arjuna sengaja membelikan banyak daster-daster lucu berbahan katun. Agar sang istri nyaman ketika menyusui, lagipula daster yang Arjuna beli bermerek semua. Dengan harga lima kali lipat dibanding harga daster yang di jajakan oleh kang kridit.


"He'em." Arjuna menjawab asal, ia masih belum puas untuk terus mendusel di pipi chubby istrinya itu.


"Kau mau menengoknya?" tanya Susi, seraya mendorong wajah suaminya itu. Padahal ia telah membantu menyalurkan hasratnya tadi, tapi pria ini masih saja tak mau jauh darinya. Mana baby S sangat nyenyak. Seakan pro dan sangat mendukung kegiatan daddy-nya.


๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜บ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜บ-๐˜ฎ๐˜ถ . ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ณ ...


"Memangnya, kau mau kalau aku tinggal sayang?" heran Arjuna, kenapa Susi menanyakan hal itu padanya.


"Tidak apa? Jika kau mau menjenguk sahabatmu, pergi saja. Jangan khawatirkan aku." Susi tersenyum, dalam hatinya ia berharap Arjuna senang karena ia memberi izin. Bukankah, ia harus menjadi seorang istri yang pengertian?


"Tak perlu, aku cukup memantau kabarnya dari sini. Asal kau tau, My Queen. Tak ada hal apapun yang dapat membuatku meninggalkan kalian berdua di rumah. Bukan karena aku tak setia kawan atau peduli dengan orang lain. Tetapi, justru karena aku tahu, bahwa kalian lebih membutuhkanku ketimbang siapapun di luar sana," ucap Arjuna seraya menunduk mendekati wajah istrinya.


"Unch, so sweet bangett!" Susi langsung menubruk tubuh tegap dan tinggi itu. Arjuna, kembali duduk dan mereka pun berpelukan erat.


"Terima kasih, karena kau selalu ada untukku. Untuk kami," ucap Susi, yang kini tengah menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Itu sudah kewajiban ku sayang, kalian adalah prioritas utamaku. Seandainya bisa, aku ingin setiap saat berada di rumah saja. Seandainya, Joy ada di sini. Mungkin, aku bisa bekerja dari rumah, dan tak perlu ke kantor setiap hari." Ucap Arjuna sembari menepuk pucuk kepala Susi. Pria itu tersenyum sangat manis dan tatapan matanya begitu hangat membekas.


Nikmat mana lagi yang mampu didustakan oleh seorang istri. Mendapat perhatian dan pengertian yang begitu besar, dan tulus. Dari seorang suami yang mendekati nilai sempurna dari fisik, material serta sosialnya.


Lelaki setia yang tak mudah tergoda meski ia mampu menjerat wanita agar takluk dengan segala kelebihan yang ia miliki. Lelaki penyayang keluarga, yang selalu bersikap lembut dan sabar menghadapi kelakuan tak stabil dari istrinya yang acap kali terpengaruh hormon.


" Kami sangat beruntung, telah memilikimu, Ar. Tetaplah seperti ini selamanya. Meski kini, tubuhku tidak seperti dulu lagi," ucap Susi, seraya menunduk.

__ADS_1


"Jangan merasa seperti itu, mau kau seperti ini atau seperti apapun nantinya. Perasaanku tidak akan pernah berubah padamu. Kau, akan selamanya menjadi ratuku." Arjuna berkata seraya menatap manik mata Susi dalam. Susi hanya bisa membalasnya dengan tatapan yang berkaca-kaca. Lalu, Arjuna meneruskan kata-katanya, seraya menangkup kedua pipi istrinya.


"Begitu pun yang ku harapkan darimu atas diriku nanti. Ketika aku semakin tua dan lemah, jangan pernah tinggalkan aku, jangan biarkan aku sendirian." Arjuna menyatukan kening mereka. Saling memejamkan mata, menyalurkan perasaan terdalam dari hati keduanya.


Susi tak mampu lagi mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya. Ia begitu terharu dan tersentuh dengan segala ketulusan suaminya. Arjuna, adalah malaikat penolong baginya. Dimana pria itu telah mengangkat derajatnya hingga sampai setinggi ini.


"Aku akan selamanya bersamamu, Ar. Dimana pun, kemanapun, di saat apapun. Kau adalah separuh napas dan jiwaku. Dimana ada kau, di sana akan ada aku. Jadi, tak ada alasan bagiku untuk jauh darimu. Aku tidak akan meninggalkanmu apapun alasannya, kecuali, jika Tuhan yang menjemput ku." Susi akhirnya membuka suaranya, setelah ia menata hatinya yang mengharu-biru.


Untung saja, bayi mereka pengertian. Satria hanya menggeliat seraya menguap kecil lalu tenang lagi. Bayi ini, di sediakan box khusus bayi yang sengaja Arjuna pesan dari luar kota. Tapi, bayi bule dengan rambut pirang serta berpipi gembul kemerahan itu, hanya betah jika tidur di kasur orang tuanya.


"Terimakasih, sayang. Kaulah My Angel, My Queen. Kesayanganku ... sampai semesta yang fana ini berganti dengan alam yang abadi. Aku akan mencari mu di kehidupan yang selanjutnya. Karena, hanya kaulah satu-satunya wanita yang aku inginkan." Arjuna menarik pinggang Susi, hingga tubuh mereka menempel erat. Susi hanya mampu membisu, kata-kata Arjuna barusan telah membiusnya. Hingga, kini ia serasa tak berpijak lagi pada lantai.


" Kenapa kamu diam saja, sayang? Apa kamu terkesima dengan keromantisan suami tampanmu ini?" goda Arjuna, seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Ck, merusak suasana. Nyebelin!" Susi pun melengos. Pandai benar pria ini mengacaukan suasana hatinya yang tengah berkembang-kembang.


"Ciee, ngambek." Ledek Arjuna lagi, membuat Susi semakin keki.


"Go away!" usirnya pada Arjuna.


"Enggak ah, soalnya kamu semakin menggemaskan jika sedang merajuk seperti ini. Tuh, liat aja bibirnya aja mancing gitu minta di cium," kelakar Arjuna yang membuat Susi makin salah tingkah macam ABG.


"Hush, sana ...berisik!" Susi pun melepaskan diri dari rangkulan Arjuna, hendak berbalik ke arah kasurnya. Tapi, baru saja selangkah, sebuah tangan kekar telah kembali merengkuh pinggangnya. Susi pun memekik kaget, karena Arjuna langsung menyesap ceruk lehernya.


"Ar, kamu kayak Vampire aja!" pekik Susi, seraya mencubit tangan Arjuna yang melingkar di perutnya, meskipun tak ayal, ia merasa berdesir atas perlakuan suaminya. Karena pekikan nya yang lumayan kencang, akhirnya baby S mengeluarkan nyanyiannya.


Oeeekk ... Oeeekk ...!

__ADS_1


"Tuh, 'kan jadi bangun. Kamu sih teriak," ucap Arjuna pelan di samping telinga Susi, seraya menggigit gemas daun telinga itu baru ia pergi menghampiri bayinya.


"Yang bikin aku teriak juga, siapa memang?" gerutu Susi, kesal. Sementara itu, Arjuna hanya menanggapi kekesalannya dengan kekehan. Kemudian, pria gagah itu menggendong sang bayi.


"My Boy, cup ... cup ... cup. Daddy di sini sayang," ucapnya sambil berusaha membujuk baby S. Arjuna menggendongnya sambil menimang-nimang. Untuk ukuran pemula, dirinya terlihat begitu lihai. Tak ada rasa takut atau ngeri seperti kebanyak para ayah baru di luar sana.


Bahkan, Arjuna bisa memandikan baby S sejak pertama kali bayi itu pulang ke mansion mereka. Itu semua karena Arjuna telah mempelajari tehniknya ketika seminar dan pelatihan yang diikuti keduanya ketika Susi hamil. Di karenakan juga, Arjuna tidak suka miliknya di sentuh oleh orang lain kecuali dengan alasan tertentu. Misalnya pemeriksaan yang berhubungan dengan kesehatan. Jika di luar itu, maka dirinya akan melakukannya sendiri.


"Kenapa masih menangis, apa kau mau menyusu lagi pada Mommy-mu?" tanya Arjuna, yang tengah menahan gemas pada bayinya.


"Sini, Ar. Sepertinya, dia haus lagi." Susi mendekati suaminya, yang tengah menciumi bayi yang sedang menangis itu.


"Kenapa kau selalu senang menggodanya. Lihatlah, wajahnya memerah karena ulah mu." ketus Susi. Suaminya ini, begitu senang bikin orang kesal dan geregetan. Barusan dirinya, sekarang pada bayinya.


"Sudahlah, Ar. Berikan dia padaku!" Susi sudah menjulurkan tangannya, tapi Arjuna malah melengos ke samping menjauhkan baby S dan Susi pun gagal menggapainya.


"Ar, berikan baby S padaku! Atau aku akan memukulmu!" Ancam Susi membuat Arjuna mendongak seketika.


"Mau dong, pake bibir kan mukulnya?" tanya Arjuna dengan wajah polos. Atau sok di polos-polosin.


"Ish, maunya." Susi pun mengambil baby S dari gendongan Arjuna. Lalu membawa bayi yang masih bersuara nyaring itu, ke atas tempat tidur. Arjuna meletakkan khusus menyusui di atas pangkuan istrinya. Setelah posisi pelekatannya sempurna barulah Susi mengeluarkan sumber makanan sang bayi.


Seketika, tangis baby S berhenti, ketika mulutnya telah menemukan pucuk kesukaannya.


"Enak ya, Daddy gak kebagian sekarang." Celetuk Arjuna, yang spontan mendapat cubitan pada pinggangnya.


"Aww ... nikmatnya, lagi dong!" Ledeknya, yang membuat Susi semakin gemas dan ingin menarik hidung mancungnya itu.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2