Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pawang Naga


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Suara ban berdecit karena dipaksa mengerem dadakan, di susul dengan suara benturan dari benda keras. Menimbulkan keterkagetan dari beberapa orang di sekitar tempat itu. Apalagi sebelum kejadian itu berlangsung, terdengar teriakan dari seorang gadis dan juga suara bariton dari seorang laki-laki dewasa.


Milna, yang menyebrang jalan sembari meneriaki Joy, sama sekali tidak menyadari jika tiba-tiba ada kendaraan beroda dua yang muncul dengan kecepatan tinggi dari arah samping. Karena biasa berada di situasi pertempuran, maka gerakan reflek sudah bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi Milna. Akan tetapi menjadi hal aneh bagi yang melihat kejadian itu secara langsung.


Bagaimana tidak, jika seorang wanita yang mengenakan dress bisa berkelit dengan gerakan yang begitu cepat dan indah. Padahal menurut pandangan awam, Milna seharusnya tertabrak dengan sangat fatal.


"Kak Milna!" Lia membekap mulutnya. Melihat bagaimana calon kakak iparnya itu berkelit dari tubrukan kendaraan yang cepat itu. Namun na'as bagi sang pengemudi ugal-ugalan itu. Pria itu nyusruk hingga mencium aspal bersama kendaraannya. Belum lagi karena Milna menggunakan tubuhnya sebagai pijakan untuk menghindar dan berkelit. Membuat pria itu terpental lumayan jauh.


"Na!" Joy segera menghampiri Milna yang berusaha berdiri kembali. Karena tadi ia mendarat dengan gaya jongkok. Karena ia sadar ada sosok lain di dalam tubuhnya. Sehingga Milna meminimalisir getaran dengan tidak menjatuhkan tubuhnya. Untung saja, tungkai kedua kakinya sangatlah kuat karena terlatih.


"Kenapa!" bentak Milna. Membuat Joy memegangi dadanya karena kaget.


๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. Batin Joy tak habis pikir.


"Apa perlu berteriak pada orang yang tengah menghawatirkan mu." Joy mengangkat tangannya yang hendak memegang bahu Milna. Ia hanya berniat membantu itu saja. Namun, setelah mendapat pelototan mata dari Milna nyali-nya ciut seketika.


"Aku suruh kau mengejar Lia, untuk memperbaiki perlakuanmu terhadapnya. Setidaknya kau minta maaf. Lalu apa yang ku lihat, kau malah membuatnya menangis!" pekik Milna tertahan. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar tempat itu. Aksinya barusan cukup membuat beberapa pasang mata hampir mencelos dari rongganya.


"Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Bagaimanapun dia adalah bocah ingusan. Dia tak berhak mengkritik ku apalagi mencampuri urusanku." Joy berkata sambil melempar pandangannya ke sembarang arah. Ia cukup sadar bahwa kata-katanya barusan sungguh melukai perasaan Lia. Itu tidak mencerminkan sikap kedewasaan sama sekali. Justru ia terlihat seumuran dengan adik remajanya itu.


"Kau tidak bisa memahami wanita Joy. Kau bahkan tidak memahami perasaan orang lain. Entah apa yang bisa ku harapkan dari pria sepertimu." Milna hendak berlalu dari hadapan Joy. Akan tetapi pria itu mencekal pergelangan tangannya.


"Beri aku kesempatan. Berikan aku waktu untuk itu. Aku akan merubah semua sifatku. Semua itu tidak bisa instan. Kau harus membimbingku dengan sabar. Aku menaruh harapan padamu Na, hanya padamu," ucap Joy memohon.


"Sepertinya kau tidak ada harapan." Sepenggal kata-kata Milna ini bagaikan sebuah bongkahan batu besar yang tiba-tiba jatuh menimpa kepala Joy.

__ADS_1


"Kenapa kau jahat sekali padaku Na?" lirih Joy seakan menjadi orang yang terdzolimi.


"Heh, kau pikir bagaimana perlakuanmu dulu padaku!" sarkas Milna.


"Masih diungkit saja ...," cebik Joy.


๐˜ˆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข. ๐˜’๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ! ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช. ๐˜๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ! Lia menyeka air mata yang semakin deras mengalir di wajahnya. Kelakuan dan perkataan Joy yang kasar telah melukai hatinya yang sensitif. Walaupun begitu, semua tak merubah perasaan sayang dan pedulinya pada Joy. Karena pria itu satu-satu saudara yang ia punya.


"Tuan dan Nona. Pria disana itu terluka parah, bagaimana ini!" Tiba-tiba ada beberapa orang yang menghampiri Joy dan Milna.


"Akh!" Salah satu orang yang melapor itu memekik, lantaran Joy mencengkeram kerah bajunya hingga pria itu berjinjit.


"Apa aku tidak salah dengar! Hah!" bentak Joy pada di hadapannya. Membuat keduanya berjengit takut.


"Bu-bukan begitu Tuan. Hanya saja kami bingung mau membawa kemana." Pria satu nya bicara sambil menunduk.


"Joy jangan bicara seperti itu! Lepaskan juga pria ini!" titah Milna, yang mendapat tatapan tak terima dari Joy. Tapi Milna membalas tatapan itu lebih dingin lagi. Sehingga Joy kembali menciut dan berkata.


"Pria itu hampir saja mencelakaimu! Masih bagus aku tidak menarik nyawanya dari badan!" dalih Joy, masih tidak melepas cengkeramannya. Padahal pria dihadapannya itu sudah terbatuk-batuk.


"Lepaskan dia Joy!" pekik Milna lagi. Kali ini ia menatap mata Joy sambil memegangi lengannya.


Joy menatap kearah lengan yang mendapat sentuhan dari Milna. Perlahan dia mulai melepas cekikan nya pada pria itu.


"Lihatlah! Kau hampir membunuh warga sipil di tempat umum!" ucap Milna dengan gemas tertahan.


"Abang! Kak Milna!" Lia datang dengan berlari menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Aku sudah memanggil ambulance. Polisi juga sebentar lagi datang. Sebaiknya kita pergi agar urusan tidak jadi semakin panjang." Lia berkata dengan napas terengah-engah. Pasalnya, baru kali ini ia melihat adegan kecelakaan di depan matanya.


"Kau benar Lia. Terimakasih atas bantuan mu. Ayo kita pergi!" Ajak Milna seraya menuntun tangan gadis remaja yang cantik seperti barbie itu. Rambut pirang, mata yang biru dengan wajah tirus. Serta tubuh tinggi langsing dengan warna kulit kuning langsat. Joy mengekori keduanya. Milna dan Lia menunggu di mobil sedangkan Joy kembali ke dalam butik untuk mengganti bajunya.


"Kakak tidak apa-apa 'kan?" tanya Lia khawatir. Tadi dia bukannya tidak mau menghampiri langsung. Hanya saja ia perlu menguasai emosi dan juga ia perlu memanggil ambulance karena warga sekitar cukup telmi. Sibuk foto dan merekam untuk posting di laman medsos mereka. Tanpa berpikir atau sekedar ingat untuk peduli. Bahwa ada sosok yang sedang membutuhkan pertolongan. Bagaimanapun, pria tersebut adalah korban dari tindakannya sendiri yang brutal.


" Kakak baik-baik saja, seperti yang kau lihat saat ini." Milna tersenyum simpul menanggapi remaja manis di sebelahnya. Lia merangkul lengannya, kemudian merebahkan kepalanya di bahu Milna.


"Setelah ini kita makan ya, kau ada ide tidak?" tanya Milna pada Lia. Ia tidak ingin mengorek cerita yang terjadi antara kakak beradik itu. Suatu saat ia yakin Lia akan bercerita padanya.


"Aku mau baso mercon Kak," jawab Lia, seraya mendongak ke arah Milna.


"Meriam saja sekalian!" ketus Joy. Kemudian dirinya langsung duduk di belakang kemudi.


Bukk!


"Aww!"


"Kebiasaan!"


"Maaf ...,"


Lia membungkam kekehannya, karena melihat Joy yang begitu penurut dengan Milna.


๐˜’๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2