
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Wanita hamil itu bisa mengelabui penjaga klab dengan dressnya yang mengembang dan remple di depan.
Membuat dirinya melengang bebas ke dalam ruangan remang-remang. Suara dentuman musik yang hingar-bingar itu, serasa asik dan membakar semangat. Di telinga para manusia malam.
Jelita melangkah anggun, kearah meja bar lalu duduk dengan pose aduhai di salah satu kursi tinggi itu.
"๐๐ข๐ญ๐ฐ, ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ช๐ต๐ข!" sapa seorang pria berambut ikal panjang, yang bertugas meracik minuman di bar tersebut.
"๐๐ช๐ญ๐ฌ ๐ธ๐ช๐ต๐ฉ ๐ช๐ค๐ฆ." Pesan Jelita sambil mengedarkan pandangannya, mencari korban untuk ๐ฐ๐ฏ๐ฆ ๐ฏ๐ช๐จ๐ฉ๐ต ๐ด๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ.
"Kenapa beda dengan biasanya?" heran bartender itu yang memang mengenali Jelita sebagai pengunjung tetap klab itu.
"๐'๐ฎ ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐จ๐ข๐ฏ๐ต ...," bisik Jelita di sertai gerakan bibirnya.
"๐๐ฉ๐ข๐ต!"
"๐๐ฐ๐ธ ๐ค๐ข๐ฏ?" tanya pria itu heran, bagaimana wanita hamil bisa lolos masuk klab malam. Bahkan ia turut menelisik tubuh Jelita.
"Jangan melihatku seperti itu, atau mau ku cungkil matamu?" marah Jelita dengan kedua matanya yang mendelik seram.
๐๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ.
Bartender itu pun menjauh dari wanita hamil gila. Ya, kalau waras dia tentu tidak akan datang ke tempat ini.
Entah apa yang di pikirkan oleh bayi mungil yang ada di dalam kandungannya itu.
Mungkin, ia sedang protes pada Tuhan. Karena telah menetapkan dirinya di dalam rahim wanita gila, yang tak ada jiwa dan rasa keibuan sama sekali.
Dimana wanita hamil biasanya akan menerapkan hidup sehat, pergi ke kelas yoga. Mengelus perut dan mengajak bicara.
Sedangkan Jelita, lebih sering mengumpat dan memaki. Ketika gerakan dari bayinya itu menyakitkan dirinya.
Wanita itu menyeruput es susu pesanannya tadi. Tubuhnya sesekali ikut meliuk, seirama hentakan dari musik yang dimainkan oleh Dj.
__ADS_1
Tak tahan juga, akhirnya Jelita ikut melantai ketika Dj memainkan musik yang lebih ๐ฏ๐จ๐ฆ-๐ฃ๐ฆ๐ข๐ต.
๐๐ฉ ... ๐บ๐ข ... ๐บ๐ข ... , ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐บ๐ช๐ฌ๐ถ, ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ๐ณ๐ข๐จ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ ๐บ๐ข. ๐๐ฐ๐ฎ๐ฎ๐บ ๐ฎ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ-๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฃ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ช๐ญ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ด๐ต๐ณ๐ฆ๐ด? ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐ฎ๐บ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช.
Ketika tengah asik berdansa sendirian, tubuh Jelita sempat terhuyung oleh dorongan dari pria yang setengah mabuk.
"Hei. Perhatikan gerakan mu!" maki Jelita pada pria yang belum di lihat wajahnya itu.
Namun, ketika ia berbalik. Betapa kagetnya Jelita, hingga kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi mulutnya yang menganga lebar.
Setelah ia mampu mengontrol dirinya, Jelita mulai mengeluarkan jurusnya.
"Hei kau gagah! Apa kau perlu selimut hidup?" tanyanya lembut di telinga pria itu, bahkan jemarinya telah singgah bermain di dada berbulu sang pria.
๐๐ข๐ข๐ฉ๐ฉ ... ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ข๐บ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ฃ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ณ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฑ๐ข๐จ๐ช, ๐ฉ๐ฐ๐ต ๐ฎ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ฆ. ๐๐ช๐ต๐ข ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต, ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ฃ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ.
Dan, Jelita pun akhirnya mendapat partner untuk berolahraga di atas kasur berderit.
Sebuah pilihan, yang akan membuat ia menyesali, keputusannya keluar malam ini.
Di sebuah kamar hotel, seorang wanita terus menerus menjerit. Di bawah pacuan seorang pria berbadan tinggi besar, dengan tenaga setara seekor kuda.
"Hentikan sialan! Laki-laki gila!"
"Kau sudah menggagahi ku lebih dari ... enam ... kali." Akhirnya wanita itu diam tak bergerak.
Tapi, pria di atasnya tidak peduli. Seringai menyeramkan yang mana menunjukkan gigi-giginya itu bertengger di wajah bulenya.
Semakin wanita itu kesakitan maka ia akan semakin menggila karena bergairah.
Pria itu terus berpacu, sampai sebuah cairan merah merembes dari sela-sela inti Jelita.
Berhubung pria itu mabuk, maka sadar tak sadar. Setelah mendapatkan banyak darah di atas kasur, ia melenggang pergi begitu saja dari kamar hotel.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฃ๐ข-๐ต๐ช๐ฃ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ด๐ต๐ณ๐ถ๐ข๐ด๐ช. ๐๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ช๐ซ๐ช๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฉ๐ข ... ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ถ๐ข๐ด. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฐ๐ต๐ฐ๐ญ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ...
__ADS_1
Lalu ...
Brugghh!
Pria itu pun ambruk di depan lift.
Beberapa orang yang melihat segera menghampiri raga pria tersebut. Tak ada yang berani memegang, karena pria itu sempat kejang lalu mengeluarkan busa dari mulutnya.
"๐๐ฑ๐ช๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ด๐ช!!"
"Jangan ada yang menyentuhnya kecuali tim medis!" seru salah satu pegawai dari hotel tersebut.
Pagi harinya ...
"Aaakkhhh!!"
Sebuah jeritan seorang petugas cleaning room mengejutkan seisi hotel tersebut.
Penemuan sosok wanita bersimbah darah di kamar hotel, membuat suasana kembali riuh dan ricuh. Karena semalam sudah geger saat ada seorang pria yang kejang dan langsung meninggal.
"Dia masih hidup!"
"Panggil ambulance !"
"Syukurlah, kalau tewas lagi bisa di tutup hotel kita."
"Tutupi dulu tubuhnya."
"Hei kau lihat apa!"
๐พSungguh malam yang apes bagi si apem kempes.
Mengheningkan cipta mulai ...
Bersambung>>>>
__ADS_1