
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Joy seketika bangkit dan melupakan nyeri pada bokongnya itu.
"Mana mungkin saya salah! Mulut anda bisa berbohong Tuan, akan tetapi mata anda tidak bisa." Joy menggebrak meja kemudian memasang seringai kemenangannya.
Berharap kali ini, bosnya akan mengakui perasaannya.
Arjuna bergeming pada posisinya, bahkan matanya masih setia terpejam. Membiarkan sang asisten terus mengeluarkan analisanya.
"Pernahkah anda berdebar ketika bersamanya? Bergetar ketika bersentuhan dengannya? Mencuri pandang hanya untuk melihat senyumnya? Lalu, sesuatu hendak meledak ketika pertama kali mencium bibirnya." Joy menegakkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Arjuna.
Yakin jika busurnya kali ini menembakkan anak panah di titik yang tepat.
JLEB!
DEG!
Arjuna seketika menegakkan tubuhnya. Aura kaget dan panik di wajahnya dengan cepat ia manipulasi dengan trik intimidasi lainnya.
(Apa yang dia tahu pasal ciumanku dengan si janda bodoh itu.) batin Arjuna, gusar.
" Apa kau sedang menjadi komentator cinta sekarang?"
"Sejak kapan kau mencampuri ranah kehidupan pribadi ku?"
"Bahkan, memberi tuduhan palsu yang dapat di pasalkan sebagai pencemaran nama baik terhadap seorang pimpinan perusahaan." Arjuna mendekati Joy hingga jarak mereka hanya beberapa jengkal lagi.
Arjuna menekan telunjuk kakunya di dada Joy.
"A-apa!"
__ADS_1
"Saya bahkan memiliki bukti rekaman CCTV rumah anda Tuan," Joy memukul keras mulutnya dan matanya sontak membola.
(Mati aku kali ini. Aku benar-benar mati.)
"Potong gaji atau bersihkan toilet?" Arjuna memberi pilihan yang sama-sama sangat sulit bagi Joy.
Karena Joy adalah lelaki yang super bersih, dan dia sangat tidak suka berhubungan dengan kotoran.
Sedangkan bila potong gaji, itu akan membuatnya kesulitan mengencani beberapa gadis simpanannya.
Namun, kelancangan asisten kepercayaannya itu sudah kelewat batas. Arjuna tidak akan pernah memecatnya, Joy adalah aset perusahaan, dia tipe pria setia dan berdedikasi terhadap tugas dan tanggung jawabnya.
Sepertinya, sudah saat nya bagi sang penjelajah hutan tropis berlembah basah agar di beri syok terapi.
___***___
Seperti biasa setiap pagi ketika sampai di kantor, Susi akan segera ke pantry untuk membuatkan kopi.
Begitupun di rumah, Susi lebih banyak diam ketimbang biasanya. Ia akan masak bila waktunya masak, lalu mereka makan bersama setelah itu kembali masuk ke kamar masing-masing.
Hal itu sedikit mengganggu Arjuna, pasalnya ia terbiasa mendengar suara empuk itu terus mengoceh padanya. Sekelebat bayangan kejadian pagi tadi, berseliweran di kepalanya.
(Aku merasa ada yang hilang di rumah ini. Apakah rencana ku telah membuatnya tersinggung? Ha, peduli apa dengan perasaannya, aku akan menemukan cara lain untuk memaksanya. Rencana ku harus berhasil, mereka semua akan hancur perlahan.) Arjuna menarik sudut bibirnya ke atas.
Ekor matanya memperhatikan pergerakan Susi yang membawa alat-alat makan bekas mereka sarapan.
"Biarkan benda-benda kotor itu, mereka dapat meninggalkan noda di pakaianmu!" perintah Arjuna yang gemas melihat Susi hendak mencuci piring, sedangkan ia sudah mengenakan pakaian kerja.
"Aku tidak betah bila pergi meninggalkan piring kotor yang menumpuk," jawab Susi masih kekeuh menggosok gelas bekas susunya.
" Terserah kau! Aku tidak akan menunggu mu di mobil." Arjuna pun menyambar jasnya dan berlalu.
__ADS_1
"Tunggu!" teriak Susi mengejar Arjuna.
Pria berahang tegas yang rambutnya selalu di sisir rapi itu, menghentikan langkah lebarnya.
"Kemarikan jas mu." Arjuna menyerahkan jas silver nya ke tangan mungil sekretaris sekaligus kokinya itu. Sepertinya kini telah merangkap menjadi stylist nya juga.
Ketika di mobil,Susi lebih memilih duduk di sebelah sopir daripada di sebelah bosnya itu.
Sebelum ke pantry Susi melangkah lebih dulu ke dalam toilet wanita, karena ia merasa sakit di area perut bawahnya.
Susi mengambil sebuah benda empuk yang mirip roti tawar dengan bungkus biru dan berlogo sayap.
"Hufft! Untung saja aku membawa tambalan apem, ternyata bulanku datang lebih awal." gumam Susi sambil mencuci tangannya di wastafel.
Ketika melangkah keluar dari bilik toilet wanita, keningnya berkerut tiga lapis. Bahkan ia sampai mengikuti kemana pria itu masuk.
"Ah, apa iya. Itu kan tidak mungkin?"
"Apa yang kau pikirkan?" Susi menggaruk kepalanya tak gatal.
Ia pun berbelok hendak keluar dari ruangan itu.
Joy sedang menyiapkan beberapa alat di kantung celana seragamnya. Setelah mengenakan sarung tangannya ia pun keluar, namun langkah kakinya tertahan dan iapun segera bersembunyi di belakang dinding.
"Tidak jangan sampai ia melihatku. Bisa nyungsep harga diri ku."
"Aish Joy, harga dirimu memang sudah anjlok, ck." Joy merosotkan tubuhnya, kepalanya menunduk frusterasi.
"Lain kali, aku tidak akan lagi ikut campur masalah percintaan si perjaka tuwir itu!"
"Baby, darling, help me!"
__ADS_1
Bersambung>>>>>