
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Ternyata dua orang itu sedang saling tatap sambil menautkan jemari mereka. Senyum pun merekah mekar dari wajah keduanya yang berseri.
"Gimana rasanya kembali ke kantor, hm?" tanya Arjuna lembut, tak sedetik pun tatapannya bergeser dari wajah cantik di hadapannya.
"Bingung," jawab Susi singkat, wajahnya menunduk melihat jemarinya yang sibuk memainkan jempol besar Arjuna.
"Kok, bingung?" heran Arjuna, alisnya saling bertaut ikutan bingung atas jawaban pendek istrinya itu.
" Iya, bingung mau ngapain. Jabatanku juga tidak jelas di sini," jawab Susi pelan, sambil melirik lalu memanyunkan bibirnya.
"Tidak jelas, gimana?" Arjuna menarik tubuh ramping berisi itu, ke atas pangkuannya.
"Eh, kalau ada yang masuk gimana!" pekiknya yang langsung di sumpal enak oleh Arjuna.
Plup.
Arjuna melepas bibir berisi itu dari tautannya. Untung saja Susi memakai lipstick mate, jadi gak ada istilah berantakan atau warnanya pindah.
"Ish, orang lagi ngomong main sosor aja," Susi memukul pelan bibir Arjuna dengan telunjuknya.
"Bahasanya itu lho, di kondisikan. Aku bukan Mr, Donald Drump." Arjuna kembali melabuhkan ciumannya, kali ini bukan di bibir melainkan di leher terbuka Susi.
"Jangan bikin tanda ih, ini kantor. Jangan bikin aku menjadi tontonan karyawan mu." Susi menahan wajah Arjuna yang masih ingin bermain di ceruk lehernya.
"Kan bisa kamu tutupi pakai make up, seperti tadi pagi." Arjuna memajukan kembali wajahnya, mengabaikan larangan istrinya. Memberi beberapa tanda merah di sana. Hingga Susi tidak bisa mencegah, desah laknat itu lolos begitu saja dari bibirnya.
"Berisik ya, kamu. Untung saja kantorku kedap suara," tawa Arjuna, melihat akibat aksi jahilnya itu.
"Resek banget deh jadi suami," sungut Susi melengos menyembunyikan rona malu di wajahnya.
"Ih, merah tuh pipinya ... lucu deh," goda Arjuna semakin membuat Susi gelisah dan mulai tak bisa diam karena sebal.
__ADS_1
"Hei, jangan bergerak seperti itu. Nanti kau membangunkan naga puspa ku, bagaimana?" ancam Arjuna, membuat Susi seketika diam membeku.
๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ ๐ข๐ซ๐ข, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ต๐ฐ๐ณ. ๐๐ณ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ช๐ฏ ๐ซ๐ข๐ฉ๐ช๐ญ ๐จ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ช๐ฉ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ด ๐ฅ๐ฆ๐ฉ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ.
Susi pun beringsut pelan hendak turun, akan tetapi pinggangnya seketika di tahan oleh rangkulan tangan kekar Arjuna.
"Siapa yang membolehkan mu, turun?" tanya nya dengan nada serius, sambil terus menatap dalam wajah Susi.
"Memang, kau tidak ingin bekerja. Mau terus mengerjai ku saja?" sarkas Susi menyindir telak. Membuat Arjuna sontak tergelak.
"Bisa keduanya, sekalian saja." Arjuna kembali tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
๐๐ณ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ธ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ช๐ฉ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ค๐ช๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ธ๐ข. ๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ช๐ข๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฎ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ถ๐ญ๐ถ.
Cup.
Seketika dua pasang mata itu kembali saling berpandangan. Warna mata berbeda dari keduanya, yang mana coklat milik Arjuna dan hitam pekat milik Susi.
"Kurang, masa cuma segitu saja," rengek Arjuna, yang mana membuat Susi terkekeh setelahnya.
๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ญ๐ข๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐จ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ณ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ณ๐ต๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช. ๐๐ข๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ ๐ณ๐ข๐จ๐ข, ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ช๐ธ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ช๐ป๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ.
Arjuna semakin mendekap erat tubuh Susi, melampiaskan segala rasa yang bergelora hebat di dalam hatinya.
"Ar ...," panggilnya, setelah Susi berhasil lepas dari belitan lidah Arjuna.
"Hemm," sahut pria itu dengan pandangan yang sudah berkabut.
"Kau membuat ku ...," Susi pun menunduk, tanpa meneruskan kata-katanya.
"Aku faham, sayang ... kita lanjut saja ...," Arjuna pun menaikkan dress Susi.
"Disini?" tanyanya dengan mata membola serta tangan yang menahan pergerakan jemari Arjuna.
__ADS_1
"Iya, dimana lagi? aku tidak punya ruangan khusus, belum. Sepertinya, aku harus membuatnya setelah ini.
" Tapi kalau ada ..., empht!"
"Henti_kan, Ar ... itu ada yang mengetuk," Susi berkata lirih. Karena ia tak mampu melawan kenikmatan yang di berikan, serta sensasi dari setiap sentuhan jemari sekaligus bibir sensual Arjuna.
"Biar saja ... abaikan pengganggu tak penting itu. Jangan mengacau konsentrasi ku," ucap Arjuna, sembari bermain pada bagian tubuh yang sudah di buat polos tanpa sehelai benang olehnya.
Suara-suara indah pun meluncur dengan ritme yang mengalun, sesuai tempo serangan yang di lancarkan Arjuna.
Selanjutnya, mereka pun menjelajahi nirwana bersama.
"Di kunci? bahkan, sudah dua kali mengetuk pun tak di gubris. Apa yang sih yang mereka lakukan?" gumam Joy, memasang wajah kecut bin masam.
๐พNamanya juga penganten baru, Joy.๐๐คต๐ฐ
๐พSah aja mau dimana juga, asal jangan di kolong๐.
๐พJoy, sirik apa kepo ya pemirsah๐คฃ
๐พWoii ...! Jangan ngadi-ngadi dah๐.
Sorry gais, kemaren cuma up satu bab.
Bukannya gak ngetik, tapi gak ada pulsa๐คฃ๐คฃ.
Kabooorrr ....
_
_
__ADS_1
_
Bersambung>>>>