Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kesirikan Yang Hakiki.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Ternyata dua orang itu sedang saling tatap sambil menautkan jemari mereka. Senyum pun merekah mekar dari wajah keduanya yang berseri.


"Gimana rasanya kembali ke kantor, hm?" tanya Arjuna lembut, tak sedetik pun tatapannya bergeser dari wajah cantik di hadapannya.


"Bingung," jawab Susi singkat, wajahnya menunduk melihat jemarinya yang sibuk memainkan jempol besar Arjuna.


"Kok, bingung?" heran Arjuna, alisnya saling bertaut ikutan bingung atas jawaban pendek istrinya itu.


" Iya, bingung mau ngapain. Jabatanku juga tidak jelas di sini," jawab Susi pelan, sambil melirik lalu memanyunkan bibirnya.


"Tidak jelas, gimana?" Arjuna menarik tubuh ramping berisi itu, ke atas pangkuannya.


"Eh, kalau ada yang masuk gimana!" pekiknya yang langsung di sumpal enak oleh Arjuna.


Plup.


Arjuna melepas bibir berisi itu dari tautannya. Untung saja Susi memakai lipstick mate, jadi gak ada istilah berantakan atau warnanya pindah.


"Ish, orang lagi ngomong main sosor aja," Susi memukul pelan bibir Arjuna dengan telunjuknya.


"Bahasanya itu lho, di kondisikan. Aku bukan Mr, Donald Drump." Arjuna kembali melabuhkan ciumannya, kali ini bukan di bibir melainkan di leher terbuka Susi.


"Jangan bikin tanda ih, ini kantor. Jangan bikin aku menjadi tontonan karyawan mu." Susi menahan wajah Arjuna yang masih ingin bermain di ceruk lehernya.


"Kan bisa kamu tutupi pakai make up, seperti tadi pagi." Arjuna memajukan kembali wajahnya, mengabaikan larangan istrinya. Memberi beberapa tanda merah di sana. Hingga Susi tidak bisa mencegah, desah laknat itu lolos begitu saja dari bibirnya.


"Berisik ya, kamu. Untung saja kantorku kedap suara," tawa Arjuna, melihat akibat aksi jahilnya itu.


"Resek banget deh jadi suami," sungut Susi melengos menyembunyikan rona malu di wajahnya.


"Ih, merah tuh pipinya ... lucu deh," goda Arjuna semakin membuat Susi gelisah dan mulai tak bisa diam karena sebal.

__ADS_1


"Hei, jangan bergerak seperti itu. Nanti kau membangunkan naga puspa ku, bagaimana?" ancam Arjuna, membuat Susi seketika diam membeku.


๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ. ๐˜ˆ๐˜ณ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ. ๐˜Ž๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ.


Susi pun beringsut pelan hendak turun, akan tetapi pinggangnya seketika di tahan oleh rangkulan tangan kekar Arjuna.


"Siapa yang membolehkan mu, turun?" tanya nya dengan nada serius, sambil terus menatap dalam wajah Susi.


"Memang, kau tidak ingin bekerja. Mau terus mengerjai ku saja?" sarkas Susi menyindir telak. Membuat Arjuna sontak tergelak.


"Bisa keduanya, sekalian saja." Arjuna kembali tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.


๐˜—๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ.


Cup.


Seketika dua pasang mata itu kembali saling berpandangan. Warna mata berbeda dari keduanya, yang mana coklat milik Arjuna dan hitam pekat milik Susi.


"Kurang, masa cuma segitu saja," rengek Arjuna, yang mana membuat Susi terkekeh setelahnya.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ป๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


Arjuna semakin mendekap erat tubuh Susi, melampiaskan segala rasa yang bergelora hebat di dalam hatinya.


"Ar ...," panggilnya, setelah Susi berhasil lepas dari belitan lidah Arjuna.


"Hemm," sahut pria itu dengan pandangan yang sudah berkabut.


"Kau membuat ku ...," Susi pun menunduk, tanpa meneruskan kata-katanya.


"Aku faham, sayang ... kita lanjut saja ...," Arjuna pun menaikkan dress Susi.


"Disini?" tanyanya dengan mata membola serta tangan yang menahan pergerakan jemari Arjuna.

__ADS_1


"Iya, dimana lagi? aku tidak punya ruangan khusus, belum. Sepertinya, aku harus membuatnya setelah ini.


" Tapi kalau ada ..., empht!"


"Henti_kan, Ar ... itu ada yang mengetuk," Susi berkata lirih. Karena ia tak mampu melawan kenikmatan yang di berikan, serta sensasi dari setiap sentuhan jemari sekaligus bibir sensual Arjuna.


"Biar saja ... abaikan pengganggu tak penting itu. Jangan mengacau konsentrasi ku," ucap Arjuna, sembari bermain pada bagian tubuh yang sudah di buat polos tanpa sehelai benang olehnya.


Suara-suara indah pun meluncur dengan ritme yang mengalun, sesuai tempo serangan yang di lancarkan Arjuna.


Selanjutnya, mereka pun menjelajahi nirwana bersama.


"Di kunci? bahkan, sudah dua kali mengetuk pun tak di gubris. Apa yang sih yang mereka lakukan?" gumam Joy, memasang wajah kecut bin masam.


๐ŸพNamanya juga penganten baru, Joy.๐Ÿ’๐Ÿคต๐Ÿ‘ฐ


๐ŸพSah aja mau dimana juga, asal jangan di kolong๐Ÿ˜‰.


๐ŸพJoy, sirik apa kepo ya pemirsah๐Ÿคฃ



๐ŸพWoii ...! Jangan ngadi-ngadi dah๐Ÿ™„.


Sorry gais, kemaren cuma up satu bab.


Bukannya gak ngetik, tapi gak ada pulsa๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ.


Kabooorrr ....


_


_

__ADS_1


_


Bersambung>>>>


__ADS_2