
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Hingga keduanya kini, tenggelam di alam bawah sadar mereka. Berada di dalam sebuah gazebo semakin mengasingkan keduanya dari perhatian orang. Sekitaran danau yang semakin sepi, membuat keduanya terbawa arus semakin jauh.
Karena benda kenyal milik gadis dibawah kuasanya ini begitu menggoda nalurinya. Better yang masih menyesap bibir manis itu, menyusupkan salah satu tangan ke balik jaket yang di kenakan Vanish. Hingga, sebuah desah merdu terdengar dari bibir gadisnya.
"Hemmpptt ... ahh ...." Mendapat tekanan lembut di dadanya, Vanish justru semakin merapatkan wajahnya. Ia menekan raganya semakin dalam, membuat Better semakin lupa untuk menjaga sesuatu yang seharusnya ia lindungi.
Vanish telah menanggalkan jaketnya, bahkan dress-nya kini telah terangkat hingga menampilkan sebuah kepala manusia yang tenggelam di dadanya. Bagai bayi yang tengah kehausan, Better mengisap rakus apa yang ada di hadapannya saat ini. Dengan satu tangannya yang memainkan bagian satunya lagi. Sehingga, sang empunya raga menggeliat dengan lenguhan dan disertai desah menggoda. Apalagi, tangan Vanish justru semakin menekan kepala Better, meski pria itu sengaja menggigit puncak bukitnya dengan gemas. Membuatnya merasakan gelenyar aneh tapi nikmat, menjalar di sekujur tubuhnya.
๐พAdooohhh ...nakal ya kaliaann๐. Awas! Kena razia ...!๐ง
Ketika wajah Better sudah berada di atas pusar Vanish. Tiba-tiba, sebuah sorotan cahaya dari lampu senter mengangetkan mereka berdua.
" Pa-pacar! Apa yang sudah kita lakukan !" Vanish memekik seraya merapikan pakaiannya. Ketika ia menyadari apa yang baru saja mereka lakukan.
"Maโmaafkan aku, Nis. Maafkan aku, aku khilaf!" Better mengusap wajahnya, menyesali perbuatannya yang hampir saja merenggut sesuatu yang paling berharga dari wanita
๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ฆ๐ต! ๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ! ๐๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฃ๐ข๐ซ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ! ๐๐ณ๐ณ๐จ๐จ๐ฉ๐ฉ!! ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฏ?!
Better terlihat meremas kepalanya, hingga kunciran rambutnya semakin berantakan. Pria itu terlihat begitu menyesal atas apa yang telah ia perbuat pada gadisnya.
"Nis, aku tidak bermaksud ...," Better tak mampu meneruskan kata-katanya. Ia begitu menyesal ketika menatap mata dengan sorotan kecewa terhadapnya.
"Sudahlah, ini juga salah Ninis. Karena begitu mudah terbawa suasana,
untung saja belum terlambat." Vanish, melengos ke belakang. Ke arah di mana lampu sorot tadi berasal. Hingga, sayup-sayup ia mendengar langkah kaki.
"Apakah ada yang mencari kita?" kaget Vanish, ia bahkan memegang tangan Better.
"Tenanglah, mungkin itu suruhan ayahmu. Bukankah aku tengah menculik mu dari rumah." Better, berusaha menenangkan Vanish dengan spekulasi yang justru semakin membuat gadis itu panik.
" Menculik? apa pacar akan di laporkan ke polisi nanti? Ah tidak! Aku tidak mau kalau sampai kamu di penjara!" Vanish terlihat panik. Ia bahkan bangun dari tempatnya duduk hendak menarik Better pergi.
"Aku akan bertanggung jawab. Lagi pula, aku baru menculik mu beberapa jam saja. Polisi tidak akan bisa menangkap ku." Better mencoba tersenyum. Meski hatinya merasa jedag-jedug tak karuan. Baru kali ini ia bawa lari anak perawan.
" Kau tidak akan selamat dari ayah, dia akan membunuhmu!" Vanish mendorong tubuh tegap Better, dengan tangannya yang kecil serta tubuh mungilnya. Pria itu bahkan tak bergerak sedikit pun dari tempat berdirinya.
"Biar saja. Biar, aku tidak bisa menyaksikan mu di ambil orang. Setidaknya, kau akan menemukan kebahagiaan itu tanpa diriku." Better berkata seolah-olah dirinya telah putus asa. Membuat Vanish merangkul lengannya erat.
"Bisa gak, kalo ngomong jangan sembarangan begitu!" Vanish menghentakkan kakinya kesal, bahkan air matanya sudah kembali meluncur deras di pipinya.
__ADS_1
" Itu lebih baik. Aku, lebih baik mati. Dari pada menikahi wanita yang tidak pernah ku cintai!" Better mendengus kasar. Kakinya hendak melangkah maju menghampiri orang-orang yang membawa senter. Hingga, sebuah tangan mungil melingkar di pinggangnya.
"Apa kau pikir, aku bisa hidup dengan tenang jika melihatmu mati, di depanku!" Vanish menenggelamkan wajahnya di punggung lebar itu, sembari sesenggukan.
"Kenapa kau jahat sekali!" Vanish menggoncang tubuh yang di peluknya, dadanya terasa sesak karena ucapan Better barusan.
Merasakan hal yang begitu menekan dadanya, hingga tenggorokannya ikut tercekat. Bahkan, untuk bernapas pun begitu sesak. Better membalik tubuhnya, ia kembali membawa raga mungil itu kedalam dekapannya, seraya berkali-kali menciumi pucuk kepala Vanish yang hanya setinggi dadanya saja.
"Biar saja aku mati di tangan ayahmu. Itu pantas untukku, karena telah membawa lari dirimu. Aku hanya laki-laki yang pengecut, aku memang pantas mati!"
"Siapa yang mau mati di tanganku!" hardik suara yang begitu berat. Seiring dengan sorotan tajam dari lampu senter besar.
"Tidak, Ayah! Kau tidak bisa membunuhnya. Aku yang menghampirinya, dia tidak bersalah!" Vanish telah berada di depan Better dengan merentangkan kedua tangannya.
"Anak kurang ajar! Beraninya kau menculik ...." Teriakan Roma tertahan oleh kata-kata Better.
"Aku memang bersalah. Habisi saja aku! Itu lebih baik, daripada aku hidup hanya untuk melihatnya bersama orang lain!" teriak Better. Ia merangsek kedepan, lalu menarik Vanish dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Maksudnya apa coba?
Roma dan Shim saling beradu pandang. Sementara dua ajudan di belakang mereka tengah menahan tawa. Apa yang terjadi sebenarnya?
" Untuk apa aku membunuh calon menantuku sendiri. Betulkan, Shim?" Roma menoleh ke arah Shim sambil menahan senyumnya. Begitu juga dengan Shim, ia bahkan menggeleng sambil terkekeh kecil.
"Maโmaksudnya?" Better mengarahkan pertanyaan seraya menatap bergantian pada dua pria paruh baya di hadapannya. Ia bahkan melirik dua ajudan yang terkikik di belakang papinya.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ข๐ถ๐ณ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข. ๐๐ถ๐ด๐ต๐ณ๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ด, ๐ฆ๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ธ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช? (Better bingung)
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ? ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ? ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ? ( Vanish juga bingung)
"Papi akan menghukummu, karena kau telah mangkir dari perkenalan dengan calon istrimu!" kata Shim tegas. Meski itu sedikit terlihat di paksakan, ia tak pernah berlakon sebelumnya.
"Begitupun, denganmu Nis! Ayah akan menikahkanmu malam ini juga!" ucap Roma serius. Soal akting pria ini memang jagonya. Ternyata mereka berdua telah sepakat untuk mengerjai anak-anak mereka.
" Tidak Ayah!" Vanish segera keluar dari persembunyiannya. Di mana tadi dirinya tertutup oleh tubuh gagah Better.
"Ninis gak mau nikah sama om itu!" tunjuk Vanish ke arah Shim. Di mana hal itu sontak membuat Shim tergelak. Vanish pun semakin takut di buatnya. Ia pikir pria tua itu senang dengan rencana sang ayah.
"Siapa yang kamu maksud, Nis?" Better bertanya dengan pelan, tapi masih bisa di dengar oleh yang lainnya.
"Pria tua itu, dia calon suami Ninis. Masih ganteng sih, tapi Ninis gak mau," lirihnya, kembali menenggelamkan wajahnya ke dada bidang kekasihnya itu.
"Maksudmu, papi? dia papiku ... calon suamimu!" geram Better tiba-tiba emosinya kembali meledak. Kesalahpahaman semakin berbelit.
__ADS_1
"Orang tua macam apa kau! Bagaimana bisa kau menjodohkan anak gadismu dengan laki-laki yang justru pantas menjadi ayahnya!" Marah Better sembari menunjuk ke arah Roma.
"Papi, tidak kusangka. Jika kau lah yang telah merebut kekasihku!" teriak Better, wajahnya sudah merah padam menahan amarah. Merasa takdir sungguh mempermainkannya. Padahal, ini cuma kerjaan dua orang tua yang iseng dan kurang kerjaan saja.
"Haihh ... Udahlah, Rom. Jelasin aja! Anak gua udah ngamuk tuh!"
"Ck, mereka aja yang terlalu cepat menyimpulkan. Tanpa mau terlebih dulu mencari tau apa yang terjadi sebenarnya." Roma berdecak gemas, akan kelakukan dua orang yang tengah berpelukan di hadapannya ini. Ingin rasanya ia memukul kepala pria gondrong itu dengan panci. Karena sudah seenaknya, memeluk putri nya itu.
๐พAyah, seandainya kau tau apa yang sudah dan akan di perbuat oleh babang gondrong.๐ฑ Seandainya kalian tidak datang. ๐
Padahal para pembaca udah tegang tauk๐.
"Katakan! Apa maksud dari kalian berdua! Tolong, jangan mempermainkan kami!" Better menyela perdebatan yang dilakukan Roma dan Shim.
"Lepaskan dulu putriku! Enak saja kau terus memeluknya sejak tadi!" Roma merangsek maju hendak menarik tangan Vanish. Tali, gadis itu menepis tangan Roma.
"Gak mau, Yah. Ninis gak mau nikah sama om Shim!" pekik Vanish.
"Heh! Siapa yang mau nikahin kamu sama si tua bangka itu!" Roma terkekeh.
"Hei! Siapa yang kau sebut tua bangka, bangkotan!" geram Shim tak terima panggilan yang di sematkan padanya.
"Ayah?" Vanish bingung dengan perkataan ayahnya, kalau bukan dengan Shim, lalu dengan siapa?
"Sudah, lepaskan pria itu. Dia belom sah jadi suamimu, Nak." Roma menarik lagi tangan Vanish agar lepas dari pelukan Better.
"Jadi yang aku culik adalah?" tanya Better dengan segala kebingungannya. Karenanya, ia melepas pelukannya terhadap Vanish.
"Dia calon istrimu!" ujar Shim, dengan senyum miringnya. Lalu, ia ikut menghampiri putra angkatnya itu.
"Jadi, bukan Paman yang akan menikah denganku?" tanya Vanish ketika Shim melewatinya.
"Kapan ayah bilang begitu?" ledek Roma menimpali pertanyaan putrinya.
"Jadi??"
Vanish dan Better pun saling berpandangan, dengan senyum samar yang hampir tercetak dari keduanya. Hingga gelak tawa itu menyeruak dari kedua orang tua mereka.
"Hahaha ...! Ternyata cinta itu memang buta!"
" Hahahah ...! Tuli juga sepertinya!"
__ADS_1
๐พJangan ketinggalan dengan bahlulnya. Karena cinta bisa bikin si jenius mendadak stupid.๐คฃ
Bersambung>>>>