Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Ternyata Calon Istri!


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Hingga keduanya kini, tenggelam di alam bawah sadar mereka. Berada di dalam sebuah gazebo semakin mengasingkan keduanya dari perhatian orang. Sekitaran danau yang semakin sepi, membuat keduanya terbawa arus semakin jauh.


Karena benda kenyal milik gadis dibawah kuasanya ini begitu menggoda nalurinya. Better yang masih menyesap bibir manis itu, menyusupkan salah satu tangan ke balik jaket yang di kenakan Vanish. Hingga, sebuah desah merdu terdengar dari bibir gadisnya.


"Hemmpptt ... ahh ...." Mendapat tekanan lembut di dadanya, Vanish justru semakin merapatkan wajahnya. Ia menekan raganya semakin dalam, membuat Better semakin lupa untuk menjaga sesuatu yang seharusnya ia lindungi.


Vanish telah menanggalkan jaketnya, bahkan dress-nya kini telah terangkat hingga menampilkan sebuah kepala manusia yang tenggelam di dadanya. Bagai bayi yang tengah kehausan, Better mengisap rakus apa yang ada di hadapannya saat ini. Dengan satu tangannya yang memainkan bagian satunya lagi. Sehingga, sang empunya raga menggeliat dengan lenguhan dan disertai desah menggoda. Apalagi, tangan Vanish justru semakin menekan kepala Better, meski pria itu sengaja menggigit puncak bukitnya dengan gemas. Membuatnya merasakan gelenyar aneh tapi nikmat, menjalar di sekujur tubuhnya.


๐ŸพAdooohhh ...nakal ya kaliaann๐Ÿ˜. Awas! Kena razia ...!๐Ÿง


Ketika wajah Better sudah berada di atas pusar Vanish. Tiba-tiba, sebuah sorotan cahaya dari lampu senter mengangetkan mereka berdua.


" Pa-pacar! Apa yang sudah kita lakukan !" Vanish memekik seraya merapikan pakaiannya. Ketika ia menyadari apa yang baru saja mereka lakukan.


"Maโ€“maafkan aku, Nis. Maafkan aku, aku khilaf!" Better mengusap wajahnya, menyesali perbuatannya yang hampir saja merenggut sesuatu yang paling berharga dari wanita


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต! ๐˜‰๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ! ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ! ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ณ๐˜จ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ฉ!! ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ?!


Better terlihat meremas kepalanya, hingga kunciran rambutnya semakin berantakan. Pria itu terlihat begitu menyesal atas apa yang telah ia perbuat pada gadisnya.


"Nis, aku tidak bermaksud ...," Better tak mampu meneruskan kata-katanya. Ia begitu menyesal ketika menatap mata dengan sorotan kecewa terhadapnya.


"Sudahlah, ini juga salah Ninis. Karena begitu mudah terbawa suasana,


untung saja belum terlambat." Vanish, melengos ke belakang. Ke arah di mana lampu sorot tadi berasal. Hingga, sayup-sayup ia mendengar langkah kaki.


"Apakah ada yang mencari kita?" kaget Vanish, ia bahkan memegang tangan Better.


"Tenanglah, mungkin itu suruhan ayahmu. Bukankah aku tengah menculik mu dari rumah." Better, berusaha menenangkan Vanish dengan spekulasi yang justru semakin membuat gadis itu panik.


" Menculik? apa pacar akan di laporkan ke polisi nanti? Ah tidak! Aku tidak mau kalau sampai kamu di penjara!" Vanish terlihat panik. Ia bahkan bangun dari tempatnya duduk hendak menarik Better pergi.


"Aku akan bertanggung jawab. Lagi pula, aku baru menculik mu beberapa jam saja. Polisi tidak akan bisa menangkap ku." Better mencoba tersenyum. Meski hatinya merasa jedag-jedug tak karuan. Baru kali ini ia bawa lari anak perawan.


" Kau tidak akan selamat dari ayah, dia akan membunuhmu!" Vanish mendorong tubuh tegap Better, dengan tangannya yang kecil serta tubuh mungilnya. Pria itu bahkan tak bergerak sedikit pun dari tempat berdirinya.


"Biar saja. Biar, aku tidak bisa menyaksikan mu di ambil orang. Setidaknya, kau akan menemukan kebahagiaan itu tanpa diriku." Better berkata seolah-olah dirinya telah putus asa. Membuat Vanish merangkul lengannya erat.


"Bisa gak, kalo ngomong jangan sembarangan begitu!" Vanish menghentakkan kakinya kesal, bahkan air matanya sudah kembali meluncur deras di pipinya.

__ADS_1


" Itu lebih baik. Aku, lebih baik mati. Dari pada menikahi wanita yang tidak pernah ku cintai!" Better mendengus kasar. Kakinya hendak melangkah maju menghampiri orang-orang yang membawa senter. Hingga, sebuah tangan mungil melingkar di pinggangnya.


"Apa kau pikir, aku bisa hidup dengan tenang jika melihatmu mati, di depanku!" Vanish menenggelamkan wajahnya di punggung lebar itu, sembari sesenggukan.


"Kenapa kau jahat sekali!" Vanish menggoncang tubuh yang di peluknya, dadanya terasa sesak karena ucapan Better barusan.


Merasakan hal yang begitu menekan dadanya, hingga tenggorokannya ikut tercekat. Bahkan, untuk bernapas pun begitu sesak. Better membalik tubuhnya, ia kembali membawa raga mungil itu kedalam dekapannya, seraya berkali-kali menciumi pucuk kepala Vanish yang hanya setinggi dadanya saja.


"Biar saja aku mati di tangan ayahmu. Itu pantas untukku, karena telah membawa lari dirimu. Aku hanya laki-laki yang pengecut, aku memang pantas mati!"


"Siapa yang mau mati di tanganku!" hardik suara yang begitu berat. Seiring dengan sorotan tajam dari lampu senter besar.


"Tidak, Ayah! Kau tidak bisa membunuhnya. Aku yang menghampirinya, dia tidak bersalah!" Vanish telah berada di depan Better dengan merentangkan kedua tangannya.


"Anak kurang ajar! Beraninya kau menculik ...." Teriakan Roma tertahan oleh kata-kata Better.


"Aku memang bersalah. Habisi saja aku! Itu lebih baik, daripada aku hidup hanya untuk melihatnya bersama orang lain!" teriak Better. Ia merangsek kedepan, lalu menarik Vanish dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Maksudnya apa coba?


Roma dan Shim saling beradu pandang. Sementara dua ajudan di belakang mereka tengah menahan tawa. Apa yang terjadi sebenarnya?


" Untuk apa aku membunuh calon menantuku sendiri. Betulkan, Shim?" Roma menoleh ke arah Shim sambil menahan senyumnya. Begitu juga dengan Shim, ia bahkan menggeleng sambil terkekeh kecil.


"Maโ€“maksudnya?" Better mengarahkan pertanyaan seraya menatap bergantian pada dua pria paruh baya di hadapannya. Ia bahkan melirik dua ajudan yang terkikik di belakang papinya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜‘๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด, ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช? (Better bingung)


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ? ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ? ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ? ( Vanish juga bingung)


"Papi akan menghukummu, karena kau telah mangkir dari perkenalan dengan calon istrimu!" kata Shim tegas. Meski itu sedikit terlihat di paksakan, ia tak pernah berlakon sebelumnya.


"Begitupun, denganmu Nis! Ayah akan menikahkanmu malam ini juga!" ucap Roma serius. Soal akting pria ini memang jagonya. Ternyata mereka berdua telah sepakat untuk mengerjai anak-anak mereka.


" Tidak Ayah!" Vanish segera keluar dari persembunyiannya. Di mana tadi dirinya tertutup oleh tubuh gagah Better.


"Ninis gak mau nikah sama om itu!" tunjuk Vanish ke arah Shim. Di mana hal itu sontak membuat Shim tergelak. Vanish pun semakin takut di buatnya. Ia pikir pria tua itu senang dengan rencana sang ayah.


"Siapa yang kamu maksud, Nis?" Better bertanya dengan pelan, tapi masih bisa di dengar oleh yang lainnya.


"Pria tua itu, dia calon suami Ninis. Masih ganteng sih, tapi Ninis gak mau," lirihnya, kembali menenggelamkan wajahnya ke dada bidang kekasihnya itu.


"Maksudmu, papi? dia papiku ... calon suamimu!" geram Better tiba-tiba emosinya kembali meledak. Kesalahpahaman semakin berbelit.

__ADS_1


"Orang tua macam apa kau! Bagaimana bisa kau menjodohkan anak gadismu dengan laki-laki yang justru pantas menjadi ayahnya!" Marah Better sembari menunjuk ke arah Roma.


"Papi, tidak kusangka. Jika kau lah yang telah merebut kekasihku!" teriak Better, wajahnya sudah merah padam menahan amarah. Merasa takdir sungguh mempermainkannya. Padahal, ini cuma kerjaan dua orang tua yang iseng dan kurang kerjaan saja.


"Haihh ... Udahlah, Rom. Jelasin aja! Anak gua udah ngamuk tuh!"


"Ck, mereka aja yang terlalu cepat menyimpulkan. Tanpa mau terlebih dulu mencari tau apa yang terjadi sebenarnya." Roma berdecak gemas, akan kelakukan dua orang yang tengah berpelukan di hadapannya ini. Ingin rasanya ia memukul kepala pria gondrong itu dengan panci. Karena sudah seenaknya, memeluk putri nya itu.


๐ŸพAyah, seandainya kau tau apa yang sudah dan akan di perbuat oleh babang gondrong.๐Ÿ˜ฑ Seandainya kalian tidak datang. ๐Ÿ˜š


Padahal para pembaca udah tegang tauk๐Ÿ™„.


"Katakan! Apa maksud dari kalian berdua! Tolong, jangan mempermainkan kami!" Better menyela perdebatan yang dilakukan Roma dan Shim.


"Lepaskan dulu putriku! Enak saja kau terus memeluknya sejak tadi!" Roma merangsek maju hendak menarik tangan Vanish. Tali, gadis itu menepis tangan Roma.


"Gak mau, Yah. Ninis gak mau nikah sama om Shim!" pekik Vanish.


"Heh! Siapa yang mau nikahin kamu sama si tua bangka itu!" Roma terkekeh.


"Hei! Siapa yang kau sebut tua bangka, bangkotan!" geram Shim tak terima panggilan yang di sematkan padanya.


"Ayah?" Vanish bingung dengan perkataan ayahnya, kalau bukan dengan Shim, lalu dengan siapa?


"Sudah, lepaskan pria itu. Dia belom sah jadi suamimu, Nak." Roma menarik lagi tangan Vanish agar lepas dari pelukan Better.


"Jadi yang aku culik adalah?" tanya Better dengan segala kebingungannya. Karenanya, ia melepas pelukannya terhadap Vanish.


"Dia calon istrimu!" ujar Shim, dengan senyum miringnya. Lalu, ia ikut menghampiri putra angkatnya itu.


"Jadi, bukan Paman yang akan menikah denganku?" tanya Vanish ketika Shim melewatinya.


"Kapan ayah bilang begitu?" ledek Roma menimpali pertanyaan putrinya.


"Jadi??"


Vanish dan Better pun saling berpandangan, dengan senyum samar yang hampir tercetak dari keduanya. Hingga gelak tawa itu menyeruak dari kedua orang tua mereka.


"Hahaha ...! Ternyata cinta itu memang buta!"


" Hahahah ...! Tuli juga sepertinya!"

__ADS_1


๐ŸพJangan ketinggalan dengan bahlulnya. Karena cinta bisa bikin si jenius mendadak stupid.๐Ÿคฃ


Bersambung>>>>


__ADS_2