
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Operasinya berjalan dengan baik. Kami tidak perlu mengangkat rahimnya," jelas sang dokter. Membuat dahi Better berlipat tiga seketika.
"Maksud anda? Tapi bukankah sebelumnya, diagnosis dokter mengatakan bahwa ..?" Better tak dapat meneruskan kalimatnya. Dirinya masih bingung karena itu ia membiarkan dokter tersebut melanjutkan keterangannya.
"Jadi begini, Dokter obgyn yang bekerja sama dengan tim bedah terbaik rumah sakit ini. Menemukan pangkal penyebab pendarahan. Juga penyebab janin di dalam rahim istri anda tidak berkembang dengan semestinya. Kami, menemukan kista sebesar kepalan tangan bayi menempel pada dinding rahim, mengikat plasenta sehingga janin tidak mendapat nutrisi yang seharusnya serta inilah yang mengakibatkan istri anda pendarahan hebat," jelas sang dokter kepala tim. Membuat napas Better lega seketika.
"Jadi, sekarang keadaan istri saya sudah baik-baik saja kah Dok?" tanya Better dengan raut wajah yang sudah tidak setegang tadi.
"Istri anda sudah melewati masa kritisnya. Hanya menunggunya sadar dari efek obat bius saja.Dua jam lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan setelah tim kami selesai mengobservasi. Kami juga menyarankan selama pemulihan agar menjaga pola makan, istirahat dan juga tingkat stress. Untuk dua tahun ke depan, di sarankan agar istri anda tidak hamil dahulu. Kami akan menyarankan penggunaan alat kontrasepsi dan silakan nanti bisa di bicarakan di ruangan saya bila sudah mau keluar dari rumah sakit," kata Dokter itu lagi. Memberi penjelasan detil yang sangat merubah perasaan suasana hati Better. Serasa batu yang mengganjal dadanya sirna sudah.
"Bolehkah saya melihatnya sekarang Dok?" tanya Better. Dirinya sangat ingin melihat keadaan Vanish. Tak lama kemudian brangkar yang membawa istri mungilnya itu melewatinya. Better menatapnya sekilas dengan pandangan penuh arti.
"Istri anda kami pindahkan ke ruangan ICU. Karena kami masih memantau kondisinya. Silahkan, patuhi protokol kami jika ingin masuk satu-persatu saja agar pasien tidak terganggu." Setelah memberi penjelasan dan arahan. Dokter tersebut berlalu dari hadapan Better. Pria yang rambut gondrongnya tergerai itu, mendatangi para sahabatnya.
"Tuan, Nyonya. Vanish ... istriku," lirih Better kemudian pria itu terisak seraya membekap mulutnya dengan kepalan tangan. Kepalanya menunduk dengan bahu yang naik turun.
"Bet, tenanglah. Katakan pada kami apa yang terjadi." Arjuna merengkuh bahu bergetar itu. Berusaha menenangkan emosi salah satu orang kepercayaannya itu.
"Bet, tolong jangan bikin aku takut. Katakan ada apa dengan Vanish! Apa yang terjadi dengan operasinya!" Susi setengah berteriak di depan wajah Better. Dirinya bahkan menarik ujung kemeja suami dari sahabatnya itu.
" Sayang, tenanglah. Biarkan Better menguasai emosinya dahulu." Arjuna menarik Susi kemudian menangkup kedua pipi istrinya itu.
__ADS_1
"Aku takut Ar. Dia sahabatku, satu-satunya orang yang pertama kali menerimaku dan membimbingku ketika di basecamp kala itu. Dia sosok yang selalu menghiburku. Ninis anak yang baik, tidak sepantasnya dia mengalami nasib buruk." Susi tenggelam dalam pelukan suaminya dengan isak yang tertahan. Arjuna mengusap punggung bergetar istrinya itu dengan lembut. Hatinya pun turut merasakan bagaimana perasaan Susi saat ini.
"Bet, ngomong dong. Jangan bikin kita bingung dan menduga-duga. Katakan apa yang tadi dokter itu bilang!" pekik Milna, bahkan ia juga mencengkeram lengan Better dengan napasnya yang memburu.
"Maaf, saya hanya butuh melupakan emosi ini sebentar," ucap Better, ia menghela napasnya hingga kembali teratur. Karena ia tidak ingin menemui Vanish dengan sesak yang menggulung dadanya.
"Vanish, dia baik-baik saja. Dokter mengatakan rahimnya tidak perlu diangkat dan masih memiliki peluang untuk hamil," jelas Better dengan emosi yang mulai tertata.
"Ya Tuhan!" pekik Susi berbarengan dengan Milna. Mereka membekap mulutnya masing-masing sambil bertatapan satu sama lain. Kedua menghambur dalam pelukan. Bahagia dan lega itulah yang mereka rasakan, ketika kondisi Vanish di ketahui baik-baik saja.
Arjuna mengerucutkan bibirnya, ia sudah membentangkan tangannya bersiap menerima Susi, sekiranya wanita itu butuh pelukan. Tapi sayangnya tidak kali ini, kedua wanita itu membutuhkan satu sama lain untuk menumpahkan kelegaan hati mereka.
" Saya akan masuk untuk melihat Vanish. Jika Nyonya ingin masuk bisa bergantian dengan Milna nanti. Tuan dan Joy saya rasa tidak perlu." Setelah berpesan Better pun berlalu dengan cepat. Sambil jalan pria itu terlihat menguncir kembali rambutnya.
"Ngesellin ya Bos." Joy berkata seraya meletakkan tangannya di bahu Arjuna. Membuat pria itu melirik sinis ke arah bahunya.
"Aish! Maaf Tuan. Tangan saya bersih kok, beneran!" kikuk Joy karena telah melakukan kesalahan yang tidak disengaja.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ด๐ถ๐ฑ๐ฆ๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฉ. ๐๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ด๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ค๐ข๐ถ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ฉ๐ฉ! Joy membatin, panik mulai menguasai hati dan pikirannya. Ia tau konsekuensi apa yang akan di terimanya nanti. Atau bisa saja Arjuna membuka jasnya saat ini juga dan benar saja ...
Bukk!
Sebuah Jas mahal mendarat sempurna di wajah ketakutan Joy.
__ADS_1
"Pergi jauh-jauh sana!" hardik Arjuna pada anak buahnya itu. Anak buah yang sangat fleksibel, bisa di jadikan apa saja olehnya. Dengan misi apapun itu.
"Kalian berdua kenapa!" Tiba-tiba Susi sudah berkacak pinggang di hadapan keduanya.
"Aku hanya gerah sayang. Sudah, biar saja jas itu aku hadiahkan padanya. Aku kan bos yang baik," dalih Arjuna seraya membawa istrinya untuk kembali duduk di kursi tunggu. Menanti giliran untuk masuk menengok keadaan Vanish.
Sementara itu, di dalam ruangan ICU.
Better menatap nanar ke atas brangkar dimana Vanish tengah terlelap dengan tenang di sana. "Sayang, bagaimana keadaanmu saat ini? Apa yang kau rasakan? Mana bagian tubuhmu yang sakit biar aku usap dan aku tiup." Better berkata dengan lirih, sesekali napasnya tercekat. Meski kekhawatirannya telah pupus, tetap saja batin siapa yang tega ketika melihat kondisi Vanish saat ini.
Wajah yang ditutupi oleh selang oksigen, disertai benda bertangkup yang menutupi hidung serta mulutnya. Beberapa kabel pada jari serta pergelangan kaki. Juga selang infus dan kateter.
Melihat begitu banyak alat di tubuh istrinya membuat air mata itu luruh kembali. Better tak kuasa menahan sedih dihatinya. Melihat istrinya yang lincah dan ceria kini terbaring lemah tak berdaya.
"Sayang, apa kau kedinginan. Jari-jarimu beku. Apa aku perlu memberikan selimut untukmu? Ruangan ini sangat dingin, kau bahkan tidak suka suhu terlalu dingin." Better menggenggam jemari lentik itu perlahan. Kemudian menggosok telapak tangan Vanish dengan telapak tangannya. Berharap jemari istrinya itu tak lagi beku.
"Aku akan mengatakan pada perawat untuk mengecilkan AC-nya. Juga membawakan selimut untukmu. Kau baik-baiklah. Cepatlah sadar dan pulih kembali. Aku sangat merindukanmu ...." Better melabuhkan kecupan dalam di kening Vanish. Lalu menempelkan dahi keduanya seraya melabuhkan kembali kecupannya pada sebelah pipi dari istri mungilnya itu.
"Aku keluar dulu ya, Moy. Ada Milna dan juga Nyonya yang ingin menengok mu. Aku berjanji akan kembali lagi nanti. Kau tau, sebelum kau di pindahkan ke kamar rawat inap aku tidak di perbolehkan untuk sering mengunjungimu. Apalagi menemanimu di sini, meskipun aku sangat ingin sekalipun. Karenanya, kau cepatlah pulih ya sayang. Agar aku dapat tidur sambil memelukmu lagi. Kau tau 'kan Moy? Kalau aku tidak akan bisa lelap jika tidak memeluk guling hidupku ini." Better menundukkan wajahnya kemudian mendekatkan punggung tangan Vanish ke bibirnya.
"Daa ... sayang, cepatlah sadar Imoy-ku. Agar kau segera di pindahkan ke ruangan VVVIP yang sudah disiapkan oleh tuan Arjuna." Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Better pun melangkah pergi. Meski kaki itu terasa berat kala di gerakkan menjauh dari brangkar Vanish.
"Su ... gan ...."
__ADS_1
Bersambung>>>>