
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
๐๐ข๐ฌ, ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฐ๐ด๐ข ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ฏ, ๐ฏ๐ข๐ฌ.
๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฐ๐ด๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฃ๐ข๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข.
๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ, ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ!
"Mbak! Mbak!"
"Si Ibu, yang stroke itu. Tidak ada denyut nadinya!" lapor wanita yang bertugas merawat Easy, panik.
"Ya, dia sudah tiada," jelas wanita paruh baya, pemilik yayasan. Kemudian ia meletakkan kedua tangan Easy di atas perut. Lalu, menutupi tubuh dingin itu dengan kain putih dari kepala atas hingga kaki.
" Jadi, ini akhirnya. Meregang nyawa tanpa satu pun sanak saudara. Bahkan, salah satu dari kita pun, tidak ada yang menyadarinya." Raut sesal dan iba kentara terlihat, dari wajah sendu para perawat itu.
"Perintahkan, para penjaga untuk segera memakamkannya!" titah sang pemilik yayasan.
"Baik, Bu!"
Para perawat itu pun bergegas, melakukan prosesi untuk jenazah dengan terampil. Karena sudah biasa bagi mereka menghadapi situasi seperti ini.
"Iyuuhh! Bau sekali!"
"Kenapa, bau nya tidak juga hilang?"
"Sudah habis sabun lima botol, tapi baunya masih menjijikkan!"
"Bagaimana ini? Apa kita sumpal saja lubang ๐๐ฃ๐ช๐ฃ๐ฎ๐?
Beberapa perawat yang bertugas membersihkan dan mengurus jenazah Easy, terus menggerutu sejak tadi. Sudah hampir tiga jam, mereka belum juga selesai memandikan.
" Ada apa ini, kenapa belum selesai juga?" tanya wanita pemilik yayasan.
"Ini, Bu. Jenazahnya terus mengeluarkan bau, sehingga tidak ada yang mau mengangkatnya kedalam peti," jelasnya, dengan wajah yang terlihat lelah dan hampir putus asa.
"Gunakan masker atau apapun, masukan saja tidak usah dimandikan lagi!" geram wanita paruh baya itu.
"Jangan membuang waktu dengan satu orang. Sementara tugas kalian masih banyak. Lihatlah, para orang tua itu jadi tak terurus," titah sang pemilik yayasan, ia tak tahan juga. Sejak kedatangan Easy selalu saja ada masalah di pantinya.
"Haish, sudah di kubur saja, masih bau. Apa yang di lakukan orang ini semasa hidupnya?" heran petugas makam. Mereka saling pandang sembari menggelengkan kepalanya.
________
"๐๐ฉ, ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช! ๐๐ฆ๐ต๐ฐ๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ณ?
"Aโapi! Apinya semakin besar dan menyambar seluruh bangunan. Panas! Panas sekali semburan hawanya!" Seno, menghalangi wajahnya dari hawa panas dengan kedua tangannya.
Tubuhnya tidak bisa bergerak sama-sekali. Beberapa orang yang berlari panik di hadapannya hanya acuh terhadap keadaannya.
"Hei! Tolong aku singkirkan batu-batu ini!"
"Apa kalian dengar! Ini sakit sekali!"
__ADS_1
" Tempat ini akan meledak! Cepat keluar!" Teriak orang-orang itu.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ฐ๐ด๐ช๐ด๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ! ๐๐ณ๐จ๐ฉ! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ฐ๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ!
Broooaammmm!!
Ledakan kesekian kali terdengar lagi, dari dalam bangunan. Potongan material pun berhamburan keluar. Seperti batu, kayu, besi dan juga pecahan kaca.
Bagian atap pun berjatuhan di sekitaran Seno, pria itu tidak bisa berkutik sedikit pun. Hatinya mulai diselimuti rasa takut, takut akan kegagalan, takut tidak akan pernah bisa menemui sang mami lagi.
Prankk!!
Lempengan atap berjatuhan, disertai semburan api. Seno berteriak ketakutan, napasnya mulai memburu tak beraturan. Di sekitarnya asap telah membubung abu pekat.
"Uhukk! Uhukk!"
"Aโaku, tidak mau mati, tidak!"
"Kenapa aku ... harus menyaksikan kejadian ini? Semua karena ... beton sialan yang menimpa kakiku!" Seno bergumam dengan suara yang terputus-putus.
Meski ancaman bahaya yang akan mengancam nyawanya, telah nyata di depan mata. Namun, tak ada sepatah kata pun kalimat penyesalan, yang terucap dari mulutnya.
Justru, Seno terus memaki dan mengumpat setiap kejadian yang menimpa dirinya. Pria itu benar- benar berhati besi.
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ... ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ! ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ฐ๐ฏ ๐ด๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช!
Akan tetapi, harapan tak sesuai pada kenyataan. Kejadian kali ini, sontak membuat kedua mata Seno terbelalak. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Bangunan yang telah terbakar seluruhnya, kembali meledak. Menyemburkan material lebih kecil dari sebelumnya.
Pecahan batu, kaca menimpa Seno hingga menggores beberapa bagian tubuhnya. Satu benda melayang dengan cepat, sebuah lempengan yang mirip seng itu melesat hingga ...
"Heghh!"
Darah memercik ke segala arah, ketika lempengan besi itu menebas batang leher Seno, hingga hampir terpisah dari raganya.
Raga itu terkapar, tergeletak lemah. Setelah tadi sempat kejang-kejang sekitar sepersekian detik.
Dengan mata mendelik, Seno terlihat masih menggerakkan bibirnya.
๐๐ขโ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ...
๐๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ...
๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข , ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ....
Tak lama kemudian, beberapa warga sekitar mendekat berdatangan. Di ikuti dengan kendaraan besar berwarna merah menyala.
"Periksa dia!" Seorang bagian kesehatan memeriksa denyut nadi Seno, kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Pria ini sudah tidak bernyawa lagi. Lehernya hampir saja putus, ia juga kehilangan banyak darah." Seorang warga yang kebetulan adalah tenaga medis, memeriksa keadaan Seno dengan seksama.
Hingga ia memastikan, untuk memutuskan bahwa, pria yang tertimpa batu pada pergelangan kakinya itu, kini sudah tiada.
"Cara pergi yang tragis sekaligus menyedihkan." Warga tersebut menutupi Seno dengan alat seadanya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, satuan kepolisian dari divisi lain serta pasukan khusus berdatangan. Mereka membantu untuk memadamkan api serta mengevakuasi korban.
"Selidiki, kenapa bisa terjadi kebakaran seperti ini. Hingga menelan korban yang sangat banyak, termasuk sipir dan juga para napi. Selidiki juga para narapidana yang berhasil kabur!" Seorang komandan pasukan khusus memberi perintah serta arahan kepada anak buahnya.
"Jangan sampai satu bukti pun terlewat. Kerahkan ahli forensik terhebat di negeri ini!" titah sang komandan tegas.
Keadaan menjadi sangat ramai dan ricuh. Karena tim pemadam kebakaran agak kesusahan memadamkan api.
Menjelang pagi, keadaan barulah terkendali. Bangunan 95%habis terbakar, dengan keadaan para korban yang sulit untuk diidentifikasi. Di karenakan keadaan mereka yang mengalami luka bakar hampir 85% di seluruh tubuhnya.
"Korban yang tertimpa beton, serta lehernya hampir putus. Ternyata adalah narapidana baru. Dia memiliki bekas luka tembak di bahu dan kaki. Bahkan, luka tersebut belum lama kering. Berikut data-data lengkap mengenai korban." Seorang pria dengan pangkat letnan, menyerahkan laporan TKP kepada atasannya.
Mereka, masih berada di tempat kejadian sejak semalam. Dengan bermalam bersama warga sekitar tempat kejadian perkara.
"Jadi dia bekas seorang presiden direktur sebuah perusahaan ternama, yang belum lama gulung tikar, lantaran sebuah skandal yang di lakukan istri dan juga Ibunya."
"Dalam hitungan waktu yang tidak seberapa lama, merubah keadaannya yang serba mewah dan terhormat menjadi terpuruk sedalam-dalamnya. Bahkan, mati pun dengan cara yang mengenaskan." Pria dengan tampang berwibawa tersebut, masih membalik halaman demi halaman laporan di tangannya.
"Jadi, wanita ini juga baru saja meninggal?" tanyanya seraya mendongak ke arah letnan.
"Benar, Pak. Bahkan, pemakaman dari wanita tersebut mendapat aduan masyarakat sekitar. Karena mereka terganggu dengan bau busuk yang berasal dari makam, lalu mengajukan pemindahan lahan makam," jelasnya, berita ini pun baru saja ia dapatkan dari anak buahnya. Dimana, berita ini telah viral di beberapa media sosial.
Termasuk kejadian kebakaran yang mengakibatkan ledakan besar, serta para napi yang mendapat remisi ikut menjadi korban.
"Bagaimana, dengan napi yang kabur? Apa sudah ada kabar?"
"Anak buah saya, masih melakukan penyisiran, Pak."
"Lanjutkan!"
"Sungguh, keluarga yang sensasional . Sejak hidup selalu mendulang kontroversi, mati pun sama." Kepala divisi kepolisian tersebut berdecak, miris.
______
"Sayang ...! ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ!" panggil Arjuna, dari arah ruang tamu. Sementara yang di panggil sedang asik membersihkan kamar tidur mereka yang macam habis di serang nuklir Rusia. Berantakan bin porak-poranda.
"Sayang ...," panggil Arjuna lembut, kini ia telah berdiri di depan pintu kamar.
"Ada apa!" seru Susi dengan berkacak pinggang. Sementara, rambutnya masih bergelung dengan handuk.
"Tetap di situ, dan jangan mendekat!" tahan Susi pada Arjuna, dengan menggunakan satu tangannya. Karena tangan yang lain tengah memegang sapu lidi.
" Baiklah, aku hanya ingin memberitahukan mu akan berita besar, yang menggemparkan." Arjuna, berbicara dengan mimik wajah seakan terkejut.
"Berita apa sih? Awas saja kalau prank!" Susi mengarahkan kepalanya ke arah Arjuna, membuat pria itu tergelak karena ekspresi istrinya itu malah lucu baginya.
"Kamu itu gak ada seram-seramnya kalau mengancam, mana ada orang takut," ucap nya di sela gelak tawanya.
"Sini, tabโnya!" Susi pun merampas tablet yang di pegang Arjuna.
"Aโapakah ini!!" Kedua mata Susi membola, kemudian tangannya segera membekap mulutnya sendiri.
Seketika, air matanya luruh membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Bersambung>>>