
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
...๐๐ค๐ฉ๐: ๐ฝ๐๐๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐๐ฅ๐๐ฉ - ๐๐๐ฅ๐๐ฉ ๐ฎ๐ ๐๐๐๐จ. ๐ ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐ ๐จ๐ ๐๐ฅ ๐๐ช๐๐. ๐ผ๐๐๐ง ๐ ๐๐๐๐๐๐ง๐๐ฃ ๐ ๐๐ก๐๐๐ฃ ๐ฉ๐๐ง๐๐๐ฉ๐ช๐ฃ๐ ๐ค๐ก๐๐ ๐จ๐๐จ๐ฉ๐๐ข....
...๐๐๐ ๐๐จ๐๐ ...๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฅ๐ฅ๐ฎ ๐ง๐๐๐๐๐ฃ๐!...
"Ya Tuhan. Lagi-lagi Vanish mengalami ini. Semua salahku, seharusnya aku tidak menyarankan padanya agar membawa masuk wanita iblis itu!" isak Susi bercampur dengan teriakan dari mulutnya. Ia sungguh tak percaya jika Vanish kembali mengalami pendarahan.
"Sayang, hentikan. Ini bukan salahmu. Tidak ada yang menyangka jika kejadiannya seperti ini. Bahkan Better sekalipun. Wanita itu sudah benar-benar gila." Arjuna mengusap dan memeluk raga sang istri yang bergetar dalam tangisnya. Kini mereka berada di depan ruang Instalasi gawat darurat.
"Vanish sangat menginginkan kehadiran seorang bayi, Ar. Dirinya pasti sangat bahagia sekali, karena dalam waktu dekat sudah hamil lagi." Susi berbicara sambil sesenggukan. Susi sudah menganggap Vanish sebagai saudarinya sendiri. Karenanya ia dapat merasakan kesedihan yang di alami oleh Vanish.
"Sayang, berhenti menyalahkan dirimu. Semua ini adalah musibah yang telah di tetapkan dalam buku takdir. Semoga Vanish baik-baik saja. Tanamkan itu di hatimu ya, sayang. Tolong jangan seperti ini, aku tidak kuat melihatnya." Arjuna berkata dengan lirih. Ia bahkan beberapa kali menciumi pucuk kepala Susi.
Sementara di dalam ruangan instalasi. Better terus menemani Vanish. Ia memaksa tim medis agar dapat berada di sisi Vanish hingga akhir pemeriksaan. Walaupun hanya dapat melihat dari sudut dinding, setidaknya ia dapat melihat istrinya terus.
Tim medis telah membersihkan tubuh Vanish dari darahnya sendiri. Kini mereka melakukan pemeriksaan dengan alat ๐ถ๐ญ๐ต๐ณ๐ข๐ด๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐จ๐ณ๐ข๐ง๐ช atau biasa disebut ๐๐๐.
"Tekanan darahnya sudah normal. Hemoglobin serta saturasi oksigennya juga bagus. Sampaikan kepada suaminya, bahwa kita sudah bisa memindahkan pasien ke kamar perawatan," ujar sang dokter pada ners yang membantunya.
"Baik Dokter." Perawat wanita yang berpakaian serba hijau muda itu mengangguk paham.
"Pak."
Better yang hanya bersandar dengan gusar, seketika menegakkan tubuhnya.
"Bagaimana istri saya?" tanyanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Istri anda akan di pindahkan ke ruang perawatan. Karena keadaannya sudah stabil," ucap perawat tersebut.
"Lalu bagaimana dengan ...,"
"Bayi anda baik-baik saja. Ia sangat kuat," perawat itu berkata dengan senyum bangga.
"Syukurlah." Better mengusap wajah sambil menghela napasnya lega dan penuh syukur. Ia bahkan sempat berpikiran buruk barusan.
__ADS_1
"Ternyata kalian baik-baik saja. Ayah tenang sekarang." Better mengelus pelan perut rata Vanish. Wajahnya berhiaskan senyum penuh kelegaan.
"Anakku ... sayang ...," racau Vanish, ketika kesadaran mulai singgah pada dirinya.
"Anak kita baik-baik saja, ๐๐ฐ๐บ. Dia begitu kuat. Padahal usianya masih sangatlah muda. Dokter bilang bayi kita baru berusia enam minggu. Bahkan, ukurannya baru sebesar kelereng," jelas Better antusias, padahal ia tau jika istrinya itu baru saja sadar dari pingsannya.
"Syukurlah, Ninis akhirnya bisa jadi ibu juga. Ninis sangat senang akhirnya dia selamat. Awalnya Ninis sangat takut," ucap Vanish terisak kecil.
"Aku juga senang sayang. Aku akan jadi ayah sebentar lagi. Maaf, karena aku tidak bisa melindungi mu dengan baik," sesal Better seraya menunduk.
" Sugan tidak bersalah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Bahkan Sugan telah memberikan yang terbaik buat Ninis. Kejadian ini adalah musibah, dan tiada siapapun yang dapat memprediksinya. Bukankah yang terpenting, buah cinta kita selamat. Mulai sekarang kita akan menjaganya bersama-sama. Ninis bahkan sudah tidak sabar menantikan kelahirannya di dunia. Jika dia laki-laki, pastinya akan setampan dirimu." Vanish berbicara dengan tenang, Ia berusaha membesarkan hati suaminya sekarang.
"Jika dia perempuan, maka akan secantik dan seimut ibunya," puji Better seraya mencolek hidung mancung Vanish.
" Akhirnya, Ninis bisa gendong bayi sendiri nanti," ucap Vanish lemah. Fisiknya masih lemah pasca pendarahan dan juga syok yang terjadi padanya.
"Mulai saat ini aku akan menjagamu dengan lebih baik lagi. Aku tidak akan membiarkan lagi siapapun juga menyakiti kalian." Better meremas pinggiran besi brangkar menahan geram.
"Jangan marah. ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ tidak boleh dendam. Jangan lakukan kekerasan. Ninis mohon ya," pinta Vanish dengan lirih. Ia menatap Better dengan pandangan sendu.
"Baiklah akan ku coba. Demi dirimu dan calon bayi kita." Better tersenyum sambil mengelus perut rata Vanish.
Kruyuuukkk ...!
"Eh, perut kamu bunyi sayang."
Vanish memasang senyumnya meskipun samar.
"Mau makan apa? Biar aku carikan untuk kalian berdua," tanya Better antusias. Ia akhirnya bisa menjalani juga peran suami yang siaga. Biasanya ia hanya mendengar curhatan dari Joy selama ini. Perihal bagaimana pusingnya memenuhi setiap keinginan Milna. Karena sahabatnya itu selalu mengatasnamakan bayi mereka.
"Ninis mau seblak," ucapnya sedikit tak enak hati. Karena takut Better, suaminya itu keberatan.
"Apapun itu, aku akan mencarinya untukmu." Better pun segera berselancar di internet, demi mencari tau apa jenis makanan yang di sebutkan oleh istrinya itu.
"Ini makanan pedas berkuah sayang. Bentuknya seperti sampah, apa benar ๐๐ฎ๐ฐ๐บ mau makan ini?" tanya Better memastikan.
__ADS_1
"Apanya yang aneh sih? ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ gak tau ya, kalau seblak itu makanan paling enak. Seger kuahnya. Kenyel-kenyel gitu kerupuk dan makaroninya," jelas Vanish, mendeskripsikan makanan yang tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya.
"Tapi, makanan ini begitu mengerikan. Apa maksud dari level ini. Namanya pun beragam," Better mengerutkan dahinya ketika menscrool jenis makanan tersebut di salah satu aplikasi pemesanan makanan online.
"Ada jahanam, Doweeerrr dan menjerit. Kening laki-laki gondrong itu semakin berkerut. " Ini nama makanan apa jenis penyiksaan?" gumamnya lagi, kemudian ia terkekeh setelahnya.
"Kenapa ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ tertawa?" Vanish memicing kearah suaminya.
"Ah, tidak sayang. Bagaimana, jadi mau pilih yang mana?" Better segera berkilah sebelum Vanish tersinggung dan salah sangka.
"Ninis mau yang menjerit ya," pintanya penuh semangat.
"Sayang, kalau mau menjerit. Nanti tunggu pulang kerumah saja ya. Tidak perlu makan seblak, biarkan aku saja yang membuatmu menjerit nanti. Bagaimana?" goda Better sembari menaik-turunkan alisnya. Sekarang ia bahkan bisa menggoda sang istri, padahal beberapa jam yang lalu. Jantungnya hampir lepas dari badan.
"Gak. Ninis maunya menjerit sekarang!" Vanish tetap pada pendiriannya. Karena ia tau jika Better hanya sedang mengalihkan keinginannya.
"Baiklah. ๐๐ด ๐บ๐ฐ๐ถ ๐ธ๐ช๐ด๐ฉ ๐ฎ๐บ ๐ญ๐ข๐ฅ๐บ." Better pun menyerah. Tatkala Vanish mengeluarkan watak kerasnya.
"Aku akan kebawah mengambil pesanan mu. Tunggu ya, kebetulan Nyonya Susi ingin sekali menemui mu." Vanish hanya mengangguk, kemudian menatap punggung suaminya itu hingga menghilang di balik pintu.
" Nyonya, masuklah. Saya akan ke lobi sebentar." Susi pun mengangguk. Better menundukkan kepalanya kemudian undur diri dari hadapan pasangan Susi dan Arjuna.
"Sayang, Ar." Seperti biasa, Susi meminta ijin terlebih dulu pada suaminya.
"Aku akan menemanimu." Arjuna tersenyum lalu merangkul istrinya itu memasuki kamar perawatan Vanish.
******
Baca karya baru otor yang lain juga ya.
Masukan rak favorit dan like setiap episodenya. Komen juga yang bawel boleh...๐
__ADS_1
Bersambung>>>>