
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Dokter muda itu segera memeriksa keadaan Easy, yang beberapa kali sempat mengalami kejang-kejang.
"Injeksi obat penenang, dosis rendah saja." Titahnya pada salah satu perawat wanita, sambil memeriksa keadaan Easy.
Sementara, Seno hanya bisa menunggu di luar ruangan. Dengan harap-harap cemas, akan apa yang menimpa sang mami.
๐๐ข๐ฎ, ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช๐ฎ๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ต๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ธ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช. ๐๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ.
Pria itu, terlihat membenamkan kepala pada kedua telapak tangannya. Sedangkan, kedua siku tangannya bertumpu di atas kedua lututnya. Bahunya terlihat bergetar, bias dari kekalutan dan kegamangan dalam hatinya.
Hingga, panggilan dari perawat wanita tak membuatnya bergeming.
"Tuan." Seorang perawat menepuk bahunya pelan. Karena sudah beberapa kali di panggil Seno tetap diam.
Dengan sedikit kaget, Seno menoleh. Segala hal yang berkecamuk di dalam kepalanya, membuat dirinya melanglang entah kemana.
"Bagaimana, keadaan mami saya?" tanya Seno dengan gurat khawatir yang kentara pada wajahnya. Pria itu mengusap matanya yang basah.
"Silakan, anda tengok sendiri, Tuan. Biar Dokter yang akan menjelaskan," ucap sang perawat tersebut.
Seno pun mengikuti perawat itu masuk, dimana banyak sekali alat di dalam ruangan tersebut.
"Dokter, bagaimana? Kenapa mami saya seperti ini?!" kaget Seno, manakala ia melihat Easy dengan keadaan mulutnya yang miring. Wanita paruh baya itu, hanya bisa menatapnya nanar.
"Semoga anda kuat, Tuan. Ibu anda terkena stroke berat. Hingga seluruh anggota tubuhnya, tak dapat di gerakkan. Beliau juga, kehilangan kemampuan bicaranya," jelas Dokter Franklin. Meski dengan berat hati, keadaan pasien tetap harus disampaikannya secara terbuka.
"MaโMami," lirih Seno menggenggam satu tangan Easy, yang terbebas dari selang infus.
Sedangkan, Easy. Wanita itu hanya bisa meluruhkan air matanya, tanpa menjawab sepatah katapun. Atau sekedar membalas genggaman tangan sang putra.
Kini, dirinya tak berdaya. Meskipun hatinya sakit dan tak terima dengan keadaan, ia hanya bisa pasrah. Bagaimana lagi, berteriak pun tak bisa, apalagi marah.
" Keadaan mami saya ini, hanya sementara kan, Dok?" tanya Seno dengan suara yang bergetar.
"Kita akan observasi lagi, sekitar dua pekan. Semoga, perkembangannya baik. Kami, juga menunggu kabar tentang obat palsu yang ibu anda konsumsi selama ini. Agar setelahnya, kami dapat menentukan tindakan serta pengobatannya ke depan," jelas sang Dokter dengan pandangan iba.
"Ibu yang sabar ya, segala kemungkinan itu pasti ada," ucap Dokter muda itu, tersenyum menyemangati Easy. Sementara wanita itu hanya bisa menangis dan merintih.
Tatapan matanya mengisyaratkan, bahwa ia tak mau hal ini menimpa dirinya.
Ya, Easy. Tiada siapapun yang mau, mengalami kemalangan seperti yang kau rasakan saat ini. Meski di bayar ratusan juta pun, semua orang akan memilih sehat dan dapat bergerak bebas.
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik untuk mami saya, Dok. Berapapun biayanya, saya akan bayar. Meskipun, saya harus kehilangan seluruh sisa harta saya. Tolong, kembalikan keadaan mami saya seperti sedia kala," lirih Seno, dengan suara serak menahan pilu di hatinya.
๐๐ข๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช, ๐ฏ๐ข๐ฌ? ๐๐ข๐ณ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ.
"Kami akan berusaha dengan sebaik-baiknya." Dokter itu, pun berlalu setelah berpamitan. Karena masih ada pasien lain yang harus di tanganinya.
"Tuan, nanti akan ada yang mengantar makanan untuk ibu anda. Tolong diberikan dengan di suapi perlahan. Kami permisi dulu." Para perawat itu sedikit menunduk, setelahnya mereka pamit undur diri.
Kedua pasang mata ibu dan anak itu saling bertabrakan pada tatapan yang dalam. Seno masih setia menggenggam erat, jari-jemari Easy yang lemas.
"Mami akan sembuh, aku janji. Jangan pikirkan hal lain lagi, terima saja semua takdir ini. Agar, Mami cepat kembali sehat," bujuk Seno, memberi semangat. Supaya sang mami berhenti menangis.
"Eehh ... eehh ...," racau Easy menimpali dengan suaranya yang hanya bisa melenguh kecil.
" Iya, Mam ... iya." Seno hanya bisa tersenyum tipis, memaksakan dirinya tegar.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ถ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช, ๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ....
"Sudah, Mami jangan menangis lagi. Sekarang, aku akan menyuapi mu. Kau ingat, dulu aku selalu di suapi ketika sarapan. Sebelum papi mengantarku dan juga kakak ke sekolah." Kenang Seno. Sambil menyuapi Easy, dengan bubur halus sedikit demi sedikit.
๐๐ฌ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ณ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ข๐ถ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ...
Easy kembali meluruhkan air matanya, bahkan lebih deras dari sebelumnya. Wajahnya semakin pucat, dengan gerakan dada yang seakan menahan sesak.
"MaโMami, apa kau tersedak atau apa? Kenapa kau menjadi susah bernapas? Oh, tidak ... aku harus memanggil Dokter." Seno pun menekan tombol merah di samping kepala brankar.
Perawat kembali memasang selang oksigen. Mengecek denyut nadi serta jantung.
"Pasien terlalu tertekan, oksigen dalam darahnya menurun, Dok!"
"Berikan injeksi penenang! Biarkan pasien tidur lebih lama!"
_______
Sementara itu, di suatu tempat pada waktu yang sama.
๐๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฏ๐ค๐ข๐ณ. ๐๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ข๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ญ๐ฐ๐ต, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ถ๐ข๐ญ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข. ๐๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ต๐ถ๐จ๐ข๐ด๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฌ ๐ฏ๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ข๐ด๐บ, ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฆ ๐ช๐ฏ๐ช.
Seorang pria berwajah asia dengan mata sipit serta rambut klimis rapi. Terlihat tengah merapikan beberapa berkas, berisi aset-aset perusahaan.
Ia akan mengantarkan itu semua, pada pihak yang telah menjadi pemilik perusahaan ini selanjutnya. Tak ada lagi Pradipta Residen, semua telah runtuh tanpa sisa.
Drrrtttt ....
__ADS_1
๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ข๐ญ ๐ฎ๐ฐ๐ฃ๐ช๐ญ, ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ข๐บ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ด๐บ? ๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช? ๐๐ข๐ฉ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ด๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ-๐ฌ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช.
"Apa tidak ada orang lain yang bisa kau ganggu. Selain diriku ini!" gerutu Rich pada layar ponselnya yang menampilkan panggilan dari Seno.
"Menyebalkan! Seharusnya aku abai saja." omelnya lagi. Meskipun jempolnya menggeser layar ponsel ke arah kanan.
๐ฒ "Halo, Seno Pradipta. Ada apa menghubungiku? Aku sedang sibuk kau tau?" sarkas nya dengan tersenyum miring, meski lawan bicaranya tak dapat melihat ekspresinya.
๐ฒ "Tugasku sudah selesai denganmu! Kini saatnya, aku liburan." Lapornya pada mantan majikannya itu.
๐ฒ "Ah, ya baiklah. Ini demi baktimu pada seorang ibu."
Tuutt!
Rich mematikan sambungan teleponnya sepihak.
"Seandainya kau tahu, siapa Easy sebenarnya. Apa kau masih akan berbakti dan berkorban untuknya?" Rich, terlihat mengeratkan rahangnya.
Jemarinya kembali menari mengusap layar benda pipih miliknya itu.
Tuuuut ...!
๐ฑ"Halo, Ken!"
๐ฒ "๐๐ฉ๐ข๐ต ๐ถ๐ฑ, ๐๐ถ๐ฅ๐ฆ!" Sahutan dari seberang sana.
๐ฑ" Pesankan tiket untuk dua hari ke depan!"
๐ฒ " Kau akan pulang? Waw, apa dunia sebentar lagi akan kiamat?" kekeh seorang pria di ujung telepon.
๐ฑ"๐๐ฉ๐ถ๐ต ๐ถ๐ฑ!"
Tuut!
"Ck, pulang malu. Gak pulang rindu ... ." Rich berdecak kesal, atas tanggapan pria yang di hubunginya.
๐พKau ni, Rich. Macam bang toyib aje?๐คฃ
Pe-eR buat klean gais ...
Apa yang di sembunyikan Easy, dan di ketahui oleh Rich??
Next bab, mau ke couple uwwuu ahh ...
__ADS_1
Siapa setujuuuu??
Bersambung>>>