Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Apa Yang Tersembunyi?


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Dokter muda itu segera memeriksa keadaan Easy, yang beberapa kali sempat mengalami kejang-kejang.


"Injeksi obat penenang, dosis rendah saja." Titahnya pada salah satu perawat wanita, sambil memeriksa keadaan Easy.


Sementara, Seno hanya bisa menunggu di luar ruangan. Dengan harap-harap cemas, akan apa yang menimpa sang mami.


๐˜”๐˜ข๐˜ฎ, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช. ๐˜’๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ.


Pria itu, terlihat membenamkan kepala pada kedua telapak tangannya. Sedangkan, kedua siku tangannya bertumpu di atas kedua lututnya. Bahunya terlihat bergetar, bias dari kekalutan dan kegamangan dalam hatinya.


Hingga, panggilan dari perawat wanita tak membuatnya bergeming.


"Tuan." Seorang perawat menepuk bahunya pelan. Karena sudah beberapa kali di panggil Seno tetap diam.


Dengan sedikit kaget, Seno menoleh. Segala hal yang berkecamuk di dalam kepalanya, membuat dirinya melanglang entah kemana.


"Bagaimana, keadaan mami saya?" tanya Seno dengan gurat khawatir yang kentara pada wajahnya. Pria itu mengusap matanya yang basah.


"Silakan, anda tengok sendiri, Tuan. Biar Dokter yang akan menjelaskan," ucap sang perawat tersebut.


Seno pun mengikuti perawat itu masuk, dimana banyak sekali alat di dalam ruangan tersebut.


"Dokter, bagaimana? Kenapa mami saya seperti ini?!" kaget Seno, manakala ia melihat Easy dengan keadaan mulutnya yang miring. Wanita paruh baya itu, hanya bisa menatapnya nanar.


"Semoga anda kuat, Tuan. Ibu anda terkena stroke berat. Hingga seluruh anggota tubuhnya, tak dapat di gerakkan. Beliau juga, kehilangan kemampuan bicaranya," jelas Dokter Franklin. Meski dengan berat hati, keadaan pasien tetap harus disampaikannya secara terbuka.


"Maโ€“Mami," lirih Seno menggenggam satu tangan Easy, yang terbebas dari selang infus.


Sedangkan, Easy. Wanita itu hanya bisa meluruhkan air matanya, tanpa menjawab sepatah katapun. Atau sekedar membalas genggaman tangan sang putra.


Kini, dirinya tak berdaya. Meskipun hatinya sakit dan tak terima dengan keadaan, ia hanya bisa pasrah. Bagaimana lagi, berteriak pun tak bisa, apalagi marah.


" Keadaan mami saya ini, hanya sementara kan, Dok?" tanya Seno dengan suara yang bergetar.


"Kita akan observasi lagi, sekitar dua pekan. Semoga, perkembangannya baik. Kami, juga menunggu kabar tentang obat palsu yang ibu anda konsumsi selama ini. Agar setelahnya, kami dapat menentukan tindakan serta pengobatannya ke depan," jelas sang Dokter dengan pandangan iba.


"Ibu yang sabar ya, segala kemungkinan itu pasti ada," ucap Dokter muda itu, tersenyum menyemangati Easy. Sementara wanita itu hanya bisa menangis dan merintih.


Tatapan matanya mengisyaratkan, bahwa ia tak mau hal ini menimpa dirinya.


Ya, Easy. Tiada siapapun yang mau, mengalami kemalangan seperti yang kau rasakan saat ini. Meski di bayar ratusan juta pun, semua orang akan memilih sehat dan dapat bergerak bebas.

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik untuk mami saya, Dok. Berapapun biayanya, saya akan bayar. Meskipun, saya harus kehilangan seluruh sisa harta saya. Tolong, kembalikan keadaan mami saya seperti sedia kala," lirih Seno, dengan suara serak menahan pilu di hatinya.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ? ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ.


"Kami akan berusaha dengan sebaik-baiknya." Dokter itu, pun berlalu setelah berpamitan. Karena masih ada pasien lain yang harus di tanganinya.


"Tuan, nanti akan ada yang mengantar makanan untuk ibu anda. Tolong diberikan dengan di suapi perlahan. Kami permisi dulu." Para perawat itu sedikit menunduk, setelahnya mereka pamit undur diri.


Kedua pasang mata ibu dan anak itu saling bertabrakan pada tatapan yang dalam. Seno masih setia menggenggam erat, jari-jemari Easy yang lemas.


"Mami akan sembuh, aku janji. Jangan pikirkan hal lain lagi, terima saja semua takdir ini. Agar, Mami cepat kembali sehat," bujuk Seno, memberi semangat. Supaya sang mami berhenti menangis.


"Eehh ... eehh ...," racau Easy menimpali dengan suaranya yang hanya bisa melenguh kecil.


" Iya, Mam ... iya." Seno hanya bisa tersenyum tipis, memaksakan dirinya tegar.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ....


"Sudah, Mami jangan menangis lagi. Sekarang, aku akan menyuapi mu. Kau ingat, dulu aku selalu di suapi ketika sarapan. Sebelum papi mengantarku dan juga kakak ke sekolah." Kenang Seno. Sambil menyuapi Easy, dengan bubur halus sedikit demi sedikit.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ...


Easy kembali meluruhkan air matanya, bahkan lebih deras dari sebelumnya. Wajahnya semakin pucat, dengan gerakan dada yang seakan menahan sesak.


"Maโ€“Mami, apa kau tersedak atau apa? Kenapa kau menjadi susah bernapas? Oh, tidak ... aku harus memanggil Dokter." Seno pun menekan tombol merah di samping kepala brankar.


Perawat kembali memasang selang oksigen. Mengecek denyut nadi serta jantung.


"Pasien terlalu tertekan, oksigen dalam darahnya menurun, Dok!"


"Berikan injeksi penenang! Biarkan pasien tidur lebih lama!"


_______


Sementara itu, di suatu tempat pada waktu yang sama.


๐˜ˆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ต, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜บ, ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Seorang pria berwajah asia dengan mata sipit serta rambut klimis rapi. Terlihat tengah merapikan beberapa berkas, berisi aset-aset perusahaan.


Ia akan mengantarkan itu semua, pada pihak yang telah menjadi pemilik perusahaan ini selanjutnya. Tak ada lagi Pradipta Residen, semua telah runtuh tanpa sisa.


Drrrtttt ....

__ADS_1


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜บ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช? ๐˜๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช.


"Apa tidak ada orang lain yang bisa kau ganggu. Selain diriku ini!" gerutu Rich pada layar ponselnya yang menampilkan panggilan dari Seno.


"Menyebalkan! Seharusnya aku abai saja." omelnya lagi. Meskipun jempolnya menggeser layar ponsel ke arah kanan.


๐Ÿ“ฒ "Halo, Seno Pradipta. Ada apa menghubungiku? Aku sedang sibuk kau tau?" sarkas nya dengan tersenyum miring, meski lawan bicaranya tak dapat melihat ekspresinya.


๐Ÿ“ฒ "Tugasku sudah selesai denganmu! Kini saatnya, aku liburan." Lapornya pada mantan majikannya itu.


๐Ÿ“ฒ "Ah, ya baiklah. Ini demi baktimu pada seorang ibu."


Tuutt!


Rich mematikan sambungan teleponnya sepihak.


"Seandainya kau tahu, siapa Easy sebenarnya. Apa kau masih akan berbakti dan berkorban untuknya?" Rich, terlihat mengeratkan rahangnya.


Jemarinya kembali menari mengusap layar benda pipih miliknya itu.


Tuuuut ...!


๐Ÿ“ฑ"Halo, Ken!"


๐Ÿ“ฒ "๐˜ž๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฑ, ๐˜‹๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฆ!" Sahutan dari seberang sana.


๐Ÿ“ฑ" Pesankan tiket untuk dua hari ke depan!"


๐Ÿ“ฒ " Kau akan pulang? Waw, apa dunia sebentar lagi akan kiamat?" kekeh seorang pria di ujung telepon.


๐Ÿ“ฑ"๐˜š๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฑ!"


Tuut!


"Ck, pulang malu. Gak pulang rindu ... ." Rich berdecak kesal, atas tanggapan pria yang di hubunginya.


๐ŸพKau ni, Rich. Macam bang toyib aje?๐Ÿคฃ


Pe-eR buat klean gais ...


Apa yang di sembunyikan Easy, dan di ketahui oleh Rich??


Next bab, mau ke couple uwwuu ahh ...

__ADS_1


Siapa setujuuuu??


Bersambung>>>


__ADS_2