
π₯π₯π₯π₯π₯
" Dok, pasien pendarahan."
"Berikan, obat pemberhentian darah sekarang!" titah Dokter Netta.
"Susi, ini sudah jalannya. Kami harus menyelamatkan kalian berdua," ucap Netta, sembari memegangi tangan Susi.
"Benar sayang, pengorbanan mu tidak akan sia-sia. Justru, semua akan percuma jika sampai terjadi hal yang buruk pada kalian berdua." Arjuna, menciumi wajah istrinya berkali-kali. Ia takkan menyerah untuk membujuk Susi yang keras kepala sejak ia berbadan dua.
"Lakukanlah, Netta. Selamatkan anakku ...," ucap Susi lirih dan lemah.
"Segera persiapkan semuanya. Kita lakukan pembedahan segera." Susi pun dibantu untuk duduk, dengan di peluk oleh Arjuna dari depan serta dipegangi oleh dua orang perawat. Lalu, salah satu perawat menyuntikkan bius epidural melalui tulang punggungnya.
Sungguh pengorbanan seorang wanita yang akan menjadi ibu itu luar biasa. Perjalanan panjang dalam mengandung sang buah hati tercinta, masih di uji dengan proses melahirkan yang menguras keringat serta darah. Apapun jalannya, semua itu membuat nasib sang ibu bagaikan berada di ujung tanduk.
Tak ada yang tau, tak ada yang bisa memprediksi. Dokter bahkan ahli sekalipun. Karena komplikasi terhadap proses kelahiran pasti akan terjadi. Baik secara normal maupun cesar. Tak ada satupun alat yang mampu mendeteksi, kerusakan pada salah satu jaringan alat reproduksi wanita yang rentan tersebut.
Wahai para laki-laki, masihkah kau menganggap bahwa wanita adalah makhluk lemah? Ketika dirinya telah mampu menanggung kesakitan dan kelelahan hingga nyawa yang menjadi taruhannya.
Masihkah kalian tega, menyakiti hati bahkan pisik mereka. Para wanita, yang telah bersusah payah dan rela berkorban, demi melahirkan keturunanmu di muka bumi. Agar, kau mampu berjalan di atasnya dengan bangga dan percaya diri.
Proses operasi berlangsung, Arjuna tak sedetik pun bergeser dari sisi istrinya itu. Keadaan Susi terus di pantau oleh tim medis. Meski pendarahannya telah berhenti, tapi tekanan darahnya masih rendah.
Arjuna terus mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali, hingga sebuah senyum samar tercipta dari wajah yang pucat itu.
"Ar, terima kasih. Telah memberikan kebahagiaan yang begitu luar biasa untukku," lirih Susi dengan nada yang sangat lemah.
"Sayang, kaulah yang telah memberiku lebih banyak kebahagiaan. Kau dengar itu suara bayi kita, Satria Junior telah lahir." Arjuna berucap dengan tawa haru, ia mengecup kembali kening Susi dengan dalam. Hingga tanpa terasa bulir air mata ini menetes dari kedua ujung matanya.
"Aku, menyayangi kalian berdua. Berbahagialah, meski tanpa aku di sisi kalian. Berjanjilah, Ar ...," ucap Susi dengan suara yang hilang timbul.
"Kenapa kau bicara seakan ingin pergi meninggalkan kami, sayang? Saβsayang! Jangan tidur!" panggil Arjuna yang panik karena melihat mata Susi terpejam.
__ADS_1
"Dokter! Suster! Kenapa istri saya tidur!" Teriaknya, pada tim medis.
"Kesadaran pasien menurun Dok, detak jantung dan nadinya lemah. Tensinya sangat rendah." Jelas perawat yang tengah meriksa monitor yang tersambung dari beberapa alat yang di pasang di tubuh Susi.
"Pendarahan kembali terjadi, segera tutup jalur pendarahannya. Lakukan transfusi darah sekarang!" Netta memerintahkan kepada timnya agar bergerak cepat, karena keadaan Susi yang mendapat komplikasi dari jaringan rahimnya yang luka.
"Apa yang terjadi dengan istri saya! Mana bayiku, bawa kesini! Istriku ingin melihatnya!" Arjuna berteriak panik, karena semua tim medis juga panik .
"Tenang, Tuan. Sebaiknya anda keluar. Biarkan kami menangani istri anda. Silakan, bayi anda pasti akan membutuhkan anda untuk pelekatan. Ikuti, perawat berbaju krem itu ya, mari." Seorang perawat, mengusir Arjuna secara halus. Selain akan mengganggu tim medis dengan kepanikannya. Sang bagi juga membutuhkannya, karena keadaan sang ibu yang pingsan, sehingga tidak dapat melakukan proses πππΏ (ππ―πͺπ΄πͺπ’π΄πͺ ππ¦π―πΊπΆπ΄πΆ ππͺπ―πͺ ).
Tak dapat menolak. Arjuna akhirnya memasrahkan keadaan Susi di tangan tim medis. Ia keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Entah ia harus senang atau sedih karena, anaknya telah berhasil lahir dengan selamat. Namun, di balik itu semua hatinya sangatlah hancur melihat keadaan istrinya yang kritis,
"Sayang, kau pasti baik-baik saja. Aku dan Satria menunggumu bangun. Kau harus bangun." Arjuna menghapus air matanya yang berlinang tiada henti.
"Tuan, bayi anda ..,"
"Baik, antarkan saya padanya." Arjuna pun, mengikuti sang perawat. Ia harus menggantikan Susi untuk proses pelekatan dini.
"Anak Daddy, mommy-mu pasti bangun untuk menemui mu. Ia harus melihat wajah tampan mu, yang menurun dari Daddy-mu ini." ucap Arjuna, sambil mengecup lembut pucuk kepala bayinya itu.
Sementara itu di dalam ruangan operasi.
"Bagaimana, cara kita memberi tahu suaminya, Dok?"
"Biar aku yang bicara padanya. Pindahkan pasien, ke ruangan ICU sekarang. Pantau terus perkembangannya. Semoga, pendarahan berhenti nanti pagi. Atau, pasien tidak akan bisa melihat matahari terbenam besok." Netta, mengucapkan kalimat itu dengan berat hati. Bagaimanapun, ia turut sedih, akan keadaan istri dari sahabatnya itu. Namun, ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Apa yang terjadi selanjutnya, sudah bukan lagi kuasanya.
"Tuan, anda di tunggu Dokter Netta di ruangannya. Mari, saya antar," ucap seorang perawat yang menghampirinya di ruang khusus bayi.
"Baiklah, setelah aku berpamitan dengan bayi ku." Arjuna pun melangkah mendekati box bayinya.
"My Boy, My Georgeus Son. Daddy tinggal dulu ya, hanya sebentar. Nanti, Daddy kembali, dan kita akan ketemu mommy sama-sama. Ok!"
ππ‘ππ .
__ADS_1
"Juna, duduklah." Netta mempersilakan, Arjuna yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
" Katakan saja cepat! Bagaimana operasinya!" Arjuna menggebrak meja kerja Netta, hingga Dokter Obgyn itu tersentak.
" Bagaimana, aku akan memberitahumu? Jika kau tidak bisa tenang? Kau harus menerima kabar apapun yang akan ku katakan. Karena, semua yang terjadi di luar kuasa kami. Kau juga sudah tau, jika wanita yang melahirkan nasibnya berada di ujung tanduk." Netta menjelaskan, dan memasang tameng dahulu untuk dirinya. Sebelum ia menyampaikan kabar buruk ini pada Arjuna.
_______
"Sugan, bagaimana? Apa belum diangkat juga?"
"Tuan, mengirim pesan. Nyonya Susi ...," Better, tidak dapat meneruskan kata-katanya. Ia justru menatap Vanish dengan wajah sendu.
"Ada kabar apa! Kak Susi kenapa! Sugan, kenapa memasang wajah yang ku benci? Katakan kalau kak Susi baik- baik saja, hiks." Vanish, yang faham jika keadaan sedang tidak baik. Hanya bisa menangis di dalam pelukan suaminya.
_______
"Sayang, maafkan aku. Aku belum bisa membawa Junior menemui mu. Kondisinya belum bisa di bawa terlalu lama di luar kotak bayinya. Bangunlah! Aku akan mengantarmu ke ruangan baby S. Ya, itulah panggilan yang kuberikan untuknya. Bila kau tidak setuju, kau bisa bangun dan memarahiku. Arjuna menggenggam tangan Susi yang terhubung selang transfusi darah. Ia menatap basah, wajah yang di penuhi alat bantu itu. Hatinya sangat sakit melihat selang ventilator yang terhubung lewat mulut istrinya itu. Sedangkan, beberapa alat lainnya terpasang di dada dan pergelangan tangan Susi. Hanya selembar kain hijau lah, yang menutupi tubuh polos istrinya itu.
Pria itu terisak perih, melihat ibu dari putranya. Kini terbaring tak berdaya setelah berjuang dengan kesakitan luar biasa.
"Kenapa jadi begini? Seandainya sejak awal aku tidak menurutimu. Semua ini tidak akan pernah terjadi."
"Kau harus bangun, sayang. Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi. Aku dan anak kita, tidak akan pernah bahagia tanpa dirimu. Kau harus bangun! Kau tau, baby S sangat tampan. Kau harus melihatnya, menggendongnya, juga menyusuinya. Aku tidak akan memberikan susu sapi padanya. Karena baby S adalah anak kita, bukan anak sapi! Kau dengar tidak! Kau harus bangun!" Arjuna mengguncang bahu Susi.
"Kau harus bangun, sayang ...," lirih Arjuna dengan suara serak. Akhirnya pria itu tergugu di samping brangkar istri tercintanya.
Setelah puas menangis dan berbicara dengan Susi. Arjuna pun bangkit. Ia menyeka air matanya kasar, lalu berjalan keluar ruangan dengan cepat.
Brughh!
"Tuan!" Batter menatap mata merah yang basah itu dengan napas tercekat.
Bersambung>>>
__ADS_1