Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 294. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Jadi, Joy dan kak Nana akan pergi?" tanya Vanish. Ia sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat ekspresi Better suaminya. Pria berwajah asia itu hanya tersenyum kemudian melabuhkan kecupannya di pucuk kepala Vanish, sang istri.


" Ninis, gak punya sahabat dong." Gumamnya lesu. Melihat istrinya tak bersemangat, Better mengusap punggung polos Vanish secara perlahan.


"๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ, geli ih!" protes Vanish menggeliat. Ia juga mencubit pelan dada terbuka Better. Sehingga membuat suaminya itu memekik pelan.


"Makanya jangan lesu dan sedih gitu. Nanti aku buat ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ mendesaah lagi, mau?" ancam Better yang mana membuat Vanish menggeleng cepat seketika.


"Gak mau, Ninis masih capek. Kalo mau nambah nanti malem aja. Biar Ninis istirahat dulu, tidur terus makan yang banyak," oceh Vanish yang mana membuat Better justru tergelak.


"Iya-iya, kamu nge-charge aja dulu. Nanti baru aku ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ lagi yah," goda Better dengan mengerlingkan sebelah matanya. Kemudian ia menciumi seluruh bagian wajah Vanish yang berada di dalam pelukannya ini.


"He-em. Soalnya ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ tuh sekali main lama banget. Udah gitu kuat hentakannya, jadi Ninis-nya capek," ucap Vanish jujur membuat Better malu sendiri. Karena kata-kata istrinya yang terlalu frontal.


"Tapi, yang pasti Ninis sangat puas dan bahagia. ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ dapat membawa Ninis terbang meski tanpa sayap. Memberikan nikmatnya surga dunia yang belum tentu dapat di kecap oleh semua orang. Terutama wanita," tambah Vanish.


"Benarkah? ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ tau darimana?" tanya Better, seraya mengulik darimana pengetahuan istrinya ini berasal.


"Dari artikel. Karena gak semua kaum laki-laki itu mengerti, bagaimana cara membahagiakan pasangan mereka. Terutama ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ฆ di atas kasur ini. Kebanyakan mereka hanya mencari kepuasan sendiri, lalu membiarkan pasangannya memendam tongkol eh dongkol sesudahnya." Vanish membekap mulutnya sendiri menahan tawa. Ia menjadi geli sendiri dengan kata-katanya barusan.


"Apa iya aku sehebat itu?" kulik Better. Ia memiringkan tubuhnya sambil tetap memeluk Vanish.


"He'eh. Eh, apa ini. Kok ada yang menusuk sih?" Seketika Vanish mendongak dan ia pun mendapati suaminya yang tengah tersenyum sambil menatapnya ingin.


"Ish, kan Ninis bilang nanti malam lagi. Kenapa sekarang sudah dibangunkan!" geramnya bahkan Vanish mendaratkan pukulan ringan ke tangan Better yang mulai menjelajahi bagian sensitifnya. Semenjak Dokter mengatakan sudah aman jika ingin melakukan hubungan suami-istri. Sepulang dari rumah sakit, keduanya langsung tancap gas.


"Hentikan, Ninis capek. Nanti gak optimal lho mainnya," rengek Vanish mencoba merayu Better agar tidak membuatnya mengeluarkan ******* maut lagi. Ia lelah, tungkai kaki nya masih lemas. Pencapaian puncaknya tadi begitu sangat menguras tenaga.


"Siapa suruh bahas hal yang vulgar. Bikin aku jadi terpancing lagi," bisik Better yang kini telah menjelajahi ceruk leher Vanish dengan bibir dan juga lidahnya.

__ADS_1


"Ah, vulgar darimana ... uh," ucap Vanish di sela-sela desah seksinya. Ketika gigi Better meninggalkan bercak kemerahan di tulang selangka.


"Emh, ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ...," lirih Vanish merespon stimulasi Better di atas bakpao kembarnya.


"Ya begitu, ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ cukup menerimanya. Biarkan aku yang bekerja." Better berkata sambil terus menjelajahi setiap lekuk tubuh indah Vanish. Istrinya yang imut dan gemoy. Karena tubuh Vanish sangat sintal dan padat. Dengan bentuk dada yang pas dalam genggaman tangan Better.


"Cukup! Ninis sudah tidak kuat lagi ...." Vanish menahan erangannya. Bagaimanapun ia menolak sejak awal akan tetapi tubuhnya selalu dengan mudah merespon setiap sentuhan dari suaminya itu.


"Keluarkan saja sayangku ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ. Ayo sayang ...." Better kembali menyesap apa yang ada di hadapannya. Membuat tubuh Vanish yang terbuka semakin menggeliat. Vanish merasakan sesuatu akan meledak lalu keluar dari pusat inti tubuhnya. Dimana kini Better menjelajahi isinya dengan lidah dan juga jarinya.


"๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ....!" pekik Vanish sambil meremas seprai di setiap sisi tubuhnya. Ia meringkuk kan tubuhnya ke atas merasakan kenikmatan untuk yang kedua kalinya sore ini.


Setelahnya, raga berkeringat Vanish terkapar lemas dengan napas yang terengah-engah. Ia kembali mencengkeram lengan Better, lalu memeluk raga kekar itu ketika gelombang puncaknya datang untuk yang kesekian kali.


Vanish meraba bagian yang telah menegang dari pusat tubuh Better. Dengan sisa tenaga ia tetap berusaha memberi sentuhan penuh gairah pada suaminya. Lagipula ia sangat suka dan begitu gemas acap-kali memainkan bagian itu. Meski ukurannya akan membuat sesak ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


"Sayang, sekarang aku masuk ya?" tanya Better meminta ijin terlebih dulu. Karena ia khawatir jika Vanish masih nyeri. Ia membiarkan pusat pribadi istrinya itu rileks dahulu sebelum di terjang oleh ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ miliknya.


"Unghh!" pekik Vanish tertahan. Ia selalu merespon seperti itu setiap Better memasukinya.


"Ah ... perlahan sedikit," ucap Vanish dengan mata terpejam. Intinya akan selalu beradaptasi terlebih dulu dengan ukuran ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ Better yang sulit untuk di jabarkan.


Better mempercepat ritme-nya ketika melihat Vanish yang mulai terhanyut oleh jurus-nya. Ia juga sudah mulai tak tahan ketika merasakan sesuatu menjepit sang ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ. Hingga Better pun merasakan sesuatu yang bergejolak hendak memuntahkan isinya kembali.


"Huuuhh ...!" erangnya kencang hingga melengking. Raga tegapnya melenting ke atas dengan gerakan kepala kekiri dan kekanan. Seiring dengan teriakan kesekian yang keluar dari mulut Vanish. Istrinya itu menggapai puncak lagi bersamaan dengan dirinya.


Better menahan tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak jatuh menimpa tubuh mungil Vanish. Segera ia gulingkan raga itu ke samping, lalu mengambil napas banyak-banyak.


" Maaf ya ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ-๐˜ฌ๐˜ถ sayang. Kau pasti sangat kelelahan. Aku sudah lama merindukan kenikmatan darimu. Karenanya kesempatan ini harus ku manfaatkan sebaik-baiknya," ucap Better dengan senyum lembut ke arah Vanish yang terlelap. Pria itu melabuhkan kecupan dalam di kening Vanish, lalu ia menjulurkan tangannya untuk meraba perut rata istrinya itu.


"Semoga disini segera tumbuh benih-benih yang ku tabur. Menjadi satu, dua bahkan tiga bayi yang lucu." Gumamnya seolah berbicara dengan perut polos Vanish.

__ADS_1


Better mendekatkan wajahnya dan kemudian ia melabuhkan sebuah kecupan disana. Hatinya memiliki harapan yang teramat sangat. Melihat bagaimana kebahagiaan yang di rasakan oleh Joy sahabatnya. Memanjakan Milna yang mengidam ini dan itu. Membuat rasa iri nya tumbuh sangatlah kuat.


Better menutupi raga polos Vanish dengan selimut tebal. Setelah sebelumnya ia membersihkan daerah pribadi istrinya yang lengket karena lahar panas miliknya.


"Hah, menyentuh dan melihatnya saja sudah membuatku ingin lagi. Mungkin aku akan merayu ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ lagi nanti malam." Better menggelengkan kepalanya cepat demi mengusir kepinginnya. Sekarang ia memilih untuk membiarkan Vanish istirahat dulu.


_____


"Kalian baik-baik di sana. Jangan bertengkar terus!" pesan Arjuna pada Joy dan Milna. Keduanya hanya tersenyum dan mengangguk patuh.


"Untung saja Red mau menggantikan posisimu. Meskipun suasana kantor menjadi sedikit horor sekarang. Karena asistenku itu macam algojo, walau sudah memakai jas dan juga facial," ucap Arjuna yang lebih mirip mengadu sepertinya.


"Anda yang sabar ya Tuan. Bimbing dia dengan kasih sayang. Saya jamin Red akan menjadi lebih dari sekarang. Setidaknya ada Walls juga yang akan bekerja di perusahaan mulai besok," hibur Joy. Membuat Arjuna justru mendengus sebal.


"Kau pasti puas sekarang!" ketus Arjuna lagi.


"Tentu saja, bahkan sangatlah puas Tuan." Joy menggamit bahu Milna dan tersenyum pada wanita yang semalam sudah benar-benar menerima dirinya.


"Simpan bucin kalian buat di sana!" tukas Arjuna menyadarkan dua orang di hadapannya.


"Hussh! Sudah mau berpisah dan berjauhan masih saja ketus dan galak. Buang gengsi-mu itu, dan peluk Joy sekarang! Atau kau tidak akan bisa tidur semalaman," kata Susi membuat Milna dan Joy saling menatap dengan senyum keduanya.


"Ck. Mana ada begitu!" elak Arjuna. Bahkan ia sok memasang wajah sekaku kanebo kering.


"Biar saya saja Nyonya." Joy pun maju dan tanpa aba-aba ia meraih tubuh tegap Arjuna.


"Hentikan, tidak usah lama-lama." Arjuna menggerakkan cepat ibu jarinya untuk menyeka sudut matanya.


"Jaga dirimu baik-baik Tuan. Sampai jumpa lagi!" Joy mundur dan membungkukkan tubuhnya. Memberi hormat pada majikan sekaligus kawannya itu. Arjuna menepuk bahu Joy dua kali, lalu mengibaskan tangannya agar Joy segera pergi.


"Sampai jumpa lagi Tuan, Kak Susi. Sampaikan salamku pada baby S. Kalian berdua harus menengok ketika aku melahirkan nanti," pamit Milna dengan mata mendung.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2