Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Perjanjian menguras emosi.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Aku tidak akan memperalat sesuatu yang suci sebagai permainan, apalagi sebagai alat balas dendam. Tuan, aku tau kau belum pernah menikah, karena itu anda seenaknya meremehkan sesuatu hal yang nilai kehormatannya lebih tinggi dari apapun. Aku memaklumi, karena anda tidak mengerti." Susi berkata dengan tegas dan dalam, hingga Arjuna merasa tertohok pada relung kalbunya.


Namun, sisi egoisme dalam dirinya menampik itu semua.


" Jangan bilang bahwa kau masih mencintainya, dan mengharapkan ia kembali merujukmu?" Arjuna bertanya dengan nada sebal dan gemas.


Di dalam pikirannya Susi tengah membela mantan suaminya.


"Sebelum kejadian itu iya, tapi kini aku sudah membunuh harapan itu hingga ia takkan memiliki kesempatan bereinkarnasi. Aku membencinya dan berharap memiliki kesempatan untuk menghancurkannya. Dengan cara yang elegan." Susi menatap Arjuna dalam penuh makna.


Arjuna melangkah menghampiri Susi dengan senyumnya.


"Apa akan mendukung apapun rencana mu, asalkan penerus keluarga pradipta itu hancur." bisik nya di samping telinga Susi.


"Jadikanlah aku sebagai wakil pimpinan, bukankah itu lebih baik? Tuan Arjuna." Susi tersenyum menatap mata kebiruan di hadapannya. Sepasang mata yang akhir-akhir ini mulai membiusnya.

__ADS_1


" Kau itu perempuan aneh! Aku menawarkan mu untuk menjadi istriku, kau malah menginginkan untuk sekedar kaki tanganku." Arjuna membalas tatapan itu kuat.


"Pernikahan adalah suatu hubungan yang suci, berlandaskan sebuah rasa dari hati." Susi mengarahkan jari telunjuknya ke dada bidang sebelah kiri Arjuna.


"Penyatuan dua raga yang menginginkan sehidup semati, aku tidak akan mengotorinya lagi dengan sebuah kepalsuan." sambungnya lagi seraya menarik jemari itu.


"Posisimu tidak akan kuat, jika hanya menjadi kekasihku," Arjuna berkata dengan lirih, matanya serasa berkabut hasratnya sudah mulai menguasai kesadarannya.


Hingga ia menangkap jemari itu, bahkan meletakkan telapak tangan itu kembali kedadanya.


" Satu hal lagi, aku tidak berniat mempermainkan pernikahan ini. Kita akan melakukan dan menjalankannya dengan semestinya. Hanya saja tidak ada rasa yang kau sebut dengan cinta, di sini." Arjuna menarik pinggang ramping itu hingga kini tubuh mereka tak berjarak lagi.


Susi berusaha menahan rasa yang bergejolak di dalam tubuhnya. Ia tidak tidak akan terpedaya lagi oleh aroma maskulin yang hampir meracuni akal sehatnya itu.


" Lalu, apa beda nya aku dengan wanita jalangkung itu." Susi bertanya dengan penuh penekanan. Entah, darimana keberanian itu muncul. Di pikirnya, bosnya ini tengah kerasukan.


Tak ada angin tak ada badai, tak ada hujan tak ada petir. Tiba-tiba mengajaknya menikah di atas kertas. Apa ada bumbu masakannya yang salah hingga membuat otak pria ini konslet.

__ADS_1


(Ternyata, tak mudah merayu dan membujuk mu. Kau tidak seperti mereka, kau memang berbeda.) batin Arjuna, ia tersenyum tipis hingga tak akan terlihat oleh mata polos.


"Tak ada cinta di antara mereka, dan aku takkan memainkan peran yang sama. Karena itu, menunjukkan betapa piciknya kita." Susi menegaskan sekali lagi dengan nada geram, karena pria ini masih menahan tubuhnya.


Arjuna tersentak dengan perkataan Susi, kesadarannya memaksanya kembali pada situasi yang terjadi.


Arjuna melepas rangkulannya, sejak kapan ia menjadi orang yang pandai mengambil kesempatan di dalam kesempitan.


Susi merapikan blazernya yang kusut, ia akan menjaga harkat dan martabatnya. Meskipun ia janda bukan berarti pria itu dengan seenaknya mempermainkan dirinya.


"Hargailah kerja keras ku selama ini, tempatkan aku pada posisi yang seharusnya. Apakah aku tidak layak di pandang dan di hargai? Bahkan oleh bosnya sendiri!" Susi berkata dengan nada tinggi, ada rasa nyeri di sudut hatinya.


Bagaimana bisa, mereka melihatnya dari luarnya saja.


(Kenapa selalu begitu? Tidak pria itu, tidak juga dengan kau. Ternyata otak mereka berdua sama saja! Aku terlalu berharap banyak.)


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2