Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Rencana Jelita.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


" Kita harus segera merencanakan pernikahan kita, Seno. Sebelum perutku semakin membesar. Lagipula, harus ada yang menduduki singgasana mu bukan?" Jelita mendorong kursi roda Seno ke taman.


Kemudian dirinya duduk menghadap pria itu. Kali ini ia harus berpura-pura berlaku baik padanya. Agar Seno menyetujui rencananya.


Karena Jelita sudah tau kabar mengenai pernikahan Susi dan Arjuna. Dimana akan di adakan satu bulan ke depan.


Bagaimana Jelita tau informasi ini, tentu saja dari informannya. Ia sungguh penasaran, ternyata Arjuna adalah Junanya ketika masa awal kuliah dulu.


Pria itu membuatnya penasaran, bagaimana si cupunya bisa jadi sekeren sekarang.


"Aku akan mengutus Rich, kau bisa memintanya membantumu." jawab Seno tanpa mau melihat ke arah Jelita.


Sepertinya dirinya salah telah memilih wanita ular ini untuk menampung benihnya.


Wanita licik yang menghalalkan segala cara demi obsesi dan ambisinya. Kini, keadaannya lemah, ia tak lagi bisa memanfaatkan tubuh Jelita. Semua, sia-sia saja.


" Terimakasih sayang, usahamu kian maju pesat. Tabunganmu pasti sudah banyak bukan?"


"Aku ingin, pesta yang mewah. Tiga pekan ke depan." pinta Jelita, penuh penekanan dengan arti tidak ingin ada bantahan.


Seno hanya bisa mendelik kesal, melihat wanita ini semakin semaunya.


" Kau atur saja, terserah maumu. Menolak pun aku tak bisa." Seno membuang wajahnya kesamping. Muak melihat senyum meremehkan dari Jelita. Dia sangat rugi kali ini, mengeluarkan uang banyak, namun tak bisa menikmati.


Bahkan dirinya pun tau, bila Jelita memuaskan geloranya dengan mafia bau tanah itu.


(Sial. Keadaanku benar-benar sial!) Seno mengumpati dirinya dalam hati. Bahkan, sang mami pun tak bisa diandalkan untuk memegang sementara perusahaan. Sejak dulu hanya dialah yang dapat diandalkan.

__ADS_1


"Setelah kita menikah, maka aku punya kuasa bukan? Aku akan menggunakan kuasaku semestinya, aku janji padamu sayang." Jelita mengecup singkat pipi Seno. Bagaimanapun, pria itu tetaplah menarik. Ketampanannya tidaklah berkurang karena kecacatannya.


Jelita pun kembali mendorong kursi roda itu masuk ke dalam istana Pradipta.


(Aku akan menjadi Nyonya di rumah ini, sebentar lagi. Akan kubuat kau mati berdiri mamiku sayang.) batin Jelita, senyum sinis pun terbit dari bibirnya.


_______


Siang itu, di perusahaan megah Pradipta Resident. Ketika beberapa karyawan tengah meninggalkan ruangannya untuk makan siang. Seorang wanita cantik berpakaian dress di atas lutut. Karena dirinya harus menutupi keadaan perutnya yang sudah mulai membuncit. Maka ia menjauhi baju-baju ketatnya mulai saat ini. Sebelum, pernikahannya dengan Seno di gelar.


Brak!


Jelita membuka pintu ruangan Seno dengan kasar. Lalu duduk di kursi hitam yang bisa berputar itu dengan senyum penuh arti.


"Sebentar lagi, akulah yang akan menjadi Direkturnya."


Mata mereka beradu tajam, perlahan Jelita merubah ekspresinya.


"Kau, aku belum lupa perlakuan mu saat itu. Tapi, aku paham bahwa kau sangat membutuhkan uang yang banyak. Benar kan?" tebak Jelita. Membuat wajah sang sekretaris seksi itu berubah sendu.


"Katakan saja apa maksudmu." sarkasnya.


Jelita tertawa pelan, dengan gayanya yang anggun. Kemudian ia melangkah mendekati Frenta, sang sekretaris nakal.


" Aku menawarkan pekerjaan bernilai lebih besar padamu, itu karena aku tau kesusahan mu." Jelita menarik surai panjang Frenta yang jatuh di bahunya.


"Aku ini sesama perempuan dan aku pun pernah memiliki seorang ibu, meski itu dulu. Jadi, aku tau perjuangan dan pengorbanan mu. Semua yang kau lakukan demi uang, benar?" Jelita, benar-benar menembak tepat sasaran. Menyentuh hingga ke dasar hati korbannya. Benar-benar si mulut manis berbisa.


" Bagaimana kau tau? Semua urusanku?" tanya Frenta dengan garis halus yang tercetak di dahinya.

__ADS_1


"Aku selalu memperhatikan karyawan ku. Ya, sebentar lagi aku kan memimpin dan pastinya nasib semua karyawan disini akan lebih baik. Aku pastikan itu." ucap Jelita dengan penuh empati. Aktingnya sebagai artis papan atas dulu memang tak di ragukan lagi.


" Lalu, apa yang Nona tawarkan untuk saya?" Frenta mulai mengendurkan ketegangannya. Terlihat dari raut wajahnya yang lebih bersahabat.


"Aku menawarkan pekerjaan dengan gaji lebih besar dari pada pekerjaanmu yang sekarang ini. Bahkan kau akan sering di ajak keluar negeri, entah dengan pesawat ataupun kapal pesiar. Bagaimana?" tawar Jelita.


"Apa ada pekerjaan seperti itu?" tanya Frenta ragu.


" Tentu, kau hanya bekerja beberapa bulan dan akan langsung menikmati hasilnya setelah kontrakmu selesai. Kau dapat mengobati ibumu yang sakit-sakitan itu." jelas Jelita dengan memasang ekspresi wajah seakan peduli.


"Katakan apa pekerjaannya?" sahut Frenta, yang akhirnya masuk kedalam rayuan maut Jelita.


"Bersiaplah, besok aku akan membawamu menemui kawanku. Aku ini baik kan, setelah apa yang kau lakukan padaku." ucap Jelita menyerang sisi bersalah wanita di hadapannya.


"Maaf, Nona. Anda memang baik. Aku tidak seharusnya menuruti perintah pak Direktur saat itu, hanya saja ...," sesalnya tersendat.


"Sudahlah, aku faham. Sekarang katakan padaku di mana ruangan wakil Direktur S?" tanya Jelita, dengan senyum palsu yang masih singgah di wajah cantik buatan itu.


" Aku akan mengantarmu." Frenta pun berjalan di depan.


"Gadis yang tau balas budi." Jelita tersenyum miring di belakang.


Jelita mau ngapain ya keruangan nya Better?🤔


Oh, Tidak!😵


Bakalan kena mental gal ya😝


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2