Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Huru-hara si velakor.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Jangan terlalu percaya diri. Kau akan kecewa jika yang kau lihat tidak sesuai ekspektasi." Susi berdiri dan mulai melangkah perlahan menghampiri Seno.


Seno yang melihat cara jalan anggun dan gaya elegan dari mantan istrinya itu, sontak menelan ludahnya kasar.


Isi kepalanya penuh dengan imajinasi liar yang belum kesampaian. Bayangan akan isi raga molek nan indah yang terbungkus rapat pakaian kerja yang modis dan girly itu, menyulut kembali libidonya.


"Aku ingin bertemu mantan ibu mertua dan kakak iparku. Undang mereka kesini, besok!" titah Susi yang sudah berdiri di hadapan pria berkacamata itu.


Seno menahan geramnya, ingin sekali ia menerkam kelinci lemah yang tengah berlagak di hadapannya ini.


"Heh, aku tak peduli bagaimana cara kau mengenal CEO arogan itu. Yang pasti, kita bisa bertemu lagi sekarang. Mungkin, kita bisa mengadakan janji temu untuk menuntaskan gairah yang belum terselesaikan." Seno mengulurkan tangannya untuk menggapai dagu Susi, dengan tatapan liar yang seakan menelanjangi wanita di hadapannya itu.


PLAK!


Susi menepis tangan itu kencang dan keras, hingga Seno membulatkan kedua matanya.


"Apa kau tidak belajar sesuatu!"


"Seharusnya kau bersyukur aku tidak mematahkan batang mu!" Susi mengarahkan telunjuknya ke bagian bawah Seno, dengan geram amarah yang di tahannya.


"Kau yakin ingin mematahkannya? Bilang saja kalau kau sebenarnya masih ingin merasakan hujamannya. Yang mana setiap hentakan dariku mampu membuatmu berteriak histeris setiap malam." Seno merengkuh bahu Susi dan mencengkeramnya.

__ADS_1


"Kenapa kau begitu yakin jika aku yang menginginkanmu? Bukankah sebaliknya?" Susi menatap remeh pria yang tengah memojokkannya itu. Tak ada lagi rasa takut di hatinya.


"Aku ragu jika batang mu bisa berdiri saat ini, di saat aku mampu menandingi kebuasan mu sampai pagi." sindir Susi dengan senyum remeh di wajahnya.


Seno yang telah terprovokasi emosinya oleh kata-kata Susi yang merendahkannya. Mendorong tubuh ramping itu dan menghimpitnya.


"Aku akan membuktikannya padamu, apa kau siap!" Seno mendekatkan wajahnya hendak mencium Susi, tepat di saat itu pintu ruangan terbuka kasar.


"KALIAN!"


Seno spontan menoleh ke arah suara nyaring yang di kenalnya itu. Spontan matanya pun membola, dan ia segera melepaskan dirinya dari Susi.


Janda muda yang cantik itu pun tersenyum penuh arti, namun tidak ada satupun yang menyadari betapa senyum dan tatapan mata itu begitu mengerikan.


"Berengsek kau!" Wanita itu berteriak sambil maju dan mendorong Seno, lalu melayangkan tangannya hendak menampar pria yang telah menjadi tunangannya itu.


"Jelita! Aku bisa menjelaskannya!" teriak Seno menangkap tangan Jelita yang hampir saja mendarat di wajahnya.


" Kau!" Marah Jelita dengan matanya yang membesar dan geraham yang terdengar beradu.


" Ini tidak seperti yang kau pikirkan, lebih baik kita keluar." Seno menarik tangan Jelita namun wanita itu menepisnya kasar.


" Wanita mandul sialan! Aku akan menghajarmu!" Jelita maju mendekat ke arah Susi, di mana ia tengah diam tak bergeming di depan meja panjang itu.

__ADS_1


PLAK!


PLAKK!


Wajah cantik natural itu memerah, Susi memegangi kedua pipinya yang panas. Matanya berkilat menahan amarah, kedua tangannya terkepal di belakang tubuhnya.


(Tahan, sedikit lagi. Mereka akan merasakan akibat dari perbuatannya ini.)


Tak sampai di situ, Jelita meraih kotak proyektor di atas meja. Memukulkannya ke badan Susi hingga wanita itu terhuyung jatuh sambil memekik.


Susi memegangi bahunya, rasa ngilu itu masih dapat di tahannya. Seketika matanya terbelalak, saat Jelita hendak melempar alat itu ke arahnya.


"Mati saja kau wanita pembawa sial!" teriak Jelita yang sudah di kuasai amarah.


"Jangan!" teriak Seno mencoba menghentikan aksi Jelita. Pria itu memeluk tubuh tinggi berlekuk bak gitar spanyol itu dari belakang.


Jelita yang selalu mengenakan pakaian ketat membentuk tubuh moleknya, hingga beberapa bagian menggodanya terekspos memanjakan mata pria hidung belang.


Seno meraih benda itu kasar dari genggaman tangan tunangannya itu.


"Kau sungguh tidak sepadan denganku, wanita mandul tak berguna!" hardik Jelita. Sambil melayangkan tangannya lagi, ke arah Susi yang hendak berdiri.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2