Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Abang mode jahat, on!


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Arjuna tengah menerawang di dalam ruangannya, mengingat pembicaraannya beberapa hari yang lalu dengan sepupunya.


"Kenapa Abang manggil saya? Awas aja kalo ada yang gak penting!" ancam seorang pria bule berambut pirang, wajah boleh blasteran tapi logatnya terlihat bahwa dia adalah cetakan produk lokal.


"Kau ini, sok sibuk sekali!" cibir Arjuna sambil melempar bolpoin hingga mendarat di ujung kening lelaki muda itu.


"Issh! Apa aku jauh-jauh terbang selama berjam-jam untuk di aniaya saja?" gumamnya dengan bibir mengerucut.


"Aku menyekolahkan mu di sana! Tapi kau malah sibuk dengan wanita-wanita bule yang polos.


"Ck. Makanya, Bang cobain deh rasanya cewek. Di jamin ketagihan, aww!" pekik pemuda bule itu ketika sebuah sepatu mendarat di bahunya.


"Anak bau kencur sialan!"


"Apa ini saja isi otakmu! Sia-sia aku menyekolahkan mu." Arjuna melepaskan cengkeraman pada dagu pemuda yang tengah meringis itu.


(Kenapa abang jadi gak asik gini sih, pemarah banget. Untung gua sayang.)


"Pendidikan tetap lah, Bang. Otakku kan encer, kau tau itu!" kilahnya.


"Wanita-wanita itu hanya hiburan, biar gak stress. Emangnya enak liatin buku terus, laptop, dosen tua yang norak." jelasnya lagi.


"Ku harap kau segera jatuh cinta, dan pensiun dari sifat player mu itu!" ketus Arjuna, susah memang menasihati adik sepupunya itu.

__ADS_1


"Hahaha!"


"Tidak ada cinta dalam kamus ku Bang!" Pemuda bule itu tergelak sampai memegangi perutnya.


"Aku gak mau ya, jadi zombie kayak Abang. Mati segan hidup tak mau, hahaha!" Pemuda itu tergelak lagi hingga Arjuna kesal dan...,


BRUGGH!!


"AWWSS! Pantat ku...!"


"Tega kau, Bang...," Meringis sambil mengusap-usap bokongnya.


Kemudian ia membenarkan kembali kursi yang di duduki nya akibat ia terjungkal tadi.


"Masih bagus aku tidak melempar mu lewat jendela." Arjuna kembali ke kursinya dan memijat pangkal hidungnya.


" Sebenarnya ada apaan sih manggil aku kesini?" tanya pemuda bule itu dengan wajah kesal.


"Walls! Jadilah berguna untukku! Sebagai ahli IT dan hacker, lacak wanita ini, cari tau siapa anak itu. Lalu pria ini, retas perusahaannya." Arjuna melempar dua foto ke hadapan Walls.


Walls tersenyum remeh, " ini mudah untukku. Apa, Abang ingin menyabotase perusahaannya atau sekaligus menghabisinya?"


"Sabotase saja, aku yang akan menawarkan diri sebagai pahlawannya." Arjuna tersenyum miring penuh arti.


" Wow, Abang mode jahat on!"

__ADS_1


Mereka berdua pun tertawa bersama.


"Sebenarnya mereka lagi bahas apa si Joy? Lama banget?" tanya Jelita pada pria maskulin di sebelahnya, yang sedang asik dengan tablet di tangannya.


"Mereka itu sepupuan,dan sudah bertahun-tahun gak ketemu. Singkatnya, Mr. Walls ini kuliah di luar negeri di biayai oleh Tuan Arjuna, karena mereka sama-sama yatim-piatu." Joy menjelaskan sambil sesekali melempar senyum pada Susi dan kembali menatap layar gadgetnya.


Susi hanya manggut-manggut merespon penjelasan dari Joy.


"Apa tugas yang di berikan Tuan sudah kau selesaikan?" tanya Joy di sela-sela kesibukannya berselancar di website perusahaan.


"Ah itu, sudah selesai Pak. Coba anda periksa lagi, mungkin ada yang masih harus saya revisi." Susi menyerahkan lembaran berkas yang baru saja ia print.


Joy mendekat, dengan sedikit menunduk dan berdiri di sebelah Susi.


" Lihatlah bagian ini sudah benar, hanya saja kau tidak perlu menggunakan font ini, dan... bla ..., blaa ..., blaaa."


"Seperti itu? Um, jadi aku terlalu berlebihan ya? Baiklah, aku akan revisi. Terima kasih, Pak Joy," ucap Susi menengok dan tersenyum kikuk, ke arah pria yang posisinya teramat dekat dengannya.


"Santai saja, kau itu sudah pintar dari sana nya. Aku hanya mengajari sedikit," jelas Joy, sambil menyelipkan rambut Susi kebelakang telinganya.


"Ekherrmm!" Deheman dari pemilik suara bariton itu mengejutkan kedua nya.


"Astaga-sop buah naga!" pekik Joy dan Susi serempak.


"Kalian kompak banget, serasi pulak, pacaran kah?" tanya Walls, membuat keduanya makin kikuk dan seandainya mereka dapat melihat. Bahwa ada asap dan semburan api yang keluar dari kedua telinga Arjuna.

__ADS_1


Tangan pria itu mengepal, Joy yang menyadari kemarahan bosnya, hanya bisa menelan ludah kasar.


Bersambung>>>>


__ADS_2