
🔥🔥🔥🔥🔥
Hubungan antara perjaka matang dengan seorang janda muda ini semakin hari semakin dekat.
Berkat beberapa hari Arjuna di rawat, sehingga Susi menumpahkan perhatiannya secara intens.
Seakan tak ada sekat dan tabir dan menghalangi, mereka berdua kini sudah tak malu lagi mengungkapkan perasaan lewat sikap dan gerak tubuh.
Meski ada beberapa kejadian yang membuat Susi geram campur malu, dimana terdapat satu-dua perintah dan keinginan dari Arjuna yang hanya ingin mengerjainya.
"Pria itu, benar-benar pandai sekali mengambil keuntungan dariku." gumam Susi sambil merapikan pakaian Arjuna dan memasukkannya ke dalam tas.
Susi menggeleng cepat ketika ia mengingat momen sore kemarin.
"Hiss, pokoknya aku takkan lagi mudah di kerjain olehnya." ocehnya lagi sambil bersungut-sungut seorang diri.
"Bisa-bisanya, yang katanya lugu dan tak pernah menyentuh wanita sekali pun. Tetapi berani menyuruhku membersihkan pusaka keris keraton."
"Kenapa juga aku begitu bodoh, berharap benar-benar dapat memegang ... isshh ... apa sih yang ada di dalam otakku ini!" Susi berulang kali memukuli keningnya sendiri. Wajahnya memerah dan memanas karena pikirannya yang healing tak tau tempat.
"Memalukan." Susi menjejali koper itu dengan pakaian dan barang-barang Arjuna lainnya. Dirinya gemas sendiri.
"Kau sudah selesai?" Suara bariton itu sontak membuat Susi mematung sesaat.
Pikirannya sepintas kembali lagi pada kejadian yang hampir membuat napasnya berhenti mendadak.
"Sudah." jawabnya ketus, entah kenapa dirinya merasakan sebal yang teramat pada Arjuna.
Ataukah sikapnya ini hanya untuk melebur rasa canggung dan malu saja.
__ADS_1
"Kalau sudah, bantu aku pakai baju dan celana." titah Arjuna santai tanpa beban.
Hei Bang! Enteng banget minta pakein. Gak tau ape ati readers ... Eh Susi, ude pade empat-empot😋
"Hah!" Susi sontak menoleh, ternyata Arjuna baru saja selesai mandi. Tangan kanannya masih di balut perban tipis.
Namun, sudah tidak perlu di gantung lagi. Karena menurut keterangan Dokter, lukanya sudah tertutup rapat.
Maka itu, dirinya sudah bisa mandi sendiri hanya saja masih terlalu ngilu untuk bergerak terlalu banyak.
(Dia ... yang benar saja! Kenapa pria ini terus mengujiku!) Susi terlihat menghela napasnya.
"Baiklah, calon suamiku." jawabnya datar. Bagaimanapun semua ini karena Arjuna telah menyelamatkannya.
Susi pun mulai memakaikan sarung pusaka keris empu gandrung tersebut.
Arjuna menahan geli, pria itu sampai mengulum senyumnya dan mendongakkan kepalanya.
"Fiuhhh ...." Susi membuang nafasnya lega.
" Kau kan sudah pernah melihat benda itu, kenapa macam anak perawan saja," sindir Arjuna dengan sedikit kekehan.
"Yang kulihat itu milik suamiku, sedangkan kau?" kilah Susi dengan nada seakan menantang.
Arjuna maju dengan cepat kemudian menangkup kedua bahu Susi.
"Aku, calon suamimu." ucap Arjuna, menekan bahu itu semakin kencang.
" Ck. Baru calon, Tuan. Kau tau kan apa bedanya?" Susi membalas tatapan tajam Arjuna membuat pria di hadapannya mendengus kesal.
__ADS_1
"Aku tidak akan menikahi mu sebelum kau siap. Bukankah itu perjanjian kita," Arjuna mulai mengendurkan cengkeramannya pada bahu Susi.
"Kalau begitu, jangan menggodaku terus!" cebik Susi dengan bibir atas dan bawah yang di majukan.
CUP!
PUK!
Ah!
Susi menepuk dada polos Arjuna, lalu mendaratkan jurus kepitingnya.
"Kebiasaan!" sebal nya.
"Makanya jangan menantang ku!" ledek Arjuna, membuat wajah Susi semakin memerah.
"Hei. Bajunya belum!" panggilnya pada Susi yang tiba-tiba keluar kamar.
Lalu seorang penjaga masuk dengan wajah melongo karena di dorong oleh Susi.
"Mau apa dia!"
"Kenapa kau membawanya masuk?" heran Arjuna, hingga alisnya terangkat satu keatas.
"Memakaikan baju untukmu!" ketus Susi lalu ia berlalu keluar dengan membanting pintu.
Tinggallah dua orang lelaki saling menatap bingung.
"Dasar Tuan menyebalkan!"
__ADS_1
"Dia pikir aku tak bisa kesal!"
Bersambung>>>