
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Sementara kau disini, menghamburkan uang dengan wanita-wanita kotor itu!" kesal Jelita sudah sampai di level tertinggi.
"Jangan bermimpi tentang pernikahan, sebelum kau hamil keturunan Pradipta." ucap Seno tegas, tangannya mencengkram dagu Jelita dengan kencang.
"Sakit ....," lirih Jelita merasa ngilu di sekitar rahangnya.
"Sekarang bekerjalah untukku, gantikan tugas wanita bayaran yang sudah kau usir tadi." Seno pun menindih raga molek bahenol Jelita. Lalu dia menarik paksa dengan kasar atasan yang di pakai tunangannya itu.
SREK!
"Hei!"
"Seno!"
"Itu baju mahal ku, emph!" Seno sudah membungkam mulut itu dengan pagutan kasar dan buas.
Dirinya telah bergejolak sejak tadi tetapi tertunda gara-gara Jelita. Wanita yang dipilih Seno untuk menampung benihnya.
Hanya itu, tak ada perasaan apapun selain gairah dan ambisi memiliki anak.
"Seno ...!" Jelita tidak ingin seperti ini, meski dirinya merindukan keperkasaan pria itu. Cara Seno sedikit menyakitinya.
"Kau sudah meninggalkan ku beberapa hari. Lalu, ketika aku ingin melampiaskannya dengan yang lain, kau tiba dan menggagalkannya di tengah. Apa kau tau sakitnya menahan sesuatu yang hendak meledak dari tubuhmu?" Seno melepaskan satu persatu barang yang melekat di raga atletisnya itu.
Terakhir ia menarik ikat pinggang yang terbuat dari kulit ular sanca.
SREET!
Terpampang lah kepala raja ular yang hendak menerkam dengan sundulan mautnya.
__ADS_1
Sang raja ular yang perkasa itu, menerobos hutan dengan buas. Mengoyak belantara nya dengan membabi-buta.
Tak memperdulikan lengkingan dan teriakan dari mulut seksi yang terus menjerit di bawahnya.
"Kau menyakitiku ...." Jelita sangat kesal, air mata adalah saksi ketidak terimaannya akan aksi Seno malam ini.
Seno bahkan tidak memberi awalan padanya, pria itu langsung menghujam nya tanpa pemanasan terlebih dahulu. Padahal, Jelita sengaja melakukan gurah nona-V, agar Seno semakin lengket padanya.
Seno tak peduli, dirinya melakukan apa yang raga dan geloranya inginkan. Kembara-kembar bakpao di hadapan matanya pun tak lepas dari permainan tangannya.
Seno melepaskan dirinya dari Jelita, menarik tubuh tanpa benang itu lalu mendorongnya ke arah meja dengan kasar.
Pria itu pun menerobos terowongan casablanca tanpa aba-aba. Jelita menahan teriakan dengan menggigit bibir bawahnya.
"Hiks."
Jelita menangis merasakan perih di bagian pribadi, Seno takkan sadar karena posisi dirinya membelakangi pria itu.
Jelita merasakan tak nyaman, karena dada polosnya bertumpu pada benda keras.
Seno yang tak pernah puas sekali dan tak cukup dengan satu-dua gaya. Membolak-balik tubuh molek nan indah itu.
Berpindah dari peraduan, meja nakas, hingga sofa single.
Di mana kini ia meminta Jelita yang memimpin permainan tak berkesudahan ini.
"Puaskan aku sampai pagi!" racau Seno si pria gila yang tak waras.
Torr, woii! Dari dulu gila itu emang udah kagak waras keles!
Woles dong bray ... sewot amat!🙃
__ADS_1
Panas gue torr ...!
"Jangan berharap menikah dengan ku bila kau tidak mampu memuaskan raja ular ku!" ancam Seno dengan wajah datar.
"Sayang ... beri aku istirahat 30 menit." tawar Jelita, dengan wajah pucat memelas.
Seno mendelikkan matanya lalu mendorong tubuh Jelita, hingga tautan mereka terpisah secara paksa.
Aww ...
Linu ...
"Ke-kemana ini?" Jelita bingung karena dirinya di tarik oleh Seno. Ternyata , pria itu menariknya kedalam kamar mandi.
Melempar Jelita kebawah shower, kemudian Seno memutar kerannya.
"Akkhh ...!"
"Dingiiin ...."
Bagaimana tidak ini kan sudah dini hari, memang Seno pria sakit jiwa.
Seno memposisikan dirinya juga di bawah shower itu, merubah suhu airnya menjadi hangat.
Kemudian ia menekan bahu Jelita agar wanita itu berjongkok.
"Mainkan sampai aku bilang berhenti baru kau berhenti!" titah Seno mengarahkan wajah Jelita menghadap raja ularnya.
Ular kasur ....🐍
Bersambung>>>>
__ADS_1