
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
...Mohon kencangkan sabuk pengaman anda....
...Di karenakan badan tremor meramalkan, bahwa akan ada goncangan berskala 7,8 di akhir cerita....
...Wkwkwkwkw ......
...Kaboooor dulu ahhh ......
๐๐๐๐
Vanish menjulurkan kedua tangan yang sejak tadi menempel di dada suaminya, lalu mengalungkannya dileher kekar Better.
Kedua matanya terpejam, ketika bibir hangat Better menyentuh bibirnya. Kemudian pria yang sekarang telah berstatus menjadi suaminya itu, menyesapnya lembut.
Seketika, sebuah sengatan mengalir di sekujur tubuhnya. Apalagi, ketika ciuman itu semakin dalam. Karena Better mengeksplor semua yang ada dengan belitannya.
Mereka berdua menyatukan kening, dengan napas keduanya yang masih terdengar memburu. Lalu sama-sama mengambil napas yang sepersekian detik tadi serasa habis.
Better, kembali mengecup Vanish, lalu mengusap bibir yang basah karena ulahnya itu dengan ibu jarinya. Setelah kembali mampu mengembalikan udara ke dalam paru-parunya. Better, menangkup kedua pipi Vanish.
"Malam ini, kita akan kembali ke kota. Aku sudah memesan hotel yang mewah untuk kita." Better berkata seraya mengusap-usap pipi istrinya dengan senyum yang belum pernah di lihat oleh Vanish sebelumnya.
๐๐ข๐ช๐ฉ๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ซ๐ข๐ต๐ถ๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ.
Vanish, nampaknya tengah terpesona dengan senyuman suaminya. Bahkan, matanya yang penuh binar, tak berkedip sama sekali. Sementara bibirnya mengulum senyum penuh kagum.
"Nis, Ninis!" panggil Better lembut, seraya meniup beberapa kali ke depan wajah Vanish.
"Eh, em ... hihihi." Setelah sadar, Vanish justru terkekeh kecil.
"Kamu kenapa sih, hem?" tanya Better, heran.
"Ninis, terpesona. Senyum ๐ด๐ถ๐จ๐ข๐ฏ lebih indah dari pada ๐ด๐ถ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ต," puji Vanish, jujur. Karena, selama dia mengenalnya. Better adalah sosok pria yang kaku dan cuek. Apalagi, terhadap wanita. Dia akan sangat menjaga jaraknya.
"๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ." Better mengernyitkan dahinya. Bahkan alisnya terangkat satu ke atas.
"He'em, ๐ด๐ถ๐จ๐ข๐ฏ. Suami ganteng." Vanish membekap mulutnya sendiri, menahan tawanya.
"Kamu, ada-ada aja." Better, mencolek hidung Vanish seraya tertawa. Lalu, ia berpikir panggilan apa yang cocok untuk istri mungilnya itu.
"Kamu, mau aku panggil apa?" tanya Better, ia terus memeluk pinggang Vanish sambil memandangi wajah yang masih full make up itu.
"Gak usah, cukup Ninis aja," tolak Vanish.
"Gak spesial dong? 'Kan aku maunya beda dari panggilan orang lain," dalih Better tak setuju.
"Kalo gitu, apa ya? Ya udah coba, ๐ด๐ถ๐จ๐ข๐ฏ pikir sendiri. Kira-kira yang cocok apa? 'Kan Ninis cakep, manis, imut, gemoy." Vanish menyebutkan satu-persatu kriteria dirinya.
"Inis istri manis? No! Ikep istri cakep?No! Immut istri imut?No!" Better mencoba satu persatu panggilan yang ia buat, tapi tak ada satupun yang enak di dengar. Vanish, hanya menyimak. Meskipun ia akan menertawakannya sesekali.
"Hemm? I ....? Eh, gemoy itu apa?" tanya Better dengan mimik wajah polos.
"Gemoy itu, menggemaskan." sahut Vanish. Membuat Better memicingkan matanya, memandang Vanish.
"I ... Iโmoy, istri gemoy?" tanya Better meminta pendapat. Baginya ini cukup lucu dan menggemaskan. Cocok dengan karakter Vanish.
__ADS_1
" Boljug!" seru Vanish.
"Apa lagi tuh?" Better heran, kenapa banyak sekali kosakata aneh yang tidak ia kuasai dan mengerti.
"Boleh juga," jawab Vanish gemas. Sebenarnya, suaminya ini dari planet mana sih.
"Jadi kamu setuju, kalo mulai sekarang aku panggil ๐ช๐ฎ๐ฐ๐บ?"
"Setuju ih, panggilannya lucu." Mereka berdua akhirnya pun tertawa bersama. Ya, menertawakan keโ๐จ๐ข๐ซ๐ฆโan mereka.
______
Setelah pasangan Susi dan Arjuna pulang. Kini, giliran Vanish dan Better pamit.
"Kakak, kok baru sebentar udah balik lagi aja sih? Kiss masih kangen ..." rajuk sang adik semata wayangnya.
"Kakak 'kan harus kerja sayang." Vanish mengelus rambut sang adik perempuan dengan penuh kasih sayang. Memang sejak kecil, Kiss sangatlah manja kepadanya.
"Kiss, biarkan Kakakmu pergi. Jangan memberatkan hatinya, yang kemudian juga akan memberatkan langkahnya," pesan Emak. Ia menarik perlahan anak bungsunya itu, dari pelukan Vanish.
"Berangkatlah. Nanti, kami akan ke sana untuk membahas resepsi kalian," ucap ayah. Pria itu, lebih banyak diam sejak tadi. Karena ia tengah menahan haru yang menyeruak di dalam dadanya.
"Sekarang, Ayah tenang melepasmu kerja di kota. Karena, sudah ada suami yang akan menjagamu," ucap Roma, penuh kelegaan.
"Pi, kami pamit." Better memeluk orang tua angkatnya. Pria yang begitu banyak melimpahkan sayang untuknya. Meski terkadang, pria itu tak mampu mendeskripsikan perasaannya. Setidaknya, ia telah membuat dirinya merasa memiliki keluarga.
"Jaga istrimu baik-baik." Shim menepuk bahu putranya itu pelan.
Mereka berdua melambaikan tangan dari dalam mobil, aura kebahagiaan nampak terpancar dari semua orang yang mengiringi kepergian mereka ke kota.
_____
Sementara, seorang ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ญ๐ฃ๐ฐ๐บ berada di belakang mereka, mendorong koper besar.
"Lengkap banget sih, manggilnya." Better merangkul bahu Vanish, lalu mengecup samping kepalanya.
" Kalo di apartemen itu 'kan biasa. Sedangkan di hotel, semuanya spesial." Kemudian, Better membuka pintu kamar mereka. Lalu mereka masuk, setelah memberi tips pada petugas yang telah mengantar hingga kamar hotel tersebut.
"๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ! Ini ...!" Vanish terperangah, dengan apa yang kini nampak di depan matanya. Sebuah kasur berukuran king size dengan dominasi warna merah. Berawal dari, seprai, kelambu, bad cover serta wallpaper. Sedangkan bunga yang di tabur di atasnya, adalah kelopak mawar putih.
๐๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ! ๐๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฏ๐ฐ๐ท๐ฆ๐ญ-๐ฏ๐ฐ๐ท๐ฆ๐ญ! ๐๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐บ๐ข๐ญ ๐ข๐ซ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ.
Vanish begitu terkesima, hingga sebuah tangan yang melingkar di dada mengagetkan dirinya.
"Imoy suka?" tanya Better lembut, sambil mengecupi pucuk kepala Vanish dari belakang.
"Suka banget! Sampe Ninis gak tega buat tidur di sana," ucapnya polos.
"Terus, kita mau tidur di mana, Imoy?" tanya Better sambil terkekeh karena kepolosan istrinya itu.
"Bisa di sofa, bisa di atas karpet juga, empuk gini karpetnya 'kan berbulu," jawab Vanish asal. Membuat Better semakin tertawa gemas.
"Ya, ngapain aku sewa kamar mahal ini. Kalau kasurnya gak bisa kita tempati untuk tidur. Aku sengaja, sewa kamar sebagus dan semewah ini. Agar malam pertama kita spesial dan dapat kita kenang sepanjang masa.
Setelah mengatakan hal yang membuat Vanish terkesiap, dan tanpa menunggu kesiapan dari gadis yang kegadisannya terancam punah sesaat lagi itu. Better, mengangkat tubuh mungil Vanish ala ๐ฃ๐ณ๐ช๐ฅ๐ข๐ญ ๐ด๐ต๐บ๐ญ๐ฆ.
"Gimana, empuk 'kan kasurnya, lembut dan halus?" tanya Better sembari mengelus rahang serta pipi Vanish. Setelah ia meletakkan dengan perlahan istrinya ke atas kasur.
__ADS_1
Vanish hanya bisa mengangguk pelan, ia telah terbius oleh tatapan dalam pria yang tengah mengungkung tubuhnya ini. Pandangan penuh cinta yang lama kelamaan semakin berkabut karena telah terhipnotis gelora.
Better, mengecup dahi, lalu beralih pada kedua kelopak mata dengan perlahan dan lembut. Kentara sekali jika ia tengah mencurahkan kasih sayangnya saat ini. Perlahan, ia menurunkan ciumannya ke hidung, kedua pipi lalu ke daun telinga Vanish. Membuat gadis itu berdesis merasakan sensasi gelenyar nikmat yang baru pertama kali ia rasakan pada tubuhnya.
Better, menyumpal bibir mungil itu dengan bibirnya. Memberi sesapan, lumaatan serta belitan yang memancing hasrat dan gairah dari keduanya.
Tau-tau, mereka berdua kini telah polos tanpa sehelai kain di tubuhnya. Namun, Better tak ingin terburu-buru. Biarlah, sang istri yang akan meminta padanya. Karena, dirinya akan membuat Vanish alias imoy rileks terlebih dahulu.
Vanish menggigit bibirnya, ia masih terlalu malu untuk mengeluarkan suara seksi manjanya. Akan tetapi, tubuhnya merespon dengan baik setiap sentuhan dan ciuman dari suaminya. Hingga, raga nan indah itu menggeliat dan melenting merasakan geli-geli nikmat.
'Tubuh mungil mu ini indah sekali. Aku tidak menyangka, jika di balik baju tidur hello kitty itu, tersimpan sebuah maha karya yang begitu epic'
Better, menaik turunkan jakunnya menahan hasrat pada inti tubuhnya. Melihat bagian sensitif dari istrinya yang menggiurkan, membuatnya seakan terbakar oleh geloranya sendiri.
Ia mencoba memberi rangsangan agar Vanish tenang serta lebih menikmati momen ini. Better mendekatkan wajahnya, menciumi bagian itu hingga aromanya puas ia hirup.
Tak peduli dengan Vanish yang menggelinjang kegelian, Better terus bermain-main pada area favoritnya saat ini dan seterusnya.
"Ahh ....!" Akhirnya, suara desah manja itu lolos juga dari bibir Vanish. Ia tak kuasa lagi, menahan sesuatu yang hendak meledak dari tubuhnya sejak tadi.
"Suโsugan ... Ninis udah gak tahan, peโpengen pipis," lirih Vanish, berusaha menyingkirkan tangan Better dari inti tubuhnya itu.
"Keluarkan saja, moy. Ayo ... keluarkan sayang ...," ucap Better dengan suara serak menahan hasrat. Sembari tetap memainkan sesuatu yang mampu membuat sang istri melayang.
"Eenggghh ...!" Sebuah lenguhan panjang menandakan bahwa Vanish sudah sampai di finish. Napasnya terengah-engah, dengan keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya.
"Imoy ku sayang, sekarang aku udah boleh ya?" tanya Better dengan pandangan berkabut.
"Boโboleh, ngapain, sugan?" tanya Vanish dengan dahi berlipat. Ia belum nalar dengan maksud suaminya itu.
" Boleh masukin kamu, ya?"
"Hah! Aโapa harus sekarang?"
"Iya, kamu sudah sangat siap. Aku rasa rasa sakitnya akan berkurang, aku janji akan sangat perlahan," jelas Better dengan wajah yang sangat ingin.
Vanish hanya mengangguk pasrah, ia lantas memejamkan matanya. Kemudian, ia terlihat menggigit bibirnya serta mencengkeram kuat lengan Better, ketika pria berambut gondrong itu berhasil menekan kepala naganya.
"Apa sudah selesai?" tanya Vanish sambil meringis menahan perih.
"Belum sayangku, imoy." Better kembali mengecup bibir Vanish agar istrinya itu lupa apa yang di lakukan selanjutnya. Kecupannya itu turun ke leher dan meninggalkan jejak cinta di sana. Hingga, ia kembali menekan kepala sang naga lebih dalam. Sebuah geraman panjang dari Vanish, menandakan bahwa dirinya berhasil merobek mahkota yang di jaga Vanish seumur hidupnya.
" Tahan ya sayang, sebentar lagi udah gak sakit." Better kembali mengecup dan melumaat bibir Vanish, menghapus air mata yang sempat luruh di kedua pipinya.
Kemudian, ia bergerak perlahan. Hingga, gejolak dari dalam tubuhnya membuatnya lupa akan janji. Ia menghentak kuat, tak peduli kuku Vanish yang menancap di kedua bahunya.
"Heeggghhh ...!" Sebuah erangan panjang dari Better, menyudahi pergulatan panas malam itu. Hingga Vanish merasakan, semprotan lahar panas memenuhi rahimnya.
Better, mengecup perut rata Vanish, berharap benihnya tumbuh segera. Kemudian, kecupan itu beranjak ke seluruh wajah istrinya.
"Terima kasih, sayang ...,"
"Maafkan, aku ... karena tidak bisa menahannya." Sepersekian detik kemudian, pria itu tumbang di sisinya.
Dah ah ...
Udah panjang nih ...
__ADS_1
Bersambung lagi yak ...
Next bab>>>>