Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
GEPREKz Corporation.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Maaf, Tuan. Bukan aku tidak tau balas budi,"


"Jika tak ada yang di bicarakan lagi, saya mohon diri." Susi menundukkan kepalanya dan pamit.


Arjuna bergeming ingin rasanya menahan sosok itu lebih lama lagi, namun ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Ia akan cari cara lain, mungkin pembalasan dendamnya akan beralur lambat.


Setelah sampai di depan meja kerjanya, Susi menghempaskan bokongnya kasar. Ia kembali membuka laptopnya namun hatinya benar-benar gusar dan kesal.


Hingga akhirnya ia hanya membiarkan layar itu menyala tanpa tau apa yang harus di kerjakan nya. Bosnya itu sukses membuat mood nya anjlok hari ini.


"Apa-apaan dia!"


"Nikah kontrak?"


"Bener-bener abis kejedot tu orang!" gumam Susi geram, ia terus saja merutuki Arjuna.


"Bisa-bisa nya punya pikiran seperti itu, memang dia pikir siapa dirinya?"


"Ah, ya dia pemilik perusahaan. Dia juga yang telah mengangkat ku dari keterpurukan." Susi mulai menyadari kedudukannya.


"Lalu, dia pikir bisa mengatur hidupku dan cara ku membalas manusia-manusia laknat itu!" Susi mengepalkan tangannya, sisi lain dalam dirinya seakan memberontak.


"Yang benar saja menikah tanpa cinta, atau lebih tepatnya menikah karena dendam."


" Cih, apa tuan juga menonton drama? Kenapa bisa-bisanya ia memiliki ide seperti itu." Susi masih terus menggerutu sendiri, hingga seorang pria tinggi yang dulu hobi menggodanya menepuk bahu nya pelan.


"Ah, Pak Joy! Mengagetkan saja." Susi menengok dengan sedikit memekik karena wajah Joy tepat di belakangnya.


Joy hanya menyengir saja melihat reaksi Susi.


"Aku cuma mau nanya meeting besok sama perusahaan GEPREKz Corporation, udah kamu susun belum agendanya?" Joy bertanya sambil sesekali melirik pintu bosnya, takut-takut dia nongol ketika posisinya tengah mantab seperti ini.


" Semua sudah beres, bahkan beberapa berkas pengajuan dan kontrak dari perusahaan JELANTAH Oil, tinggal saya susun saja. Sore ini semua pasti selesai," Susi berkata dengan nada bangga pada dirinya.


" Hei, pekerjaan mu cepat juga. Tak salah jika tuan Arjuna memberi posisi ini untuk mu." Joy menepuk bahu Susi lagi pelan.


" Aih, melihat dari caranya menatap mu, bisa-bisa kau di angkat menjadi Ibu direktur." Joy pun terkekeh mengatakannya, hingga suara bariton itu membuatnya seakan nyungsep ke dasar bumi.


"Apa kalian di gaji untuk mengobrol!" tegur Arjuna, bersedekap dada dengan pandangan nyalang pada keduanya.

__ADS_1


"Ah, tidak Tuan. Saya ingin menemui anda, untuk membahas tentang perusahaan properti PRADIPTA Resident." Joy mencoba mengalihkan fokus Arjuna.


" Kita bahas di dalam." Arjuna melangkah ke dalam, sebelumnya ia sempat melirik Susi, sayangnya wanita itu acuh karena tengah fokus pada tumpukan kertas di atas meja nya.


Huufftt!


Susi mengendurkan bahunya.


"Kenapa pria itu suka sekali mengagetkan." gerutunya gemas.


___***___


Di perusahaan lain, sebuah gedung tinggi yang menghadap langsung ke arah pantai.


Seorang pria dengan cermin oval berbingkai silver di kedua matanya, tengah berdiri menatap jendela besar di dalam ruang kerjanya, satu tangannya ia masukan ke saku celana.


"Rich," panggilnya," berapa hari lagi waktu yang di berikan para klien kita?"


Pria berwajah oriental dengan pandangan tajam itu menghampiri Seno.


"Tiga hari lagi, Tuan." Rich menatap wajah frusterasi bosnya itu. Dimana, Seno tengah memijat ujung pelipisnya.


"Apa hacker kita belum menemukan siapa orang brengsek dan pengecut itu?" Seno menoleh dan menatap tajam ke arah Rich.


Seno berdecak, lalu berbalik berjalan dengan gusar. Kali ini ia memegang keningnya dan bertolak pinggang, udara di sekitarnya mendadak pengap. Bayangan perusahaannya hancur seketika membuat nafasnya serasa di ujung tenggorokan.


Bagaimana ia mengatakan hal ini pada maminya, bagaimana ia menjelaskan pada tunangannya yang mata duitan itu.


"Satu-satunya jalan, hanya itu Tuan." Rich mengingatkan pada kesempatan yang masih bisa mereka miliki.


" Penjualan saham 40% pada perusahaan itu, dapat mengancam kedudukan ku Rich. Yang benar saja!" Seno kini telah terduduk lemas di kursinya.


"Hanya perusahaan ARSA yang bisa dan ingin membantu kita Tuan. Di saat perusahaan yang lain menolak." Rich menambahkan penjelasan logika nya, membuat Seno sadar, tak ada lagi yang mampu ia lakukan selain mempertahankan perusahaan keluarganya itu.


"Atur pertemuan kita dengan mereka Rich, jamu utusan mereka dengan baik." Seno meluruhkan bahunya, tulangnya lemas seketika.


Menjual saham segitu besarnya memang mampu menyelamatkan perusahaannya dari ancaman gulung karpet.


Akan tetapi posisinya sudah bukanlah sebagai satu-satunya pemegang saham terbesar.


Ini adalah perusahaan keluarganya, yang pertama kali di rintis oleh kakeknya hingga menurun pada ayahnya, sebagai satu-satunya penerus. Kini beralih ke tangannya sebagai satu-satunya keturunan lelaki Pradipta.

__ADS_1


" Setelah ini aku akan menikahi Jelita, harus. Agar ia bisa segera hamil anakku dan meneruskan keturunan dari Pradipta."


__**__


" Kau bisa mulai syuting besok sayang." Seorang pria paruh baya berbadan gombyoh itu tengah memuaskan gairahnya pada raga molek aduhai di bawah kuasanya.


"Kau luar biasa," ucap Jelita di sela hentakan kuat sang produser berdarah india itu.


(Setelah mendapatkan peran ini, dan menjadikanku semakin di perhitungkan. Aku akan meminta Seno mempercepat pernikahan. Agar aku bisa segera melahirkan keturunannya, lalu memindahkan hartanya di bawah kendali anakku.) Jelita tersenyum licik diantara peluh yang membanjiri wajahnya.


Tak lama kemudian tubuh sang produser film itu ambruk di atas raganya dengan napas yang tersengal.


Jelita menggulingkan tubuh tanpa bentuk itu ke samping, terdengar suara dengkuran kasar setelahnya.


(Dasar bandot tua, enyahlah kau!)


Jelita merangsek dari tempat tidur untuk segera membersihkan tubuhnya yang telah lengket oleh keringat dan cairan yang di keluarkan oleh si bandot.


"Kalau bukan karena demi semua mimpiku, demi membungkam penghinaan kalian. Aku tidak akan sudi, cih!" Jelita menatap jijik pada sekujur tubuhnya yang bertebar tompel merah kehitaman.


"Bandot tua sial! Sudah ku peringati agar jangan ada jejak seperti ini!" Jelita menggosok setiap inchi tubuhnya dengan kesal.


"Aku harus menunda setidaknya tiga hari lagi, untuk bertemu dengan tunanganku yang super tampan dan kaya itu." Jelita menyunggingkan seringai liciknya.


Ia semakin membenamkan raganya ke dalam bath up. Mengusap bagian sensitif tubuhnya, seraya membayangkan tubuh indah dan gaya perkasa dari kekasihnya itu.


"Ahh...!" desah itu terlepas ketika pikiran liarnya mengingat setiap aksi Seno pada raganya.


"Aku sangat merindukan tubuh itu, dia memang sangat memuaskan dan menggairahkan." Jelita merasakan panas pada titik nikmatnya.


"Sial! Aku begitu menginginkan dirinya!" Jelita memekik dan meremas dirinya sendiri.


Menggerakkan tangan untuk bermain pada titik yang membuai nya ke nirwana.


Rasa panas yang menjalar di setiap kulitnya, karena begitu merindukan sentuhan liar Seno membuatnya beraksi single di dalam genangan busa beraroma lavender blossom itu.


"Ugghhh...!"


Jelita pun melenguh setelah cukup puas bermain dengan jarinya. Meskipun itu tak menurunkan kadar geloranya. Setidaknya rasa panas yang menyiksanya itu hilang.


"Ini semua karena bandot tua payah itu!"

__ADS_1


" Setelah ini, aku akan melempar mu ke tempat sampah!" Jelita terus mengumpat di bawah guyuran shower.


Bersambung>>>>


__ADS_2