Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kekaguman Tersembunyi.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Tuan, Nona Susi sudah siap. Kami mohon undur diri," pamit MUA dan asistennya.


Arjuna yang tengah duduk di sofa ruang tamu sontak berdiri ketika sosok memukau itu berjalan perlahan menghampirinya.


"Oh God." gumamnya. Bahkan, ia hampir terjengkang saking kagetnya.


"Semoga, Tuan puas dengan hasil pekerjaan kami." Para MUA itu menundukan kepala mereka.


"Terima Kasih!"


"Kalian boleh pergi." ucap Arjuna, tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari penampilan Susi.


( Bagaimana bisa, dia menjadi secantik ini ...?) batin Arjuna, memuji.


Dirinya tak habis pikir, di poles sedikit saja lalu di beri barang branded, maka Susi akan tampil semenawan ini.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Susi, membuyarkan lamunan Arjuna.


Pria itu masih memindai sosok yang belum pernah ia lihat sebelumnya, bagaimana Susi bisa begitu bersinar malam ini.


"Ehem ..., tidak. Kau cukup cantik, dan pantas menjadi seorang Direktur yang memimpin sebuah perusahaan besar." jawab Arjuna, menyembunyikan kekagumannya. Padahal, hatinya tengah meletup melihat wajah cantik berseri Susi.


Blush.


Wajah itu seketika merona, padahal Arjuna hanya memujinya dengan ungkapan standar.


Bagaimana kalau kau tau isi hatinya Sus.😚


"Kita berangkat sekarang." ajak Arjuna, kemudian berjalan di depan Susi.

__ADS_1


"Dasar tidak peka." gumam Susi sebal.


"Sudah secantik ini, bukannya di gandeng malah dibiarkan jalan sendiri." Susi terus saja menggerutu sepanjang koridor hingga mereka berhenti di depan lift.


Susi menghela napasnya, percuma juga pikirnya. Apa yang mau diharapkannya dari kanebo kering macam Arjuna.


Sementara, Arjuna terlihat menelan ludahnya susah. Tatkala ia melihat pantulan Susi pada dinding besi di hadapannya.


(Pria itu begitu bodoh telah membuang permata sepertimu, dan akulah yang beruntung karena telah memungutnya.) Seketika senyum tipis terbit di wajah rupawan itu.


Kebetulan mereka hanya berdua saja, di dalam lift.


Tak lama kemudian, seorang pria dan wanita terlihat masuk kedalam lift. Pandangan wanita yang baru masuk, tak lepas sedikitpun dari Arjuna.


Sementara, pria itu tengah memperhatikan pria di belakang Susi dari pantulan mereka pada dinding besi.


( lelaki sialan, beraninya dia menatap lapar pada wanita ku.) Arjuna mengepalkan jari-jarinya.


Tanpa aba-aba ia menarik Susi agar berdiri di depannya.


Pintu lift terbuka, Arjuna terus menuntun Susi dengan mengaitkan tangan mereka berdua.


" Nah gini dong." gumam Susi sambil tersenyum senang.


"Apa?" heran Arjuna karena mendengar wanita di sebelahnya ini bergumam tak jelas.


"Ah. Tidak." Susi melambaikan tangan yang satunya dengan ekspresi yang langsung dirubahnya seketika.


"Waw!" Ini mobil yang akan membawa kita ke pesta?!" Kaget Susi dengan decak kagumnya.


Ketika melihat sebuah mobil Limousine hitam metalik terparkir di depan lobi.

__ADS_1


" Jangan buat malu, mobil ku yang itu." tunjuk Arjuna pada Ferrari merah miliknya.


Karena ia telah menyewa seorang supir khusus untuk malam ini.


πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰


"Mengapa tidak ada wanita yang bisa memanjakan mataku." gumam pria paruh baya yang terlihat begitu memancar kharismanya.


Rambut hitam sebatas tengkuk yang bergelombang, di sisir rapi kebelakang.


Kumis serta janggut yang berbulu juga tertata rapi.


Tatapan matanya yang tajam memindai para tamu satu persatu, terutama tamu wanita atau pria yang membawa pasangannya.


Dari ujung meja bar nya lah, Don Domino memantau.


"Don, banyak wanita cantik di sana mereka baru saja datang." lapor pria berambut kucai dengan tato ulat kaki seribu.


"Bodoh! Aku sudah melihatnya!" Don, memukul kepala pria itu dengan benda panjang macam besi, berwarna hijau tua kehitaman, besarnya kira-kira seperti seruling.


" Maaf, Don." Pria bertato itu mengelus ujung belakang kepalanya yang berdenyut.


" Itu baru wanita seksi!" Don segera bangkit, turun dari kursinya.


Sepasang mata si pria berambut kucai, mengekor apa yang di lihat oleh tuannya.


" Bukankah dia selebgram terkenal itu?" gumamnya.


" Selamat malam Don Domino." sapa Seno, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Namun, pria paruh baya itu malah sengaja mengulurkan tangannya pada wanita cantik di sebelah Seno.

__ADS_1


"Pantas saja langit begitu bertabur bintang, ternyata sang Dewi turun dari khayangan," pujinya membuat kedua pipi wanita itu bersemu merah.


Bersambung>>>


__ADS_2