
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
...Sebelom kalian baca, author mau ngucapin dong....
...Selamat hari raya Idul Fitri 1433 Hijriah....
...Mohon maaf lahir dan batin ya ...๐๐...
...Mantun dulu ah ......
...Ke Cikini beli pete....
...Naek andong punye bang Aripin....
...Apabile diri eni, ade sale-sale kate....
...Boleh dong ye, di maapin๐๐ค...
...Lanjut baca lagi dah sonoh!...
...Happy reading!...
Beberapa hari sudah lewat, Seno menempati rumah barunya itu dengan baik tanpa kendala. Meskipun kecil, namun fasilitas rumah itu cukup lengkap.
Kitchen set, wastafel, AC, mesin cuci satu tabung. Ada juga setrika spray, yang memudahkannya dalam menggosok pakaian.
Satu set sofa di rumah lama, yang ukurannya muat di rumah ini pun ia bawa, serta beberapa permadani untuk alasnya.
Sayang, tempat tidur ukuran king size-nya tidaklah muat di rumah ini. Sehingga, Seno melelangnya lalu membeli yang ukurannya sesuai dengan tempat tinggal barunya.
Kamar mandinya juga elegan, karena Seno menempatkan shower serta kran pengaturan suhu air. Kloset duduk yang biasa ia gunakan di rumah mewahnya juga ada, meski dengan model yang lebih sederhana.
Setidaknya, dirinya tidaklah benar-benar seperti rakyat jelata. Mungkin, bagi orang kampung situ, ia masih di sebut sebagai juragan.
Karena, para pekerja itu menceritakan pada tetangga mereka. Bagaimana mewahnya isi rumah Seno dengan segala barang bagus dan elektroniknya.
Bahkan meski rumahnya kecil, masih ada garasi untuk kandang mobil sekennya.
Bagaimana kalau mereka tau, siapa Seno sebelumnya. Punya istana mewah, dengan belasan kamar. Beberapa mobil mewah serta pekerja asisten rumah tangga.
Kehidupan yang seperti ini, sudah sangat melarat bagi orang seperti Seno. Karena ia tak lagi memiliki kuasa untuk memerintah orang. Tidak seperti sebelumnya, yang hanya dengan menjentikkan jarinya ia bisa mendapatkan apa yang di inginkan.
Seperti saat ini, Seno yang tak pernah menginjak dapur seumur hidupnya, tengah bingung.
Menatap barang serta perabotan di atas meja. Tengah malam begini, tiba-tiba ia lapar. Mau jalan keluar rasanya sangatlah malas.
Mau memesan makanan lewat aplikasi, kuotanya habis. Lengkap sudah penderitaan pria dengan brewok di wajahnya itu.
"Ini, gimana cara menggunakan alat ini!" Seno membanting panci di atas meja.
__ADS_1
"Mana tombol yang harus ku nyalakan?" gumam Seno sembari menggaruk kepalanya macam orang bodoh.
Lalu, dengan asal Seno memutar knop pada benda di hadapannya. Padahal itu mah kompor, Seno nya aja yang kebangetan purba.
Klaakk!
Buusshh!
"Akh!" Seno kaget hingga terperanjat dan memekik. Ketika api yang keluar dari kompor sangat besar.
"Sial! Bikin kaget saja!" umpat Seno kesal sendiri, karena sudah di buat jantungan sesaat tadi.
Tak. Tek. Tak. Tek.
Seno, mengotak-atik kompor berharap api yang keluar lebih kecil.
"Kenapa menyusahkan sekali! Seharusnya barang mahal itu memudahkan!" makinya lagi, sendirian.
Depp!
Akhirnya, api pun menyala dengan normal. Kini giliran cara memasak makanannya yang membuat dahinya kembali melipat.
"Oh, tinggal merebusnya saja." Seno memasukkan mi instan yang masih berada di dalam bungkusannya ke dalam panci gagang yang sudah di beri air hingga 3/4 nya.
Karena tidak mengenakan kaca mata, sehingga kurang jelas ketika Seno membaca petunjuk cara memasak. Dimana cara tersebut, terletak di belakang bungkusan mi instan itu.
๐พ๐คฃDuh, Seno. Terpelajar, kaya, ganteng tapi kok bahlul?
"Oke menunggu sekitar 5 menit. Aku akan ke kamar mandi sebentar." Lalu, Seno berlalu meninggalkan masakannya, setelah ia menutup rapat panci itu.
Tak lama keluar dari kamar mandi, ponselnya yang ia letakkan di atas mesin cuci berdering.
๐ถ Aku adalah lelaki, yang selalu ingin memikat wanita!๐ถ
"Halo!!"
"Maaf, tuan. Kami dari pihak rumah sakit xxx. Ingin mengabari bahwa ibu anda sudah sadar. Beliau terus bergumam, mungkin mencari anda." jelas sang perawat di balik saluran telepon.
"Baik, Suster. Saya akan segera ke sana." Setelah mengatakan hal itu, Seno segera masuk kedalam kamarnya.
Dengan raut wajah senang, Seno mengganti bajunya dengan sangat bersemangat. Bahkan ia lupa dengan keadaan perutnya yang lapar.
Lupa juga dengan masakannya di belakang. Seno segera meraih kunci mobilnya di atas nakas. Lalu kembali mengunci rumah, tanpa ia sadari bahwa kompornya masih dalam keadaan menyala.
Pria itu hanya mengingat akan keadaan Easy, sang mami. Karena, sudah beberapa hari ini tak sadarkan diri. Hingga rasa bahagia di hatinya, membuat ia melupakan sesuatu yang juga penting.
Pria dengan brewok di wajahnya itu, karena kesibukannya mengurus kepindahan dan juga bolak-balik ke rumah sakit. Sehingga, ia tak sempat sekedar untuk memperhatikan penampilannya.
Jauh sekali, dari pribadi Seno yang dulu, ketika dirinya masih menempati singgasananya, sebagai presiden direktur disebuah perusahaan besar.
__ADS_1
Kini, bahkan dirinya tidak lagi memakai nama Pradipta di belakang namanya. Karena, media sosial telah menguak citra buruk dirinya, juga kebiasaan maminya.
Jadi, ada bagusnya. Brewok itu tumbuh di rahangnya. Sehingga, tidak ada netizen yang akan mengenalinya. Semua itu pun, memudahkannya dalam melakukan transaksi apapun.
Karena, jika dirinya masih menggunakan identitas lamanya. Maka, tidak ada satupun orang yang mau membeli barang yang ia tawarkan.
Setelah menutup kembali garasi serta pagar gerbang rumahnya. Seno pun masuk kedalam kendaraannya. Menjalankan kendaraan roda empat dengan brand biasa saja, dibanding miliknya yang lama.
Pria itu pun melajukan mobilnya membelah jalanan kampung di tempat tinggal barunya. Tenang, dan sedikit rasa lega, karena sang mami telah sadar kembali.
Tanpa ia ingat sedikit pun, ia telah meninggalkan satu-satu aset miliknya dalam keadaan yang terancam bahaya.
Pria itu kini telah sampai di rumah sakit, menemui sang mami di kamar. Menyapanya dengan senyum lembut nan hangat.
๐๐ข๐ฌ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ถ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ๐ช ๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ต๐ถ๐ข๐ฎ๐ถ.
Easy, berusaha tersenyum meski hasilnya nampak tak seperti sebuah senyuman. Dikarenakan keadaan bibirnya yang miring, membuat kontur pada wajahnya juga ikut tak selaras.
Wajah pucat itu telah basah dengan air mata yang mengalir di pipi tirusnya. Beberapa hari sudah wanita paruh baya itu hanya bisa tergeletak. Membuat berat badannya turun drastis, hingga terlihat lebih kurus dan lebih tua.
Karena kulitnya terlihat mengeriput, kantung mata yang menjorok gelap kedalam. Serta warna kulitnya semakin kusam, mungkin karena tidak ada lagi perawatan atau skin care.
Easy memandangi wajah anak dari Pradipta itu lamat-lamat. Ingin menyentuhnya tapi tak bisa, ingin memeluk dan mengucap kata maaf, tapi tak berdaya.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช, ๐ฏ๐ข๐ฌ? ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ-๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข? ๐๐ข๐ข๐ง, ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ. ๐๐ข๐ฌ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ฅ๐ข๐ณ? ๐๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ณ๐ช๐ฑ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ณ๐ฆ๐ธ๐ฐ๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ด. ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐๐ณ๐ข๐ฅ๐ช๐ฑ๐ต๐ข, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐ ๐ข๐ฉ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ง๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ.
Seno mengusap air mata yang terus jatuh, membasahi wajah tirus sang mami.
"Mam, tenanglah. Aku baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja," ucap Seno lembut, seraya terus menggenggam tangan kurus Easy.
"Aku telah menyiapkan rumah baru untukmu, meski tak semewah rumah lama kita juga bukan di area perumahan elit. Aku yakin, Mami akan betah dan menyukainya nanti," ucapnya lagi dengan senyum yang terpatri di wajah sangarnya itu.
๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ, ๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ! ๐๐ฆ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ?
Easy pun kembali meluruhkan air matanya dengan deras.
"Aku tau, Mami pasti senang." Seno tersenyum dengan menepuk punggung tangan Easy pelan.
Sementara itu,
"Api woii! Api!!" Teriak beberapa orang warga yang tak sengaja melintas di depan rumah tetangga baru mereka.
Kebetulan para warga itu, baru saja pulang dari patroli kampung.
"Panggil damkar, wey!"
"Iya, Apinya udah gede bangat itu!" Teriak beberapa warga yang sudah pontang-panting menyiram rumah itu menggunakan air yang di bawa dengan ember.
Bahkan mereka terpaksa, menjebol gerbang rumah itu. Agar dapat masuk dan menjangkau api. Namun, si jago merah itu sudah terlanjur memakan sebagian dari isi rumah.
__ADS_1
Niinuniinuniinu .....!!
Bersambung aja lagi yak!