
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Aku dan istriku, akan mendengar nasihatmu baik-baik. Sekali lagi, terima kasih." Arjuna pun meraih tangan Netta untuk menjabatnya.
"Aku pun sangat berterimakasih padamu, mohon bimbingannya. Karena, aku ingin bayi kami ini terjaga serta terawat dengan baik," ucap Susi tulus, dengan air mata yang masih sesekali tumpah membasahi pipinya.
"Baiklah, hanya satu pintaku. Pastikan bayi kalian memanggil ku aunty Netta." Senyum lebar pun menghias wajah sang Dokter Obgyn cantik. Ketika Arjuna dan Susi menanggapi permintaannya dengan sebuah anggukan.
"Yes, aku punya ponakan!" soraknya gembira.
"Tak sabar menantikan mu launching," ucap Netta seraya mengelus perut rata Susi. Wanita itu merasakan kehangatan menyentuh hatinya.
๐๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ช๐ด๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข, ๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฃ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ช๐ฌ๐ถ.
Isi hati Netta, kala melihat kemesraan yang ditunjukkan Arjuna pada istrinya. Perhatian dan juga kasih sayangnya jelas terlihat. Begitu tulus dan mengalir dari lubuk hati yang terdalam.
๐พTenang ya Dokter syantik, entar otor cariin jodoh๐
Pasangan yang tengah berbahagia itu pun melenggang keluar dari rumah sakit. Berjalan beriringan sembari menautkan jari satu sama lain.
Melihat senyum yang terus tercetak di wajah cantik yang sangat dirindukannya ini, Arjuna menarik bahu itu untuk merangkul tubuh wangi yang didambakan dengan sangat olehnya.
_______
"Sayang, apa kau tidak menginginkan sesuatu. Kebetulan kita masih di luar, mungkin ada yang kau makan?" tanya Arjuna pada Susi.
"Em, tidak ada. Aku masih kenyang," jawab Susi, sembari meletakkan telapak tangan di atas perutnya.
"Apa iya, makanan tadi pasti di bagi dua dengan bayi kita. Katakan saja, aku akan membelikan apa yang kau minta. Ayo sebut saja!" cecar Arjuna, ia ingat pesan Netta. Bahwa ibu hamil membutuhkan asupan nutrisi dua kali lipat.
๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ช๐ญ. ๐๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฏ๐จ๐ช๐ฅ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ธ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ฏ.
Susi menatap Arjuna dengan mata yang berembun. Ia sangat bersyukur mendapat pasangan hidup yang begitu menyayanginya. Begitu memperhatikan dirinya, juga perasaannya.
"Kenapa, sedih sayang?" tanya Arjuna heran. Karena sedang fokus menyetir, sehingga ia hanya bisa menoleh sesekali saja. Belum lagi jalanan malam lebih mengharuskan mata untuk lebih fokus ke depan.
"Aku baik-baik saja, fokus saja pada jalan. Aku ingin segera sampai rumah." Susi mengerti, suaminya itu sedang fokus mengendarai agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sehingga, ia memutuskan untuk menyimpan obrolannya nanti saja ketika sudah sampai di rumah.
"Pasti kau sudah lelah. Sabar ya, sebentar lagi kita sampai." Arjuna berkata, seraya mengelus punggung tangan Susi sekejap. Karena, ia kembali meletakkan tangannya di depan kemudi.
๐๐ณ, ๐ด๐ฆ๐ด๐ช๐ฃ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฑ๐ฐ๐ต ๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ต๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ด๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ถ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ถ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ญ ๐ญ๐ข๐จ๐ช.
__ADS_1
Susi sesekali menoleh ke arah suaminya, memperhatikan bagaimana wajah itu agak kusut selama sepekan belakangan ini. Bahkan, bulu-bulu di rahangnya semakin terlihat lebat. Padahal, biasanya Arjuna akan mencukurnya tiga hari sekali.
"Ar, bisa menepi tidak?" tanya Susi, ketika matanya menangkap keramaian di salah satu sudut jalan.
"Sebentar, sayang." Arjuna pun mencari sisi yang pas untuk memarkirkan kendaraan roda empatnya itu.
"Apa ada yang kau inginkan, biar aku belikan. Kau mau apa?" cecar Arjuna. Karena dilihatnya sepanjang tepi jalan banyak sekali tukang dagang. Ia berpikir, ada salah satu jajanan yang ingin di beli oleh istrinya.
"Aku ingin turun sebentar, boleh?" tanya Susi, meminta izin pada suaminya itu.
"Bukankah, kau sudah lelah? Biar aku saja. Aku akan mencari barang apa yang kau inginkan," larang Arjuna.
"Aku, ingin berjalan-jalan sebentar." Susi berkata sembari mengusap pelan perut yang masih tampak rata itu. Arjuna menangkap gerakan tangan itu, kemudian ia menghela napasnya.
"Baiklah, bila lelah katakan padaku, ok!" pesan Arjuna.
"Baik, bos!" kelakar Susi, dengan menaikkan jarinya membentuk huruf O.
Kemudian Arjuna menuntun Susi memasuki area, yang tenyata adalah pasar malam rakyat. Pantas saja ramai sekali.
"Ini, mirip tempat yang waktu itu kita datangi 'kan?" tanya Arjuna memastikan, membuat wanita di sebelahnya terkekeh karena mengingat sesuatu.
"Kenapa tertawa?" herannya, dengan tiga garis yang tercetak di dahinya.
๐๐ช๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ญ๐ข? ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช ๐ค๐ช๐ฑ๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ!
Arjuna mendadak emosi melihat benda yang berputar itu. Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Sebelum ia menikahi Susi. Ternyata, semakin menatap benda itu, lama-kelamaan kepala nya mendadak ikutan pusing.
"Kita beli popcorn, yuk!" Arjuna menarik tangan Susi agar menjauh dari area yang lumayan riuh itu. Karena dekat dengan wahana pontang-panting, sehingga teriakan demi teriakan bersahutan. Begitu memekakkan telinga.
"Aku mau gulali kapas!" tunjuk Susi pada pedagang di sebelah kang popcorn.
"Warna biru ya, Bang!" pesan Susi, dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
Cahaya lampu membiaskan rona kebahagiaan sederhana dari istrinya itu. Ketika wanita lain akan meminta pergi ke mall, atau tempat bergengsi lainnya. Susi sudah cukup bahagia, hanya dengan pergi ke taman hiburan dadakan semacam ini.
Arjuna mengulurkan tangannya ke wajah Susi, menyibak poni yang hampir menutupi mata istrinya itu. Menyelipkannya ke belakang telinga. Mendapat perlakuan manis yang spontan dari suaminya, membuat Susi merona seketika.
"Ciloknya, mau gak?" tanya Arjuna, kini tangannya tengah di genggam erat oleh Susi.
"Emang boleh?" tanya Susi dengan mata berbinar serta senyum lebar.
__ADS_1
"Kenapa memang? Netta tidak menyebutkan cilok dalam daftar makanan yang tidak boleh kamu makan. Hanya saja, jangan terlalu pedas, oke!" pesan dari Arjuna, masih dengan senyum hangat serta tatapan penuh cinta.
"Wah, makasih ya, sayang!" pekik Susi seraya menubruk dada bidang itu. Memeluknya erat, bahkan ia lupa sedang dimana saat ini.
Kang gulali dan kang popcorn hanya saling pandang lalu menggeleng dengan senyum mereka.
๐พJatuh cinta ... berjuta indahnya ...
Biar siang biar malam amboii rasanya ...
Jatuh cinta berjuta nikmatnya ...
Dunia serasa milik berdua yang laen ngontrak!
Oh ... indahnya! ๐คฃ๐คฃ
Selesai membeli cilok, lalu Arjuna mengajak Susi untuk duduk. Setelah membeli dua gelas es poci, ia kembali menghampiri istrinya itu.
"Ini apa aja, banyak sekali!" Susi menunjuk pada kresek yang di letakkan di hadapannya. Karena mereka kini duduk lesehan beralaskan rumput.
"Ini, makanan kesukaan mu yang pernah ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ beli waktu itu." Arjuna mengeluarkan jajanan itu satu-persatu. " Ada cilor, telor gulung dan sempol ayam," jelasnya, lalu menjejerkan nya di depan pangkuan Susi.
๐๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฉ๐ข๐ง๐ข๐ญ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ถ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต. ๐๐ณ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ.
Spontan, Susi memajukan tubuhnya. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya secara cepat ke arah Arjuna.
Cup!
Arjuna seketika menoleh, ketika merasakan ada sesuatu yang dingin dan basah menyentuh pipinya.
Mata keduanya pun saling menatap penuh arti.
"Terima kasih," ucap Susi, seraya tersenyum manis. Sangat manis, hingga pria di hadapannya melelehkan kristal bening dari ujung matanya.
"Kau tidak membenciku lagi!"
"Huwaaaaa ...!" Arjuna pun mendekap raga ramping istrinya itu, lalu sesenggukan di bahunya.
"Ar! Kenapa menangis sekencang ini!"
"Pak! Buk! Tolong! Suami saya kesurupan!" teriak Susi pada para penjual jajanan yang menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Bersambung>>>