Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Tolong! Ada yang kesurupan!


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Aku dan istriku, akan mendengar nasihatmu baik-baik. Sekali lagi, terima kasih." Arjuna pun meraih tangan Netta untuk menjabatnya.


"Aku pun sangat berterimakasih padamu, mohon bimbingannya. Karena, aku ingin bayi kami ini terjaga serta terawat dengan baik," ucap Susi tulus, dengan air mata yang masih sesekali tumpah membasahi pipinya.


"Baiklah, hanya satu pintaku. Pastikan bayi kalian memanggil ku aunty Netta." Senyum lebar pun menghias wajah sang Dokter Obgyn cantik. Ketika Arjuna dan Susi menanggapi permintaannya dengan sebuah anggukan.


"Yes, aku punya ponakan!" soraknya gembira.


"Tak sabar menantikan mu launching," ucap Netta seraya mengelus perut rata Susi. Wanita itu merasakan kehangatan menyentuh hatinya.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


Isi hati Netta, kala melihat kemesraan yang ditunjukkan Arjuna pada istrinya. Perhatian dan juga kasih sayangnya jelas terlihat. Begitu tulus dan mengalir dari lubuk hati yang terdalam.


๐ŸพTenang ya Dokter syantik, entar otor cariin jodoh๐Ÿ˜‰


Pasangan yang tengah berbahagia itu pun melenggang keluar dari rumah sakit. Berjalan beriringan sembari menautkan jari satu sama lain.


Melihat senyum yang terus tercetak di wajah cantik yang sangat dirindukannya ini, Arjuna menarik bahu itu untuk merangkul tubuh wangi yang didambakan dengan sangat olehnya.


_______


"Sayang, apa kau tidak menginginkan sesuatu. Kebetulan kita masih di luar, mungkin ada yang kau makan?" tanya Arjuna pada Susi.


"Em, tidak ada. Aku masih kenyang," jawab Susi, sembari meletakkan telapak tangan di atas perutnya.


"Apa iya, makanan tadi pasti di bagi dua dengan bayi kita. Katakan saja, aku akan membelikan apa yang kau minta. Ayo sebut saja!" cecar Arjuna, ia ingat pesan Netta. Bahwa ibu hamil membutuhkan asupan nutrisi dua kali lipat.


๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ.


Susi menatap Arjuna dengan mata yang berembun. Ia sangat bersyukur mendapat pasangan hidup yang begitu menyayanginya. Begitu memperhatikan dirinya, juga perasaannya.


"Kenapa, sedih sayang?" tanya Arjuna heran. Karena sedang fokus menyetir, sehingga ia hanya bisa menoleh sesekali saja. Belum lagi jalanan malam lebih mengharuskan mata untuk lebih fokus ke depan.


"Aku baik-baik saja, fokus saja pada jalan. Aku ingin segera sampai rumah." Susi mengerti, suaminya itu sedang fokus mengendarai agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sehingga, ia memutuskan untuk menyimpan obrolannya nanti saja ketika sudah sampai di rumah.


"Pasti kau sudah lelah. Sabar ya, sebentar lagi kita sampai." Arjuna berkata, seraya mengelus punggung tangan Susi sekejap. Karena, ia kembali meletakkan tangannya di depan kemudi.


๐˜ˆ๐˜ณ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.

__ADS_1


Susi sesekali menoleh ke arah suaminya, memperhatikan bagaimana wajah itu agak kusut selama sepekan belakangan ini. Bahkan, bulu-bulu di rahangnya semakin terlihat lebat. Padahal, biasanya Arjuna akan mencukurnya tiga hari sekali.


"Ar, bisa menepi tidak?" tanya Susi, ketika matanya menangkap keramaian di salah satu sudut jalan.


"Sebentar, sayang." Arjuna pun mencari sisi yang pas untuk memarkirkan kendaraan roda empatnya itu.


"Apa ada yang kau inginkan, biar aku belikan. Kau mau apa?" cecar Arjuna. Karena dilihatnya sepanjang tepi jalan banyak sekali tukang dagang. Ia berpikir, ada salah satu jajanan yang ingin di beli oleh istrinya.


"Aku ingin turun sebentar, boleh?" tanya Susi, meminta izin pada suaminya itu.


"Bukankah, kau sudah lelah? Biar aku saja. Aku akan mencari barang apa yang kau inginkan," larang Arjuna.


"Aku, ingin berjalan-jalan sebentar." Susi berkata sembari mengusap pelan perut yang masih tampak rata itu. Arjuna menangkap gerakan tangan itu, kemudian ia menghela napasnya.


"Baiklah, bila lelah katakan padaku, ok!" pesan Arjuna.


"Baik, bos!" kelakar Susi, dengan menaikkan jarinya membentuk huruf O.


Kemudian Arjuna menuntun Susi memasuki area, yang tenyata adalah pasar malam rakyat. Pantas saja ramai sekali.


"Ini, mirip tempat yang waktu itu kita datangi 'kan?" tanya Arjuna memastikan, membuat wanita di sebelahnya terkekeh karena mengingat sesuatu.


"Kenapa tertawa?" herannya, dengan tiga garis yang tercetak di dahinya.


๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข? ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ค๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ!


Arjuna mendadak emosi melihat benda yang berputar itu. Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Sebelum ia menikahi Susi. Ternyata, semakin menatap benda itu, lama-kelamaan kepala nya mendadak ikutan pusing.


"Kita beli popcorn, yuk!" Arjuna menarik tangan Susi agar menjauh dari area yang lumayan riuh itu. Karena dekat dengan wahana pontang-panting, sehingga teriakan demi teriakan bersahutan. Begitu memekakkan telinga.


"Aku mau gulali kapas!" tunjuk Susi pada pedagang di sebelah kang popcorn.


"Warna biru ya, Bang!" pesan Susi, dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.


Cahaya lampu membiaskan rona kebahagiaan sederhana dari istrinya itu. Ketika wanita lain akan meminta pergi ke mall, atau tempat bergengsi lainnya. Susi sudah cukup bahagia, hanya dengan pergi ke taman hiburan dadakan semacam ini.


Arjuna mengulurkan tangannya ke wajah Susi, menyibak poni yang hampir menutupi mata istrinya itu. Menyelipkannya ke belakang telinga. Mendapat perlakuan manis yang spontan dari suaminya, membuat Susi merona seketika.


"Ciloknya, mau gak?" tanya Arjuna, kini tangannya tengah di genggam erat oleh Susi.


"Emang boleh?" tanya Susi dengan mata berbinar serta senyum lebar.

__ADS_1


"Kenapa memang? Netta tidak menyebutkan cilok dalam daftar makanan yang tidak boleh kamu makan. Hanya saja, jangan terlalu pedas, oke!" pesan dari Arjuna, masih dengan senyum hangat serta tatapan penuh cinta.


"Wah, makasih ya, sayang!" pekik Susi seraya menubruk dada bidang itu. Memeluknya erat, bahkan ia lupa sedang dimana saat ini.


Kang gulali dan kang popcorn hanya saling pandang lalu menggeleng dengan senyum mereka.


๐ŸพJatuh cinta ... berjuta indahnya ...


Biar siang biar malam amboii rasanya ...


Jatuh cinta berjuta nikmatnya ...


Dunia serasa milik berdua yang laen ngontrak!


Oh ... indahnya! ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


Selesai membeli cilok, lalu Arjuna mengajak Susi untuk duduk. Setelah membeli dua gelas es poci, ia kembali menghampiri istrinya itu.


"Ini apa aja, banyak sekali!" Susi menunjuk pada kresek yang di letakkan di hadapannya. Karena mereka kini duduk lesehan beralaskan rumput.


"Ini, makanan kesukaan mu yang pernah ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ beli waktu itu." Arjuna mengeluarkan jajanan itu satu-persatu. " Ada cilor, telor gulung dan sempol ayam," jelasnya, lalu menjejerkan nya di depan pangkuan Susi.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ง๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต. ๐˜ˆ๐˜ณ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.


Spontan, Susi memajukan tubuhnya. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya secara cepat ke arah Arjuna.


Cup!


Arjuna seketika menoleh, ketika merasakan ada sesuatu yang dingin dan basah menyentuh pipinya.


Mata keduanya pun saling menatap penuh arti.


"Terima kasih," ucap Susi, seraya tersenyum manis. Sangat manis, hingga pria di hadapannya melelehkan kristal bening dari ujung matanya.


"Kau tidak membenciku lagi!"


"Huwaaaaa ...!" Arjuna pun mendekap raga ramping istrinya itu, lalu sesenggukan di bahunya.


"Ar! Kenapa menangis sekencang ini!"


"Pak! Buk! Tolong! Suami saya kesurupan!" teriak Susi pada para penjual jajanan yang menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2