
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Arjuna mengibaskan tangannya, kemudian berlalu setelah menerima kartunya kembali.
"Tu-tuan, sebenarnya tidak perlu yang seperti ini," ucap Susi pelan, sambil mendekap paper bag itu erat.
Arjuna sontak menghentikan langkah panjangnya, "kemana auman macan mu? Kenapa tiba-tiba menjadi kucing persia?" sindirnya, dengan nada sinis.
"Apa? Macan apa?" tanya Susi dengan wajah polosnya tak faham arti sindiran dari Arjuna.
Arjuna menghela napas dan meneruskan langkahnya, kakinya bergerak cepat ke sebuah restoran pribumi.
" Tuan, a-aku ingin mengucapkan terimakasih. Anda memang sangat baik," ucap Susi tulus dengan senyum yang menghias wajah cantiknya.
" Aku tak butuh terimakasih mu!" Arjuna menarik sebuah kursi kemudian meletakkan bokongnya.
"Lalu, Tuan butuh apa?" tanya Susi polos, ia pun telah mendudukkan raga nya.
"Bagaimana kalau dengan sebuah ciuman," bisik Arjuna, dengan memajukan sedikit tubuhnya lalu kedua tangannya di satukan di atas meja.
"APAA,...?!"
Susi memekik hingga beberapa pasang mata di sana melirik ke arah mereka berdua.
Arjuna mendengus kesal melihat bagaimana tingkah wanita di hadapannya.
(Dasar norak! Udah kayak tarzan aja, apa-apa teriak.)
__ADS_1
"Sudahlah, tingkah mu memalukan." Arjuna kemudian memanggil pelayan.
" Silakan, mau pesan apa?" tanya pelayan wanita itu sopan, terlihat dari senyumnya yang terus mengarah pada Arjuna. Ralat, dia bukan ramah tapi sedikit caper.
"Apakah ada rendang daging di sini?" Arjuna menatap serius pada kertas menu, bahkan membolak-baliknya beberapa kali.
Susi yang tengah mengelus layar ponsel barunya pun seketika mendongak.
"Hah? Maaf Tuan muda, di sini hanya ada steak, teriyaki dan olahan daging lainnya. Namun, tidak ada seperti menu yang anda sebutkan tadi.
" Bukankah ini restoran pribumi?" Arjuna bersikukuh, heran kenapa pesanannya tidak ada.
Bahkan dia ingat penjelasan dari Susi, bahwa menu itu berasal dari tanah kelahirannya, bumi pertiwi.
Susi menyembunyikan senyumnya dengan menunduk, bosnya ini lucu juga ternyata.
"Baiklah berikan saja kami steak terenak restorant kalian." Arjuna memalingkan wajahnya, baru kali ini ia mempermalukan dirinya sendiri.
(Kenapa aku tidak bertanya dulu pada wanita bodoh itu. Sial!)
Susi membekap mulutnya, mencoba bertahan agar tawa itu tak meledak saat ini.
(Ternyata kau bisa bodoh juga tuan.)
"Tertawa saja terus, dan aku akan menagih ucapan terima kasihmu," ancam Arjuna penuh penekanan.
GLEK!
__ADS_1
Susi menetralkan ekspresinya dan seketika menegakkan tubuhnya.
Ia tak mampu membayangkan bila bosnya ini benaran menagih ucapannya.
"Aku akan memasakkan nya nanti di rumah oke! Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih ku padamu, Tuan," Susi melengkungkan senyumnya dan mulai memotong cepat steak nya.
___***___
Malam harinya, Susi sedang sibuk menyiapkan sesuatu di dapur.
" Oke, dagingnya sudah ku bersihkan. Bumbu dan santan sudah siap. Tinggal eksekusi besok pagi." gumam Susi bermonolog.
Ketika ia menutup pintu kulkas pandangannya tertuju pada seseorang yang tengah menatapnya tajam.
"Astaga naga bonar!" Susi spontan mengusap-usap dadanya demi meredam gemuruh karena kaget.
" Kebiasaan! Demen banget si ngagetin orang!" pekiknya tanpa sadar, saking kagetnya.
Arjuna melangkah mendekat ke arahnya, dengan satu tangan memegang gelas dan satu tangan lagi di masukkan ke kantung celananya.
Susi sontak memundurkan tubuhnya hingga ia membentur lemari piring.
" Kau yang justru mengagetkanku. Untung tidak ku teriaki maling." Arjuna berkata dengan memajukan wajahnya. Hingga nampak seakan hendak mencium Susi.
"Apa yang kau lakukan tengah malam begini di dapur?"
"A-aku,...."
__ADS_1
BERSAMBUNG>>>