
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Ckiittt!!
" Jadi kau mempermasalahkan apa?" Arjuna menghadap wanita di sebelahnya, setelah ia menghentikan laju mobilnya di tengah jalan yang sepi.
Susi yang ditatap sedemikian rupa hanya bisa membuang tatapannya kearah lain.
"Ini adalah permulaan, apa kau begitu tidak sabar melihatnya hancur." Arjuna menarik wajah itu agar menatapnya.
Terlihat air yang menggenang di sudut mata indah itu.
"Perlahan, mereka akan merasakan apa yang kita rasakan," lirih Arjuna, hatinya mencelos melihat tumpukan luka di mata itu.
Susi tak mampu mengeluarkan kata-katanya, hanya air mata yang tiba-tiba luruh mengalir di pipinya.
" Aku akan membalas mereka demi dirimu, ini terakhir kalinya aku melihat mereka menyentuh dan menyakitimu." Arjuna menyapu air mata itu dengan ibu jarinya.
Kemudian membenamkan wajah itu di dadanya. Membiarkan hati itu meluapkan rasa yang selama ini dipendamnya seorang diri.
Arjuna tau bagaimana rasanya, ketika kau tidak ada teman bicara untuk berbagi resah dan sakit hatimu.
Tubuh ramping itu berguncang hebat di dalam pelukannya.
" Anakku mati dan dia terus memakai diriku sampai rahimku rusak! Lalu ketika aku mengalami cacat di bagian reproduksi ku, dia mengganti ku dengan orang lain ... Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang!" Susi terus berteriak histeris di dalam rengkuhan Arjuna.
__ADS_1
Arjuna membiarkan Susi mengeluarkan seluruh rasa sakitnya.
"Aku pikir dia benar mencintaiku, karenanya aku ingin memberi kesempatan kedua untuknya. Aku bodoh! Bodoh!"
"Aku hanyalah boneka pemuas nya. Dia benar-benar berengsek!"
Susi terus menangis dan berteriak, dan Arjuna terus mengusap punggung serta bahunya. Berusaha menenangkan batin dari wanita yang berlagak tegar dan kuat. Sementara luka di hatinya amatlah lebar dan perih menyiksa.
Arjuna memejamkan matanya , berulangkali ia melabuhkan kecupannya di ujung kepala Susi.
Hatinya tersayat mendengar curahan hati dari wanita yang tanpa ia sadari telah mengisi ruang kosong di hatinya.
(Aku akan menyembuhkan luka hatimu. Berhentilah menangis, batinku sakit mendengarnya.) Arjuna semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh yang lemas itu.
Tak lama kemudian Susi menghentikan tangisnya.
" Berjanjilah, ini terakhir kalinya kau terlihat hancur dan lemah di hadapanku." Arjuna menatap lamat wajah berantakan di hadapannya. Menyisipkan anak rambut yang menjuntai kebelakang telinga Susi.
"Maaf, karena kau harus melihat lagi sisi payah dari ku," lirih Susi dengan wajah yang tertunduk.
"Cukup!" Arjuna mengangkat dagu itu dan merampas bibir yang telah pucat itu.
Susi mencoba menahan dan menarik dirinya, namun tangan Arjuna telah mengunci kedua tangannya ke belakang tubuhnya.
Arjuna melepaskan pagutanya, mengusap bibir basah itu dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Berhenti mengatakan dirimu payah, atau aku akan mencium sampai bibirmu kebas!" ancam Arjuna membuat Susi tertawa sumbang.
" Kenapa kau tertawa! Aku sedang mengancam mu!" Arjuna tak habis pikir, wanita ini sama sekali tak menganggap ucapannya.
" Aku memang payah, karena itu kau menemukanku," ucap Susi dengan senyum meledek.
" Kau ini, jangan memaksaku." ancam Arjuna dengan kilat mata tajamnya.
"Baiklah!"
Susi mendorong tubuh itu dan naik di atas pangkuannya.
"Apa yang kau lakukan? Turun sekarang juga!" titah Arjuna yang tak mengerti kenapa Susi menjadi agresif seperti ini.
"Bukankah kau juga menyukai tubuhku dan menginginkannya. Aku akan mengabulkannya."
SRETT!
Susi menarik paksa kain penutup raga bagian atasnya, hingga kedua bukit teletubbies menyembul nyata.
"Apa yang kau lakukan! Arjuna berteriak kaget meskipun kedua matanya tidak beranjak dari pemandangan indah itu.
Namun ia sadar, ini tidaklah benar.
" Bukankah ini yang kalian, kaum laki-laki inginkan dari wanita cantik!" Susi menarik kepala Arjuna dan menenggelamkan wajah itu di antara belahan bukitnya.
__ADS_1
"Hmmppp!"
Bersambung>>>>