
🔥🔥🔥🔥🔥
Kejar-kejaran terus berlangsung, mereka tak perlu menerobos kemacetan ataupun lampu merah. Karena lajur atau jalur yang mereka lalui bukanlah tempat umum.
Situasi jalan panjang berkelok yang lengang dengan pohon pinus di sisi kanan-kiri jalan.
Dor. Dor. Dor!
Psseett.
Lesatan peluru menembus kaca depan mobil yang di kendara oleh Joy. Hampir saja, untung saja tembakan itu lewat samping telinga Arjuna.
"Arrgghh!!"
Prak. Prak.Prak!
Arjuna menghancurkan kaca depan, lalu ia mengambil Senjata di betis Joy.
Suara tembakan kembali menderu, berusaha menghentikan mobil di hadapan mereka.
Tiba-tiba ...
Srenggg .... Wreeengg. Wrenggg!
Dua pengendara sepeda motor mengapit mobil Arjuna, dan ...
"Merunduk!" teriak Joy sambil memainkan laju mobil yang di kendarainya.
Praankkk!
Kaca jendela samping mobil hancur, hingga pecahannya mengenai kepala Joy.
Dorr!
Tembakan Arjuna tepat mengenai bahu kiri sang pengendara motor. Sehingga, pengendara tersebut terguling di atas aspal.
Mobil yang di tumpangi Arjuna berhenti.
"Eksekusi pria itu." titah Arjuna, pada kedua anak buah Joy dibelakang.
Sementara, Arjuna melihat keadaan Joy yang mendapat luka di pelipis serta telinganya.
"Your bleeding Joy," ucap Arjuna khawatir pada asistennya itu. Melihat darah mengalir dari pelipis serta telinga.
__ADS_1
"Its oke, Bos." balas Joy, menyumpal telinganya yang ngilu dengan tisu.
"Kita kehilangan jejak Nona, Tuan. Maafkan saya," sesal Joy dengan menunduk.
" Diamlah. Urus saja dulu lukamu." tukas Arjuna yang tengah meletakkan ponsel di telinganya.
" Dimana posisi kalian?" tanya Arjuna pada anak buahnya di seberang telepon seluler.
"Kami masih mengikuti mobil yang membawa Nona, Tuan. Bagaimana keadaan kalian, maaf kami tidak membantu." jelas Better, asisten Susi.
"Kami di tembaki, dan Joy terluka. Kami juga kehilangan jejak." ucap Arjuna, melaporkan posisi dan keadaan mereka pada Better.
"Kirim koordinat lokasi kalian, lewat sherlock." titah Arjuna lagi.
"Baik, Tuan." Better mengakhiri panggilan tanpa melepas sedikit pun pandangan dari hadapannya.
" Mereka semakin memasuki kawasan hutan, berhati-hatilah. Jangan terlalu dekat." saran Better pada pria berkepala macam si kembar U&I.
"Menepi di dekat pohon besar itu, jangan sampai mereka sadar, bahwa kita telah mengikuti." tambahnya lagi, mereka pun perlahan keluar dari mobil. Kemudian, Better mengirim lokasi lewat GPS ponselnya kepada Arjuna.
"Bagaimana ini, Bos. Langsung kita sergap atau gimana?" tanya si anak buah berkepala botak.
" Tunggu perintah dari Bos besar dulu." sahut asisten dengan potongan rambut yang di kuncir ke belakang itu. Kedua mata elangnya tetap mengarah ke depan, tempat dimana tadi ia melihat Nonanya di bopong.
"Bos ada yang datang, merunduklah!" seru si botak pelontos tanpa rambut.
Mereka berdua merunduk, dan mengintip di balik semak-semak.
"Aku kenal plat mobil itu ...." ucap Better.
"Apa yang pria itu inginkan!" geram Better seraya meninju batang pohon dengan kepalan tangannya.
Sementara itu di dalam.
Kedua mata Susi perlahan membuka.
( Uggh ... Dimana aku ini?) batinnya bertanya.
Namun, sebuah ruangan yang temaram lah yang pertama kali nampak di penglihatannya.
Kemudian, suara derap langkah kaki terdengar.
Drep. Drep. Drep!
__ADS_1
Semakin lama, semakin terdengar jelas dan mendekat.
(Hah, siapa mereka. Aku dimana?)
Klek!
Susi merasa bergetar di seluruh tubuhnya. (Tidak. Jangan takut. Aku tidak boleh takut.)
Knop pintu berputar, lalu daun pintu terbuka seluruhnya. Menampilkan siluet tubuh pria tinggi.
Klik.
Cahaya menguar dari bohlam, ketika sekring lampu di naikkan.
Maka jelaslah semua, dimana Susi tengah berbaring kini. Tepatnya di sebuah tempat tidur yang masih lumayan bagus dan rapi.
Dengan kedua tangan terikat dan mulut yang tertutup lakban.
Jahat banget si klean! Itu orang lho bukan barang yang mau di paketin.
Kedua mata Susi mendelik ketika ia mengenali siapa lelaki yang berdiri di hadapannya kini.
"Akhh ...!" jerit Susi ketika pria itu membuka lakbannya secara paksa.
" Dasar pria gila! Lepaskan aku!" hardik Susi dengan, nada penuh amarah.
" Melepas mu?" Pria itu mencengkeram rahang Susi kencang.
" Kau ini, sudah tidak berdaya saja masih sok meneriaki ku." Pria itu mendekatkan wajahnya.
Fiuuh ...
Meniup.
Membuat Susi terkesiap menahan napas, dirinya tidak akan sanggup bila pria ini melecehkannya lagi.
Pria itu memundurkan tubuhnya, lalu menyentuh betis Susi yang terekspos.
"Hentikan!"
" Pria berengsek!"
Bersambung>>>>
__ADS_1