
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Komodo tua bangka! Apa maunya pria bau tanah itu!" maki Arjuna, setelah mendapat laporan dari kedua kaki tangannya. Bahkan, meja kerja tak bersalah pun menjadi sasaran amukan kepalan tangannya.
"Better, hubungi ketua klan Toyobo. Aku akan berinvestasi pada proyek mereka, asalkan mereka mau mengawal pernikahanku nanti." titahnya. Arjuna, terpaksa memilih jalan ini.
Bekerja sama dengan perusahaan aliran hitam, yang sekaligus adalah penjahat terselubung. Karena usaha mereka dalam bidang penyelundupan dan penyalahgunaan obat-obatan, termasuk vaksin dan sejenisnya.
Bahkan, mereka mendaur ulang kembali obat-obatan serta vaksin yang sudah kadaluarsa.
Melawan mafia harus dengan mafia juga bukan?
Lagipula, klan Toyobo akan mendapat dua keuntungan sekaligus.
Pertama, mereka akan mendapatkan suntikan dana.
Kedua, mereka akan dapat jalur serta alasan untuk menghabisi saingan mereka, yaitu klan Durex yang di pimpin oleh Don Domino.
Arjuna mengerti sekarang, dendam Domino pada kakeknya akan dialamatkan padanya.
________
Setelah Better keluar dari ruangan itu, Arjuna bangun lalu berjalan menuju jendela besar di kantornya.
Susi menghampiri pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
" Kenapa dia mengincar ku, apa masalahnya?" tanya Susi dengan segala kerisauan hatinya. Wajah itu terlihat khawatir, semua rencana mereka yang tinggal menghitung hari, tidak akan berjalan sesuai rencana.
Ada saja yang ingin merusak kebahagiannya. Padahal, dirinya sudah ingin melepas semua dendamnya. Ia hanya ingin tenang, menjalani siklus kehidupannya di masa depan.
Sama-sama mewujudkan mimpi mereka berdua, ia dan Arjuna. Memiliki asa dan cita yang satu tujuan.
"Semua itu, sebenarnya ditujukan padaku. Kau hanyalah korban, karena dirimu sudah menjadi bagian hidupku saat ini. Komodo tua itu, hampir menikah dengan kakakku. Jelasnya, dia memaksa kakakku agar mau menikah dengannya. Sampai-sampai, kadal burik itu menghabisi nyawa kekasih kak Mia." jelas Arjuna, menceritakan kisah yang sebenarnya berat untuk ia kuak lagi.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kakakmu? Apakah dia?" Susi tidak melanjutkan kata-katanya. Karena dilihatnya, raut wajah Arjuna yang berbeda.
"Domino merekayasa semua kejadian, membuat kak Mia percaya bahwa kekasihnya pergi dengan wanita lain. Namun, kakek yang membongkar semuanya pas di hari mereka akan menikah." Lanjut Arjuna, pandangannya menerawang ke depan. Menembus kaca jendela ruang kerjanya.
"Kak Mia, tak bisa menerima kenyataan dirinya yang termakan kebohongan Domino, hingga membuatnya membenci kekasihnya yang tak bersalah. Akhirnya, kak Mia ditemukan tewas di dalam bath up. Dia, menyetrum dirinya sendiri. Saat itu, aku baru saja menginjak sekolah taman kanak-kanak." Arjuna memejamkan matanya, napasnya tercekat.
"Aku masih ingat, bagaimana kakek histeris dan begitu kehilangan kala itu. Sejak pulang dari pemakaman, dirinya tak pernah berbicara lagi. Seakan menyalahkan dirinya sendiri, tapi bila kakek membiarkan kak Mia menikah, bukankah itu sama saja." Arjuna menoleh berharap dukungan dari calon istrinya itu.
"Kakek tidak salah, kejadian itu di luar prediksi semua orang. Kak Mia, mungkin merasa teramat bersalah pada kekasihnya, dan juga menyalahi dirinya sendiri yang sudah masuk kedalam kebohongan Domino." jelas Susi, membuat Arjuna mengangguk pelan.
" Seharusnya kau yang dendam, bukan si kadal burik itu!" kesal Susi, dengan mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
" Komodo tua itu, menyalahkan kakek. Semua karena sebab kakek, membongkar kenyataan. Menurutnya, kakek adalah penyebab wanita yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya, dengan cara yang tragis." lanjutnya lagi, membuka kenangan itu.
"Tua bangka itu begitu terobsesi dengan kak Mia, hingga ia kesetanan dan memaksa membongkar makam. Mengatakan bahwa, kak Mia adalah miliknya, ratunya. Sehingga tidak pantas berada di dalam tanah." Arjuna memijat pelipisnya. Heran, kenapa Domino semakin gila saja. Mengapa kini, seakan dejavu baginya.
Arjuna mendekati Susi, lalu meraih tubuh ramping itu. Menariknya untuk masuk kedalam rengkuhannya.
"Kau jangan khawatir, aku pasti akan dapat menggagalkan rencananya kali ini. Si tua itu, sudah saatnya pensiun bernapas." Yakin Arjuna, mengecup dalam ujung kepala wanitanya.
Menghirup banyak-banyak aroma tubuh yang membuatnya selalu nyaman dan tenang.
"Ar, aku percaya padamu," ucapnya, semakin mengeratkan rangkulannya.
" Harus." pongah Arjuna.
" Iya, pasti." Susi pun mendongak dan tersenyum manis, membuat Arjuna tergoda untuk menundukkan wajahnya.
Dua pasang mata terkunci, napas mereka saling menyapu hangat. Wajah menawan dengan bulu halus di sekitar rahangnya itu, mendekat pada paras menggoda, yang masih berada di dalam pelukannya.
Hingga ujung hidung lancip Arjuna beradu dengan hidung mungil Susi. Bibir mereka tak ayal pun bertabrakan dengan manis, menimbulkan suara decapan yang mengalirkan desiran gelora yang menggelitik.
Sesapan serta pagutan terjadi berkali-kali. Seiring tekanan pada tengkuk Susi oleh telapak tangan kekar Arjuna.
__ADS_1
Ciuman mereka sore itu di ruangan seorang CEO ARSA, mengalir dengan hangat dan syahdu.
Waktu seakan berpihak pada mereka berdua, atau bahkan memang berhenti sejenak. Memberi kedua insan ini kesempatan, mereguk manisnya godaan setan.
Akankah drama romantis ini akan bertahan lama tanpa gangguan?
Sepertinya tidak, karena derap langkah sepatu terdengar semakin dekat.
Dua pria ini saling mengobrol dengan langkah mereka yang cepat menimbulkan suara ketukan dari sepatu pantofel. Lalu seseorang dari mereka mengulurkan tangan pada knop pintu.
Klek!
"Tuan ...." Setelah pintu terbuka, dua pria ini menyesal dengan sangat karena telah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Haissh ...," decak Joy, memalingkan wajahnya.
Sementara pemuda di sebelahnya membulatkan matanya lebar-lebar.
"Anjaayyy ... Live streaming." ucapnya dengan pelan tapi gemas.
Susi yang menyadari kehadiran orang lain di antara mereka, mencoba menghentikan permainan lidah serta bibir Arjuna.
Tak peduli atau memang sengaja, Arjuna merubah posisi menjadi agak menyamping.
Hingga dua orang yang masuk tanpa permisi itu semakin melongo.
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung>>>