Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Seblak Dower.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


" Hai Direktur baru." sapa seorang pria dewasa dengan postur tinggi tegap, berkulit eksotis dengan bulu halus yang membingkai rahang sampai ke dagu.


Tatapan mata elangnya yang tajam, berkilat penuh kerinduan tak terucap. Bibirnya sensualnya melengkung membentuk sabit. Ketika iris pekatnya berpapasan dengan cahaya redup, dari sepasang mata bulat di hadapannya.


"Kalau mau meledek tidak usah bertemu saja." sahut Susi datar kemudian menyeruput boba nya.


"Ck. Apa kau sedang kedatangan si bulan? Kenapa sensi sekali." decak pria yang bernama Arjuna itu.


Meski wajahnya tak setampan tokoh mahabarata. Dan tutur katanya tak selembut titisan Batara Indra.


Namun pesona kharismanya, mampu membius kaum hawa baik gadis maupun janda.


Susi menatap wajah itu sebal, jauh-jauh mengajaknya makan siang hanya untuk berkata julid padanya.


"Hentikan menatapku seperti itu, atau kau akan cinta setengah mati padaku nanti," Arjuna mencolek dagu runcing Susi, kemudian ia terkekeh karena wanita itu langsung mencubit lengannya.


"Aku lapar." deliknya.


" Apa aku harus membakar restoran ini karena telah membiarkanmu kelaparan." Arjuna menopang dagunya, dan menatap dalam pada Susi.


" Kau yang salah, apa aku harus membakar mu?" sindir Susi dengan geram.


"Baiklah ... Baiklah. Aku yang salah, karena telah membuat ratu lebah ku menunggu." Arjuna terkekeh lagi.


Susi melempar biji beberapa biji kuaci, yang berada di atas piring ke arah Arjuna.


" Oh baiklah, kau ternyata ratu hamsters." Arjuna masih belum puas meledek wanita yang wajahnya sudah menekuk itu.


Susi hanya memutar bola matanya malas, kelakuan Arjuna malah terkesan aneh karena terlalu di paksakan.


"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" tanya Arjuna datar. Dia kembali pada dirinya semula dengan gaya flat dan cool nya.

__ADS_1


" Aku sangat kelaparan dan waktu istirahatku tinggal beberapa menit lagi." sindir Susi gemas.


" Kau ini Presdir, kenapa memikirkan jam istirahat." tukas Arjuna.


" Seorang pemimpin itu harus memberi contoh yang baik, mana boleh semaunya. Apa yang akan di teladani dan di segani dari sang pemimpin, jika kelakuannya minus." dalih Susi, membuat Arjuna melongo sesaat.


" Aku memang tidak salah," ucap Arjuna ambigu.


" Apa kita akan terus bicara saja?" sindir Susi dengan mengerucutkan bibirnya.


" Ah ... Ya!" Arjuna segera mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.


"Silakan Tuan dan Nyonya." Pelayan pria itu memberikan selembaran menu.


" Apakah steak ini akan seenak buatan mu?" tanya Arjuna sambil membolak-balik kertas menu itu.


"Psstt ...," bisik Susi, dengan isyarat kedipan mata.


"Aku rasa tidak akan seenak buatan mu. Jadi, aku pesan mi Lee Mon iLo dengan topping kornet saja." ucap Arjuna.


"Tuan, minumnya?" tanya sang pelayan.


" Es Pocong." jawab Arjuna melirik sekilas pelayan tersebut.


"Baiklah. Mohon di tunggu." Pelayan itu undur diri dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian mereka berdua telah menyelesaikan makan siang perdana itu.


Karena selama ini, Arjuna dan Susi selalu makan masing-masing.


"Aku akan mengantar mu," ajak Arjuna, pria itu kemudian menegakkan tubuhnya dan bangun berdiri.


"Aku kesini bersama sopir kantor," sahut Susi.

__ADS_1


"Aku sudah menyuruhnya pulang sejak tadi," jelas Arjuna, lalu menarik tangan Susi dan menuntunnya.


(Pria ini, terkadang sikapnya membuatku ingin memukulnya dengan palu gada. Tapi, kalau sudah tiba-tiba manis seperti ini ..., aku malah ingin menjadikannya sarung bantal.) Susi terkekeh sendiri dengan isi pikirannya.


Arjuna melirik sekilas pada wanita yang digandengnya itu, kepalanya menggelang pelan dan senyum tipis terbit dari sudut bibirnya.


" Kau membawaku kemana Ar?" tanya Susi yang heran karena arah yang mereka lalui bukan menuju kantor nya.


"Hanya ketempat di mana kita bisa melepas rindu." Arjuna berkata dari depan kemudi tanpa menoleh sama sekali.


Mereka kini telah sampai.


" Ini ...!" Susi terkejut, dia sudah lama ingin sekali mengunjungi tempat ini.


Spontan ia melepas sepatunya, merasakan hamparan benda kecil halus dan hangat yang di injak oleh kakinya.


Arjuna melakukan hal yang sama, dia bahkan menggulung celana panjang dan juga lengan kemejanya. Mereka berdua meninggalkan sepatu di dalam mobil dan mulai berjalan kaki.


Deburan ombak sayup-sayup tertangkap panca indera. Semakin melangkah maju, jari-jari kaki mereka semakin membenam di hamparan lunak yang basah.


Angin berkecepatan sedang menyibak rambut coklat sebahu dengan ujung curly itu.


Arjuna, masih terus menggenggam tangan kecil Susi dan menuntunnya menyusuri pinggir pantai yang tidak terlalu ramai itu.


" Kita, mojok di sana ya. Di atas batu karang besar itu." ajak Arjuna.


" Kau, mengerti bahasa itu?" tanya Susi heran.


" Aku baru saja mendapatkannya dari mbah gugel," jujur Arjuna, membuat Susi tak dapat menahan gelak tawanya.


Wanita itu terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.


( Akhirnya, kau tertawa juga.) Arjuna tersenyum.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2