
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
...Mohon dukung terus karya ini ya gais....
...Terima kasih dan selamat membaca🥰....
Susi merasakan hatinya berdesir hangat, kala jemari kokoh itu menggenggam erat tangannya.
Ia pasrah dan pikirannya seakan kosong, jadi ia menurut saja di bawa masuk ke dan di dudukkan ke dalam mobi.
(Sudah ku duga, ternyata kau masih mencintaiku. Kau memang Susi ku yang polos.)
Deg!
Sepasang mata indah Susi mendelik, dan...
PLAKK!
"ISHH...," desis Seno merasa panas di area pipi nya.
"Jangan kurang ajar! Kita sudah bukan suami-istri!" hardik Susi dengan dada naik turun menahan gemuruh.
"Aku tau itu, aku hanya ingin memasangkan ini," tunjuk Seno pada seat bealt di tangannya.
(Ah, tidak! Aku sudah salah sangka!)
Susi menunduk, meremas ujung kaus seragamnya.
"Maaf, ku pikir...," lirih Susi, melirik sekilas takut-takut pria itu marah. Karena ia tau sedikit banyak tabiat Seno.
Seno tersenyum, ia mengulurkan tangan dan menggamit jemari Susi.
"Lakukanlah lagi, jika itu bisa membuat mu memaafkan ku," ucap Seno," tampar aku lagi!"
Kedua mata Susi membola, ia tak akan melakukan itu. Meski hatinya sangat membenci pria ini, namun di sudut lain hatinya, ia juga amat merindukannya.
__ADS_1
"Sampai kapan kita mengobrol di mobil." Susi melepas paksa tautan tangan mereka. Meski di hatinya ada perasaan senang dan benci bersamaan.
"Ah iya, baiklah. Kita jalan," Seno kembali tersenyum dan mulai mengendalikan kendaraan beroda empat itu.
Seno menjalankan mobil menembus senja yang mulai meredup, hingga gelap berganti membuat kerlip lampu kota beradu dengan lampu-lampu kendaraan.
Mobil sport mewah itu berhenti, di pelataran parkir sebuah restoran berkelas.
Seno keluar dari mobil kemudian memutari nya.
(Seumur-umur, ketika aku masih menjadi istrinya. Tak pernah sekalipun di ajak ketempat seperti ini. Bahkan, kini ia membukakan pintu mobil untukku.)
"Simpan saja barang-barang mu di mobil, aku akan menguncinya," ucap Seno yang melihat Susi ribet sekali dengan barang bawaannya.
"Tidak perlu, biar aku membawanya saja. Jika kau keberatan, kita tidak jadi makan." Susi hendak berlalu, namun tangan kekar itu mencekal nya.
Seno tersenyum lembut, kemudian ia mengambil katalog yang di dekap oleh Susi.
"Baiklah, aku tidak masalah, jadi biarkan aku membantu mu." Mereka pun berjalan beriringan ke dalam restoran.
"Sebenarnya apa rencana mu? Kau kan tau jika aku tak mengerti bahasa asing," tanya Susi penuh selidik.
"Biarkan aku yang memesan untuk mu." Seno mengambil alih daftar menu dan memanggil pelayan.
"Baik, mohon di tunggu." Pelayan tersebut undur diri setelah mencatat pesanan.
(Ia tak marah, malah terus tersenyum. Baik-baik hati ku.) Susi meringis menekan dadanya yang bergejolak.
"Kau hidup dengan baik ternyata, tidak seperti diri ku ini," ucap Seno memulai obrolan mereka.
"Tentu saja! Kau pikir aku akan jadi gelandangan lalu mati kelaparan?" hardik Susi penuh emosi.
"Kenapa marah, kau tidak ingin wajah mulus mu berkerut bukan." goda Seno, entah pakai ilmu apa sehingga Susi kembali ciut setiap kali di tatap olehnya.
" Syukurlah kalau hidup mu baik, sedangkan aku menderita karena rindu sejak jauh dari mu," keluh Seno dengan raut wajah nampak sedih.
__ADS_1
(Apa-apaan dia, kenapa memasang wajah menderita begitu!)
"Menderita? Bukankah kau yang mengusirku!" Berusaha memasang senyum sinis.
"Karena mami, semua ku lakukan karena nya. Kini, ku sadari kalau itu salah dan aku menyesalinya,"
"Kembalilah pada ku, maafkan semua kesalahanku. Bukankah, aku ini manusia? Jadi, wajar kan bila aku melakukan kekhilafan?" Seno mengeluarkan semua kemampuannya, memasang wajah memohon dan memelas.
Keinginannya harus terwujud malam ini juga. Ia tahu apa kelemahan dari wanita di hadapannya ini.
Wanita yang mencintainya begitu dalam, hingga rela hidup tersiksa bersama mami dan kakaknya.
Biarlah ia menjadikan maminya sebagai kambing hitam, asalkan Susi kembali ke dalam rengkuhannya lagi.
Bujuk rayunya tertunda oleh kedatangan seorang pelayan.
"Silahkan ini pesanan Anda, Tuan dan Nyonya. Selamat menikmati." Pelayan pun segera pamit setelah meletakkan makanan dan minuman berstandar internasional itu.
(Sotong saus tiram dan nasi goreng seafood?)
(Ia mengingat makanan kesukaanku?)
"Aku ingin sekali makan steak buatan mu lagi, karenanya aku tidak memesan itu saat ini,"
"Kau mau kan, memasak untukku lagi?" pinta Seno. Jemari panjangnya meraih jari-jari lentik Susi.
(Aku tidak bisa menolaknya, Tuhan! Bagaimana ini?)
Susi masih membungkam mulutnya, meskipun begitu tubuhnya tidak menolak sentuhan mantan suami yang sangat ia benci sekaligus di rindukannya itu.
" Aku akan memberikan mu waktu untuk berpikir. Sekarang makanlah, semua itu kesukaan mu." Seno terus saja tersenyum dan menatap wajah Susi dalam.
( Kau harus menjadi milikku, karena tubuhku sudah merindukanmu. Jelita akan melahirkan anakku nanti, dan kau yang akan memuaskan ku. Akan ku miliki kalian berdua.) Seno tertawa jahat di dalam hatinya, senyum licik pun mencuat tanpa di sadari oleh wanita baik hati di hadapannya ini.
Bersambung>>>>>
__ADS_1