
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Sementara yang di tunjuk, hanya bisa garuk-garuk kepala tak gatal. Kenapa juga harus ia yang harus menjawabnya.
"Maaf, Susi. Kenapa aku harus menanyakan padanya? Sementara yang mengalami 'kan hanyalah wanita, yaitu dirimu," ucap Dokter wanita itu sedikit meringis.
"Karena, dia yang hapal kapan liburnya," jawab Susi santai.
"Liโlibur? Libur apa maksudnya?" Dokter yang belum menikah itu semakin bingung di buatnya.
"Libur, naik kuda lumping," bisik Susi, membuat kedua mata Netta membola.
"Hah, sejak kapan Juna menjadi pemain ๐ฅ๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ด?" tanya Netta polos. Dirinya benar-benar tak paham, arti kalimat kiasan yang digunakan oleh Susi.
"Duh!" Susi menepuk keningnya pelan. Begini ternyata kalau bicara dengan perawan. Kiasan tak mempan, harus menjelaskan secara gamblang.
"Dokter, benaran tak mengerti? apa yang ku maksud?" tanya Susi, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak mengerti, jadi tolong jelaskan dengan benar," gemas Netta. Meski senyum manisnya tak bergeser dari bibirnya.
"Haish, Dok. Sini." Susi mendekatkan wajahnya ke arah Netta. Untuk membisikkan hal yang ingin diketahuinya.
"Uhukk!" Netta pun mendadak tersedak oleh ludahnya sendiri. Setelah mendengar penjelasan secara detil dan rinci dari Susi.
๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช. ๐๐ช๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐๐ถ๐ฏ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ฑ๐ข๐ญ ๐ด๐ช๐ฌ๐ญ๐ถ๐ด ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ-๐ถ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ถ๐ด๐ช, ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ช๐ข ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฏ๐ฆ๐จ๐ข๐ณ๐ข ๐. ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฐ๐ด๐ข๐ฏ! ๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช!
๐พKalo belon nikah mah, mana tau bu Dokter๐
Karena, kalo udah tau rasanya tuh ...
Gak bisa berenti, kek makan kacang kuaci๐คฃ
Lanjutt ...๐
>>>>
Netta, sekilas memijat pangkal hidung mancung miliknya. Sebelum itu, ia menurunkan dahulu kacamata yang bertengger manis di sana.
"Jadi, seperti itu." Netta melirik ke arah teman masa kuliahnya dulu itu. Dimana dulu, Arjuna tidaklah sekeren sekarang. Sementara, pria gagah yang tengah bersandar di tembok sebelah pojok, hanya bisa menyengir kaku.
"Ah, sudahlah." Netta menyerah, melihat gelagat Arjuna. Tanpa menjawab sepatah katapun ia cukup mengerti. Bahwa, pria itu baru sepekan ini libur menyentuh istrinya itu.
"Suster, siapkah alat ๐๐๐(๐๐ญ๐ต๐ณ๐ข๐ด๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐จ๐ณ๐ข๐ง๐ช)!" titah Netta pada asistennya.
Ultrasonografi (USG) adalah salah satu dari produk teknologi pencitraan kedokteran (medical imaging) yang digunakan untuk mencitrakan bagian dalam organ atau jaringan tubuh dengan gelombang suara ultra, tanpa membuat sayatan atau luka (non-invansive).
Tekhnik ini biasa digunakan untuk kaum wanita pada masa kehamilan. USG atau ultrasonografi mempunyai banyak kegunaan dalam pengobatan.
Mulai dari untuk mengkonfirmasi kehamilan, hingga perkiraan tanggal kelahiran. Selain dari itu, kegunaan mesin tersebut adalah untuk mendiagnosis kondisi tertentu, serta membantu dokter untuk menentukan prosedur medis yang tepat.
Karenanya, Susi tak kaget lagi dengan pemeriksaan menggunakan metode tersebut. Hanya saja, ia tak tau lagi kali ini digunakan untuk apa. Ia hanya bisa menuruti keinginan suaminya.
__ADS_1
Bagaimanapun, ia juga penasaran akan keadaan rahimnya pasca tiga purnama di katakan sembuh total. Ia berharap keajaiban itu ada di dunia nyata.
"Nona, berbaringlah," pinta sang perawat tersebut ramah. Lalu Susi pun berbaring, entah kenapa pemeriksaan kali ini membuat hatinya tak karuan. Ada perasaan berharap yang begitu besar.
Arjuna sudah tak lagi di pojokan, ia maju mendekat meski masih mengatur jarak dari istrinya itu. Perawat mulai menaikkan pakaian atas Susi, lalu menurunkan bawahannya hingga bawah pusar.
Mulai mengolesi cairan berbentuk gel bening, di area perut bawah Susi. Kini, tiba saatnya Netta yang mengambil alih. Ia mulai menggerakkan ๐ต๐ณ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ด๐ฆ๐ณ di atas perut Susi.
"Dok, sewaktu di luar negeri. Alatnya dimasukkan ke dalam ...," Susi tak meneruskan kata-katanya, ia sebenarnya malu meskipun yang melakukannya sesama wanita.
"Itu, namanya ๐๐๐ ๐ฉ๐ง๐๐ฃ๐จ๐ซ๐๐๐๐ฃ๐๐ก." Netta menjelaskan sembari, melakukan kegiatannya. Tak lama kemudian, wajahnya terlihat berseri. Dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya.
"Susi! Juna! Lihatlah!" pekiknya girang.
"Apa!" Susi dan Arjuna ikut memekik bersamaan. Bahkan, Arjuna tak sadar telah mendekati brankar tempat Susi berbaring.
"Lihatlah, ini!" Netta menunjuk layar monitor di hadapannya. Dimana, menampilkan gambar serta angka yang tidak di fahami oleh selain ahli di bidangnya.
"Itu apa! Mana aku mengerti, Netta!" protes Arjuna yang sudah di buat panik oleh pekikan nyaring si Dokter kandungan.
"Apa kalian tidak melihatnya?" heran Netta, kenapa jadi dirinya yang heboh sendiri.
"Lihat apa, Dok? jangan membuatku takut dan penasaran!" tukas Susi yang ikut memiringkan tubuhnya.
" Hei, kau jangan bergerak! Diamlah!" perintah Netta mengembalikan Susi pada posisinya. Kemudian ia kembali menggerakkan alat di atas perut Susi.
"Juna, mendekat dan lihatlah!" tunjuk Netta pada gambar yang terdapat di layar monitor. Sebuah gambar 4 D yang bergerak-gerak.
" Ah, ya. Aku belum menjelaskannya pada kalian. Aku terlalu bersemangat dan senang!" girangnya.
"Ini, adalah kantung rahim Susi. Lalu, ini adalah penampakan bayi kalian berdua," jelasnya, sambil menyusut air yang menggenang di sudut matanya.
"APA!!" Arjuna dan Susi memekik bersamaan. Mereka pun saling menatap satu sama lain.
"Apa maksud, Dokter?" tanya Susi dengan suara bergetar.
" Selamat untuk kalian berdua. Aku tidak menyangka akan secepat ini. Bahkan sebagai seorang tenaga medis, aku tidak mempercayai ini," ucap Netta dengan mata berkaca-kaca.
Ia tahu betul perjuangan pasangan ini. Bagaimana sabarnya Susi dalam mengikuti proses pemeriksaan serta pengobatan.
Bagaimana sabar dan telatennya Arjuna dalam memberi pendampingan serta dukungan. Hingga, membawa Susi berobat ke luar negeri.
"BAYI!!" Sekali lagi, Arjuna dan Susi memekik tak percaya.
"Maksudmu, iโitu ... adalah gambar penampakan seorang bayi?" tanya Arjuna dengan terbata, bahkan Susi pun kini telah bangun dari pembaringannya.
"Benar sekali, beratnya sekitar 20 gram dengan panjang sekitar 7 centimeter. Bayi kalian, baru sebesar buah jeruk. Karena usia janin sekitar 8 weeks," jelas Netta, dengan sangat bersemangat.
Mendengar penjelasan secara detil dan rinci dari Netta, Arjuna dan Susi saling pandang penuh arti. Susi membekap mulutnya, bahunya terlihat bergetar dengan pelan.
__ADS_1
Lama kelamaan getaran itu semakin kencang, hingga Arjuna menarik dirinya masuk kedalam rengkuhannya. Mengusap punggung serta memberi ciuman dalam bertubi-tubi ke pucuk kepala istrinya.
"Bayi, Ar. Ada bayi di dalam perutku. Kita akan punya bayi," lirih Susi di tengah isak tangisnya.
Arjuna pun tengah mati-matian menahan diri. Meski akhirnya, cairan kristal bening itu luruh juga dari kedua matanya.
"Iya, sayang. Bayi kita, malaikat kecil itu kini bersamamu. Menyatu dalam tubuhmu. Kau akan menjadi mommy dan aku daddyโnya," tutur Arjuna, sambil sesekali menyusut air yang merembes juga dari hidungnya.
Pasangan ini pun menangis bersama sambil berpelukan. Sementara sang Dokter dan perawat yang mengikuti perjuangan mereka, ikut terharu akan kebahagian yang hadir di tengah-tengah mereka.
"Kemarilah, lihat foto bayi mungil kalian." Netta memanggil keduanya, yang seakan tenggelam dalam haru biru. Tak ingin suasana mellow terlalu melingkupi ruangan itu, maka ia memutuskan untuk memulai sesi diskusi dan juga nasihat.
Arjuna mengangkat Susi untuk sekedar turun dari brankar. Membuat istrinya itu memekik kecil. Namun, Arjuna memberi pesan lewat tatapannya. Agar istrinya itu menurut saja dan tidak membantah.
Netta menyerahkan secarik kertas berisikan gambar hitam putih. Gambar yang di print dari hasil tangkapan pada monitor.
"Ini foto, bayi kalian. Bentuknya masih seperti embrio, tapi sudah terlihat cikal bakal kaki serta tangannya," tunjuk Netta pada beberapa lembar foto 2 dan 4 Dimensi.
Arjuna dan Susi saling menautkan jari mereka, menyalurkan haru dan bahagia yang sulit untuk dilukiskan dengan apapun.
Bahkan, mereka seakan kehabisan kosakata untuk mengungkapkan rasa bahagia itu.
Arjuna, mendekatkan punggung tangan Susi kedepan bibirnya. Berkali-kali melabuhkan kecupan di tangan yang berada dalam genggamannya itu.
"Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua. Sebentar lagi, kalian akan menjadi orang tua," ucap Netta tulus untuk kedua sahabat sekaligus pasiennya itu.
"Kalian adalah pasangan yang luar biasa, selalu membuatku iri dan berpikir untuk segera menikah," cebik Netta kemudian, membuat Susi dan Arjuna tersenyum lebar.
"Terima kasih, atas bantuan mu selama ini. Pertahankan rasa iri mu, pada kami. Semoga, itu dapat memotivasi serta memberi pencerahan." Arjuna sedikit terkekeh dengan ucapannya.
"Sialan kau! Juna!" umpat Netta gemas. Masalahnya, sahabatnya itu tau. Bahwa dirinya paling anti dengan hubungan serius.
"Susi, istirahatlah. Aku akan memberikan resep vitamin untukmu. Harus di minum secara rutin ya, terutama penambah darah dan juga asam folatnya." Netta berkata sembari menulis pada secarik kertas.
"Juna, perhatikan dan awasi. Aku akan mengirim tabel gizi dan asupan yang harus di konsumsi selama trisemester pertama ini. Lewat chat, pastikan ponselmu online dan ada kuotanya," ledek Netta. Mengurai ketegangan pada calon mom & dad baru.
"Net, bagaimana keadaannya pasca berlari serta menghajar penjambret tadi?" tanya Arjuna.
"Mengenai itu, untung saja kandungan Susi kuat. Calon bayi kalian pun, sudah mencengkeram erat pada kantung rahim. Sehingga goncangan tadi, sama sekali tidak mempengaruhi," jelas Netta, membuat Arjuna mengusap dadanya lega.
"Asal jangan diulangi lagi, cukup sekali saja. Kalian berdua harus menjaga malaikat kecil itu baik-baik. Bekerja samalah, karena kalian adalah pasangan yang sangat kompak," pesan serta pujian mengalir tulus dari Dokter cantik itu.
"Aku dan istriku, akan mendengar nasihatmu baik-baik. Sekali lagi, terima kasih." Arjuna pun meraih tangan Netta untuk menjabatnya.
Bersambung>>>
__ADS_1