
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
" Nis, kenapa mendadak sekali?" Better memandangi wajah yang risau itu, dengan sendu.
"Ayah sakit. Ninis harus pulang, ke kampung," ucap Vanish dengan wajah sendu. Mendapat kabar dadakan pagi tadi membuat hatinya kalut bukan main.
"Kenapa harus barengan begini? aku ingin sekali menemanimu, sekalian menemui kedua orang tuamu. Tapi, papi juga memintaku pulang," lirih Better dengan nada penuh kecewa dan sesal.
Ia juga gusar, takut jika ayahnya Vanish nekat untuk menjodohkannya dengan pria tua itu. Pasalnya, hingga kini ia belum sempat mengunjungi kedua orang tua Vanish di pinggiran kota J. Karena perusahaan ChoCho Inc, sedang berkembang pesat, sehingga sering mengadakan rapat dengan para investor dari dalam maupun luar negeri.
" Pacar, Ninis takut. Bagaimana jika ayah memintaku menikah? Ninis tidak mau! Tapi, Ninis juga ingin berbakti pada ayah." Vanish menghapus kristal bening yang tiba-tiba luruh membasahi kedua pipinya.
"Pulang saja, bicarakan dengan baik-baik. Kedua orang tuamu, terutama ayah, beliau pasti mengerti dan tidak akan memaksamu," ucap Better memberi sedikit ketenangan pada kekasihnya itu. Hatinya juga kalut, ada perasaan takut, tapi ia tak tau apakah itu rasa cinta.
Dirinya tak bisa menjanjikan apa-apa terhadap Vanish. Ia harus meyakinkan hatinya terlebih dulu, lagi pula ia tak ingin di buru-buru perihal berumah tangga.
Bukan karena finansial, karena tanpa bantuan Arjuna pun, tabungannya sudah menumpuk. Tanpa ada yang tau, bahwa dirinya juga bermain investasi saham di luar sana.
Karakternya yang tertutup, hingga Arjuna pun tak bisa melacak siapa keluarga Better sebenarnya. Hanya saja, kewarganegaraan pria itu memang masih berstatus WNA.
๐ ๐ข ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ, ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ด๐ช๐ฉ. ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ต๐ถ๐ฉ, ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข. ๐๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ณ . ๐๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ ๐ค๐ข๐ฌ๐ฆ๐ฑ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ด๐ถ๐จ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ฅ๐บ? ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ. ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐จ๐ข๐ฌ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ.
Vanish kembali menyeka air matanya. Begitu juga dengan cairan di hidungnya. Hingga, di atas meja berserakan tisu bekas dirinya.
Tanpa merasa jijik, Better membersihkan ulah kekasihnya itu. Sebentar lagi pesanan mereka pasti sampai.
"Kamu tenang saja, jangan menduga-duga hal yang belum tentu terjadi." Better meraih tangan Ninis, yang di letakkan di atas meja, lalu menggenggamnya.
๐๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ช ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ด๐ช๐ฉ? ๐จ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฑ๐ข?! ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ข๐ค๐ฉ๐ญ๐ฆ๐ฆ๐ด ๐ข๐ซ๐ข.
Vanish menyeka air matanya dengan kasar. Sepertinya, ia tak bisa berharap banyak dari pacar gantengnya itu. Terbukti selalu saja ada halangan ketika ia ingin mengajak untuk menemui kedua orang tuanya. Selalu saja bentrok, jika biasanya dengan urusan kantor, kali ini bersamaan dengan urusan keluarga.
"Ninis, apa kau marah." Better meraih tangan Vanish, karena gadisnya itu tiba-tiba berdiri dan meraih tasnya.
"Ninis gak berhak marah, biarlah Ninis selesaikan masalah ini sendiri. Pacar, tidak perlu khawatir. Lagipula, Ninis akan mengorbankan apapun demi kesehatan juga kebahagiaan ayah. Sekalipun, itu kebahagian juga masa depan Ninis." Vanish berkata tanpa melihat ke arah Better. Pria itu menghela napasnya panjang, kala melihat kekecewaan yang nampak jelas dari raut sendu kekasihnya.
๐๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ณ๐ข๐จ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช.
__ADS_1
Better hanya bisa diam, tanpa menjawab sepatah kata pun. Ia tak tau harus berkata apa. Permintaan dari papi angkatnya juga tak mungkin ia tolak mentah-mentah. Better, berhutang nyawa dengan pria itu. Bagaimanapun, ia harus tau balas budi.
"Ninis mau pulang saja." Vanish berkata dengan datar.
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan ...,"
"Ninis bisa pulang sendiri!" potong Vanish. Entah kenapa hatinya mendadak kesal pada pria tampan di hadapannya ini. Ia hanya merasa dirinya tak cukup berarti bagi kekasihnya. Karena sikap Better yang seolah tenang dan adem ayem menanggapi masalahnya.
"No! Aku pacarmu, aku yang mengajakmu. Maka, aku juga yang akan mengantarmu pulang." Better meraih pergelangan Vanish dan mencekalnya.
Sikap Better yang seperti itu bukannya membuat Vanish senang, gadis itu justru tambah meradang.
"Jangankan pulang ke kosan, pulang ke kampung sendirian aja Ninis berani! Jadi, kamu jangan pura-pura khawatir sama Ninis!" kesalnya, bahkan ia tak lagi menyebut Better dengan panggilan kesayangan.
"Nis, bukan begitu. Aku ...," Better kehabisan kata-kata untuk membela dirinya. Karena, apa yang di katakan oleh gadisnya, hampir benar seluruhnya. Kecuali, tentang kekhawatiran. Hanya saja keadaan yang serba kebetulan membuatnya bingung, harus memprioritaskan siapa.
"Ninis akan langsung pulang malam ini, apapun keputusan ayah akan aku terima. Terima kasih, karena sudah mencoba membantu Ninis." Vanish membelakangi Better, demi menutupi derai air mata yang kembali jatuh ke pipinya.
"Aku pergi!" Tanpa menunggu jawaban dari Better, Vanish berlalu dengan cepat. Pria dengan rambut ikalnya yang di kuncir asal itu, segera berlari mengejar kekasihnya. Setelah ia tersadar jika, Vanish sudah tak terlihat di depan matanya. Ia langsung meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja. Better berlalu, berbarengan dengan pelayan yang baru tiba membawakan pesanan mereka.
" Nis, Ninis!" teriak Better ketika di lihatnya sang gadis berada tak jauh di depan resto.
"Nis buka pintunya. Jangan begini!" Better terus menggedor kaca jendela pada taksi tersebut. Vanish menatap wajah pria yang disukainya di luar jendela dengan mata berkaca-kaca.
"Jalan, Pak!" titahnya, pada sopir taksi tersebut. Sang driver pun segera tancap gas, meninggalkan pria di belakang yang mungkin mengumpatnya.
"Sial! Kenapa gadis itu begitu marah!" Better mengacak rambutnya gemas. Membuat kunciran pada rambutnya berantakan.
"Dia pasti pulang ke kosan kan? aku akan menyusulnya!"
Better segera menginjak pedal gas pada kendaraan roda empatnya itu. Kemudian, membawanya melaju dengan cepat demi menyusul Vanish.
๐๐ข๐ค๐ข๐ณ, ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฐ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ข๐ถ, ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด, ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฏ๐ข๐ต๐ถ๐ณ๐ข๐ญ. ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ด๐ข๐ฅ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช, ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ด๐ข๐ฅ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ด๐ช๐ฎ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ณ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ. ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข, ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ช๐ฌ๐ด๐ด ...
Vanish terisak dengan hebat di dalam taksi. Ia tak mampu menahan kesedihannya, keputusannya kali ini sudah final. Kesehatan ayah lebih penting dari apapun, termasuk cintanya pada pria tampan yang selalu di kuncir itu.
Sang driver hanya melirik lewat kaca spion di atas kepalanya. Satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum smirk, dengan tatapan mata nyalangnya yang terus memindai sosok cantik di kursi belakang.
__ADS_1
"Pak, ini bukan jalan menuju alamat yang saya sebutkan tadi!" ujar Vanish, seketika ia sadar ketika jalan yang di lewatinya semakin sepi.
"Saya, ngambil jalan pintas. Neng cantik, tenang saja," sahut pria dengan brewok yang bekas di cukur kasar. Sudut bibirnya kembali terangkat, kali ini bercampur dengan seringai licik penuh rencana busuk di kepalanya.
"Saya minta anda putar arah, sekarang!" teriak Vanish, dirinya mulai takut ketika secara tak sengaja beradu pandang dengan mata sang sopir lewat kaca spion. Bahkan, ia mendekap tas laptop di depan tubuhnya. Keringat dingin mulai mengalir lewat pelipisnya.
"Putar balik saya bilang! Atau saya akan telpon pacar saya!" Vanish sudah memegang ponselnya, ia berniat menghubungi Better tapi urung. Mana mungkin 'kan, tadi dia kabur dari pria itu.
Masa iya sekarang dia malah minta tolong. Vanish tak jadi menghubungi Better, ia hanya menggenggam ponsel untuk menakuti saja.
Tanpa ia sadar, telah menekan tombol hijau pada layar ponselnya. Hingga, sebuah panggilan sedang terhubung pada seorang pria yang tengah kalut kehilangan jejaknya.
Ckiiiittt!!
Roda ban taksi tersebut berdecit, pertanda sang driver telah mengerem mendadak.
Brukk!
"Ahh!" pekik Vanish, kemudian ia memegangi keningnya yang terantuk kepala kursi di depannya.
Brakk! Pria berwajah sangar itu, membuka pintu mobil belakang dengan kasar. Seringainya begitu menakutkan, membuat wajah Vanish pucat seketika.
Pria itu, mengulurkan tangannya untuk meraih lengan Vanish.
"Mau apa kau! Pergi!" Vanish, menepis tangan pria itu. Namun, pria itu malah merangsek masuk dan hendak menindih tubuhnya.
Vanish pun mengarahkan kakinya hingga mendarat di wajah jelek pria tersebut.
Dugghh!!
"Sialan!!" pekik pria dengan wajah jelek itu.
" Jangan coba melawanku bocah ingusan!" teriaknya, sambil melayangkan tangannya.
Plakk!
Vanish terhuyung mendapat tamparan keras di pipinya. Derai air matanya lolos lagi ketika rasa sakit itu menjalar, seiring ketakutan di hatinya.
__ADS_1
"Aaakkhh!!" Vanish berteriak ketika pria itu menarik, blues bagian atasnya.
Bersambung>>>