Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Sekelumit kisah Arjuna.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Arjuna membawa Susi ke atas di mana lantai apartemennya berada. Di lantai teratas inilah, ia memilih lokasi kediamannya.


Sepi, tak banyak tetangga, hingga privasinya terjaga. Untung saja, seorang tukang bersih-bersih panggilannya sudah pulang.


Arjuna menekan kode itu dengan susah payah, karena ia sambil menggendong. Membuatnya terus berdecak dan beberapa kali membenarkan posisi Susi.


"Ck, kau menyebalkan! Setelah ini kau harus balas budi padaku!" Arjuna mendorong pintu dengan sebelah kakinya, kemudian ia meletakkan Susi di dalam kamar sebelah.


Untung saja ia memiliki beberapa kamar di sini. Karena memang Apartemen ini adalah hasil jerih payahnya.


Ia menyiapkannya khusus, untuk tempat tinggal bersama dengan keluarga kecilnya. Ternyata impian itu buyar seketika, terhempas oleh penghianatan yang membekas dalam hingga kini.


Entah, akankah hatinya mampu membuka untuk menerima asa kembali. Atau sudah mati dan membusuk karena kecewa yang berakar.


"Aku membenci wanita! Kalian adalah racun berbalut madu!"


"Menebar cinta dan janji lalu pergi dan menghempas mimpi yang ku bangun hingga nyawa ini hampir berpisah dari raganya!" Arjuna terus menggerutu di bawah guyuran air shower yang dingin.


Ia pun keluar dari ruangan lembab itu, hanya dengan selembar kain putih membungkus tubuh bagian bawahnya.


Sedangkan area atas tubuhnya ia biarkan terbuka. Hingga menampakan otot dadanya yang bidang.


Sisa-sisa air bekas mandi pun menetes dan mengalir melewati bagian kotak delapan di bagian perutnya.


(Oh... Roti sobekkk🤤)


Warna kulitnya yang tidaklah putih juga tidak hitam. Ya, bisa di bilang kulitnya eksotis mungkin.


Semua itu tidak di dapatkannya dari lahir. Justru dengan penuh perjuangan dan kerja keras hingga Arjuna bisa mendapatkan tubuh sebagus itu.


Diet ketat dan olahraga yang menyiksanya selama setahun penuh. Hingga ia berjanji pada dirinya, untuk tidak lagi percaya pada wanita manapun.


"Masih belum sadar juga?" Arjuna menghampiri Susi yang masih terlelap, ia lupa jika baru mengenakan celana pendek saja.


Arjuna mengambil gelas yang berisi air kemudian mencipratkannya ke wajah Susi.


"Ehmm...!" Susi melenguh, menggeliat pelan dan mengucek matanya. Ketika ia merasakan sesuatu yang dingin jatuh pada wajahnya.

__ADS_1


"Akkhh!!" Susi berteriak histeris kemudian menutup wajahnya, tubuhnya seketika beringsut ke pojokan tempat tidur hingga punggungnya terbentur dinding.


"Hei! Biasa aja! Segitu nya kamu takut sama saya!"


"Saya cuma mau bangunin kamu!" seru Arjuna sebal karena reaksi Susi seperti melihat gondoruwo saja.


(Hei Bang. Kalau mas gondonya seganteng kamu, otor mau dong di culik🤫)


"Kenapa kamu gak pake baju?"


"Kamu mau ngapain saya?!" teriak Susi masih menutupi wajahnya.


"Jangan ganggu saya!"


"Pergi kamu!"


"Laki-laki bejat, kotor, pendusta!"


"K-kau...,"


BRUKK!


"Pingsan lagi?" Arjuna memijat pangkal hidungnya serta menarik napasnya dalam kemudian mengembuskannya perlahan.


Ia melihat dirinya di cermin, tubuhnya seksi dan waw. Kenapa wanita itu malah takut dan histeris.


"Aku sudah biasa begini kan kalau di rumah? Apa yang salah?" gumam Arjuna bingung.


"Ish, bodoh kau Juna!"


"Sepertinya dia korban kekerasan seksual." Arjuna meremas rambutnya gemas.


Lantas ia kembali ke kamarnya, mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


📲"Halo, Tuan! Anda dimana? Saya mencari di aparte...,"


📲" Diam!"


"Akan ku jelaskan nanti."

__ADS_1


"Sekarang datang ke apartemen ku dan bawa seorang Dokter wanita, psikolog juga."


📲"Untuk apa Tuan? Sa-...,"


📲"30 menit di mulai dari sekarang!"


Tuuutt...


"Aish, Tuan yang suka semena-mena!"


"Argh...! Dokter mana dokter jiwaaaa!" Joy berteriak di loby apartemen di mana Arjuna akan menemui seseorang dari masa lalunya.


Aksinya itu mengundang tatapan tajam dari para sekuriti. Joy membalas tatapan itu sehingga para petugas berseragam biru itu dongker ciut.


*****


"Bagaimana?"


"Apa yang sudah terjadi padanya?" Arjuna bertanya dengan tatapan dingin, membuat para Dokter wanita itu mengkerut.


"Maaf, Tuan. Nona itu baru saja mengalami kekerasan seksual. Ada beberapa luka lebam di perut dan pinggulnya. Tapi luka itu akan sembuh dalam dua hari, namun yang manjadi masalah adalah luka pada psikisnya. Nona itu mengalami depresi yang sudah lama, dan kejadian yang baru saja di alaminya menambah luka itu,"


"Jadi, wajar saja bila ia agak sedikit ketakutan terutama kepada lawan jenis. Bersikaplah agak lembut dan tenang. Agar kepercayaannya segera kembali," jelas seorang wanita pakar kejiwaan, ahli psikologi. Ia berbicara mewakili Dokter umum yang memeriksa pisik Susi tadi.


(Ada apa dengan Tuan? Kenapa begitu peduli dengan wanita ini? Apa ini tanda-tanda, ah semoga saja Tuhan! Aku lelah dengan segala penindasan nya.) batin Joy, penuh harap.


"Joy, gaji mu bulan ini ku potong 15%." melirik dengan tajam.


Siinggg.....


"APAA!!" (😵)


...Ck ... ck ... ck ..., kasiannyaaa......


...Sini Joy peluk onlen......


Sabar ya ini ujian...dari otor....wkwkwkwkwk.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2