
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Arjuna mendudukkan Susi di sampingnya, menarik kepalanya agar menyender di bahunya. Sementara tangannya setia mengusap pinggang dari belakang.
"Bagaimana, apa ini membantumu merasa rileks." tanya, Arjuna.
"Hem, agak enakan," jawab Susi, yang kini memejamkan matanya merasakan usapan Arjuna yang membuat rasa panas di area pinggangnya berkurang.
Tak lama kemudian.
"Ugh!" Susi mengerang sembari mencengkeram lengan Arjuna. "Astaga! Hu ... hu ... !" Susi menarik dan membuang napasnya perlahan, ketika kontraksi itu datang tiba-tiba. Ia ingat, pelajaran yang di dapatnya ketika prenatal yoga. Untuk tetap tenang, jangan berteriak yang justru akan membuang tenaga. Serta, olah napas dan isi pikiranmu dengan baik.
"Ya Tuhan! Sayang, pasti ini sangat menyakitkan bagimu. Maafkan, aku. Bertahanlah." Arjuna, kembali mengusap pinggang seraya mengecup kening berkeringat Susi.
"Tuan, sepertinya jalan di depan kita ada masalah. Entah, kecelakaan atau apa." jelas sang supir. Semakin membuat Arjuna panik dan kalang kabut. Perjalanan pulang mereka sungguh memakan waktu lebih panjang dari kepergian. Jalur yang ramai serta macet, karena ini adalah malam terakhir weekend.
"Arggh! Kenapa bisa kebetulan begini!" Arjuna benar-benar kalut. Bagaimana tidak, melihat jalanan yang macet total tak bergerak. Juga keadaan istrinya yang sangat mengkhawatirkan.
Susi hanya bisa menggigit bibirnya dan meremas apa saja, untuk menyalurkan rasa sakitnya. Arjuna hanya bisa menahan, ketika cengkeraman Susi terasa begitu ngilu di atas pahanya.
๐๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ช๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ด๐ฆ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต.
Buka pintunya!" titah Arjuna pada sang sopir. "Sayang, ikut aku." Arjuna, menggendong istrinya itu ala bridal style. Dengan beban yang sama berat, ketika ia menggendong istri karyawannya kala itu. Tapi, kali ini istrinya sendiri yang tengah membutuhkan aksi heroiknya.
"Segera susul aku ke rumah sakit!" titah Arjuna pada sang supir. Lalu ia berjalan cepat melewati kendaraan yang berbaris di depan lampu merah. Sorotan lampu dari kendaraan yang tak bergerak sama sekali, menjadi saksi dari aksi heroik calon ayah itu.
Sang supir segera mengambil barang yang di perlukan, lalu meninggalkan mobil begitu saja. Baginya, yang terpenting adalah keadaan majikannya saat ini. Paling-paling, mobil itu akan di derek nanti.
Beberapa pasang mata menyaksikan Arjuna yang membawa wanita hamil dalam gendongannya. Mereka berdecak kagum, bahkan ada yang meringis ngeri. Ketika melihat Arjuna menyelip di antara kendaraan sambil menggendong wanita hamil.
Susi menatap peluh yang membanjiri wajah suaminya itu, air mata sudah tumpah membasahi kedua pipinya. Betapa, Arjuna begitu heroik. Rela berjalan menembus deretan kendaraan, berjalan kaki sembari membawa beban seberat tubuhnya. Susi yang tadinya hanya seberat lima puluh dua kilogram. Semenjak hamil berat tubuhnya naik dua puluh kilo lebih.
๐พUntung aja suamimu perkasa, Susi๐ซ
__ADS_1
Arjuna mengabaikan apapun itu, rasa sakit di kaki bahkan tangannya. Ia hanya mengolah napasnya saja. Agar, tetap stabil ketika mereka sampai nanti. Apa yang ia rasakan saat ini, pengorbanannya saat ini. Semua tidak ada apa-apanya, masih kalah jauh di banding dengan apa yang di rasakan oleh istrinya itu.
Karena di dalam gendongannya, ia bisa merasakan Susi meringis menahan sakitnya. Bahkan, istrinya itu sempat menangis.
"Sayang, sebentar lagi kita sampai. Itu di depan sudah kelihatan gerbangnya." ucap Arjuna. Hatinya semakin panik tatkala merasa tangannya basah. "Apa ini cairan ketuban yang pecah?" Pikirnya.
Sang supir yang tergopoh-gopoh menyusul majikannya itu. Kemudian berlari lebih dulu ke depan. Ia merangsek ke penjaga rumah sakit agar segera membawakan brangkar untuk pasien.
"Mari, Tuan. Baringkan, istri anda di atas sini." ujar perawat wanita yang sigap datang menghampiri ketika penjaga berteriak tadi.
"Cepat selamatkan istri saya! Dia sudah pecah ketuban!" teriak Arjuna, dengan napasnya yang tersengal-sengal.
"Tenanglah,Tuan. Kami akan berusaha menyelamatkan keduanya." ucap perawat tersebut, sembari mendorong brangkar.
"Sayang, kita sudah sampai. Bertahanlah," bisiknya di samping kepala Susi.
"Jangan tinggalkan aku, Ar."
"Aku akan terus menemanimu, My Queen. Kau tenang saja. Tidak ada yang bisa memisahkan mu dariku." Arjuna berkata sembari menggenggam tangan dingin Susi.
"Tidak bisa! Aku harus ikut kemana pun kalian membawa istriku! Jangan berani memisahkan aku dengannya!" marah Arjuna, bahkan ia berteriak kencang dengan suara baritonnya itu. Bagaimana bisa ia di suruh menunggu di luar sementara istrinya di bawa kedalam. Bahkan ia sempat melihat lelehan dari mata Susi tadi. Karena istrinya itu juga sedih, dan inginkan kehadiran dirinya.
"Tapi, Tuan. Maksud kami adalah ...,"
"Panggil, Netta! Atau ku cabut sekarang juga investasi ku di rumah sakit ini!" bentak Arjuna, membuat sang perawat gemetaran dan pucat.
"Juna!" Panggil seorang Dokter wanita dari dalam ruangan. Dokter cantik itu bahkan berlari, karena mendengar adanya keributan.
"Masuklah!" Netta memerintahkan para perawat itu pergi, lalu ia berlalu diikuti oleh Arjuna di belakangnya.
"Maaf, mereka hanya perawat magang. Kami belum sempat mengadakan brieffing tentang kedatangan mu. Ku pikir, paling cepat dua minggu ke depan barulah Susi akan melahirkan. Ternyata, semua di luar dugaan dan prediksi. Mungkin, anakmu sudah sangat merindukan kalian." Netta berkata, sambil sesekali tersenyum, ia menoleh sebentar melihat wajah kecut bin masam di sebelahnya.
"Ingat! Jangan buat rusuh di dalam. Jangan membuyarkan konsentrasi kami, para tenaga medis." Netta berpesan, seraya mengganti jubahnya dengan jubah medis khusus. Begitupun dengan Arjuna. Pria itu, melempar jasnya ke atas tong sampah, lalu menggulung lengan kemejanya sebatas siku.
__ADS_1
Pak supir memungut jas mahal majikannya, dan menunggu di luar ruangan sembari mendekap tas milik Susi.
" Haihh, kenapa ponselnya berbunyi terus." Sang supir mengabaikan, ponsel Susi yang sejak tadi berdering. Tapi, lama kelamaan ia penasaran juga. Bukankah, harus ada yang di kabari jika istri majikannya akan melahirkan pada saat ini.
"Angkat ajalah! Haโhalo ...!"
๐๐ฆ๐ช, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข! ๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ ๐๐ถ๐ด๐ช!
"Nyoโnyonya, akan melahirkan."
๐๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ? ๐๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข?
"Rumah sakit Muara Kasih Ibu!"
"Jika anda temannya, nyonya Susi. Kemarilah segera! Kami, ada di ruang bersalin. Nyonya di tangani oleh Dokter Netta!" Tuutt ...
Sementara itu, di lain tempat pada waktu yang sama.
"Tuh, 'kan. Perasaan Ninis beneran terbukti. Pantesan dari tadi tuh, gak enak aja bawaannya. Kepikiran terus." oceh Vanish, yang kini masih berada di atas kasur pengantin. Bahkan, tubuhnya masih polos dan hanya berbalut selimut berwarna marun.
"Kalau, begitu. Bersihkan diri, lalu kita menyusul kesana. Tuan, pasti sangat panik," ucap Better. Ia telah lebih dulu turun dari tempat tidur, kemudian melilitkan piyama di raga polosnya itu.
"Sugan duluan aja deh yang mandi, Ninis belakangan."
"Kelamaan, kita mandi bareng aja. Yuk!" Better menarik tangan Vanish, tapi istrinya itu menolak. Dengan kepala yang menggeleng cepat serta kedua pipi yang merona merah.
"Gak usah, gantian aja." Vanish membuang wajahnya kesamping, demi menutupi rona di kedua pipinya.
"Kenapa? Imoy malu? Ngapain malu? Sugan, udah liat semuanya, kamu juga 'kan?" goda Better sembari berbisik. Dengan jail, ia menarik selimut yang tengah dipegangi kencang oleh Vanish. Hingga, terbukalah sempurna dan dada sintal bin padat itu kembali terekspos.
"Akhh! Sugan! Ninis 'kan malu!" Vanish hendak menyambar kembali selimut itu, tapi Better keburu mengangkat tubuh mungilnya.
๐พYe ye mandi bareng ...๐๐๐
__ADS_1
Bersambung>>>>>