
🔥🔥🔥🔥🔥
Disebuah rumah sakit, seorang pria berkulit putih terus mengerang. Dirinya baru sadar beberapa waktu yang lalu.
" Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa putraku bisa seperti ini?" lirih seorang wanita tua bertubuh gemuk dan pendek.
Kedua matanya nanar menatap sang putra yang sesekali mengerang kesakitan.
Tubuh pria itu hanya di tutupi oleh selembar selimut, karena salah satu alat vitalnya baru saja di operasi.
"Siapa yang melakukan ini padamu Nak?" gumamnya miris, hatinya sebagai seorang ibu merasa teriris.
Klek.
Suara pintu di buka, menampakkan sosok seorang wanita cantik berjalan masuk kedalam ruangan berbau desinfektan.
"Jelita." panggil Easy, sambil menarik tangan mantan selebgram itu kencang.
"Lepas!" tepis Jelita, menarik tangannya dari genggaman Easy.
"Apa yang terjadi pada Seno, katakan!" hardik Easy, sambil mencekal pergelangan Jelita.
"Mana ku tau!" Jelita menghempas tangan wanita tua itu dengan kasar.
"Kau!" Easy geram, ingin rasanya ia mencekik wanita yang semakin berani padanya. Dulu, di pikirnya ia dapat mengendalikan wanita di hadapannya ini demi keuntungannya. Agar Seno segera menceraikan Susi pada saat itu. Ternyata, kini dirinya sedikit tau apa maksud dan tujuan wanita ini kembali mendekati sang putra, bahkan rela mengandung benih dari putranya.
Padahal setau dirinya, karena menurut informasi orang suruhannya. Anak perempuan kandung Jelita saja di telantarkan, di kampung halamannya.
__ADS_1
Belum lagi info yang baru saja diketahuinya, bahwa Jelita suka menjual tubuhnya demi kelancaran karirnya di layar lebar.
Makin muak saja Easy pada wanita ini, padahal dirinya pun bukan wanita yang suci. Meski sudah berumur Easy memiliki libido di atas rata-rata wanita pada umumnya. Ia membutuhkan seseorang untuk menyalurkan hasratnya sepeninggal sang suami ke alam kubur.
"Anakmu sekarang cacat Nyonya. Dia sudah menjadi lelaki yang tidak berguna." sarkas Jelita tersenyum remeh.
"Tidak, anakku tidak cacat!" sanggah Easy dengan emosi.
Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak. Bagaimana ia dapat menghadapi dunia, bila Seno menjadi pria yang tak lagi sempurna.
" Apa lagi yang anda sangkal Nyonya,"
" Akulah satu-satunya penyelamat keluarga ini." tawa Jelita kencang. Ia tak perduli terhadap pasien pesakitan di atas brankar sana.
" Je- Jelita ...," panggil Seno lirih dan terbata.
Jelita menghampiri pria yang begitu terlihat pucat dan lesu. Pandangannya menatap remeh dengan senyum mencibir.
(Apa yang tengah ia rencanakan? Wanita ular itu begitu licik. Aku harus memiliki rencana setelah anak itu lahir nanti.) batin Easy dengan segenap niat busuknya.
"Akh!" Lagi-lagi seno mengerang, entah apa yang tengah di rasakan pria itu. Yang pasti membuat ngilu setiap orang yang melihatnya. Terkecuali tunangan cantik nan seksinya ini.
"Sabarlah, aku telah berbicara dengan Dokter. Setiap sakit yang kau rasakan adalah alami, karena proses penyambungan tulang serta beberapa jaringan yang putus." jelas Jelita, dengan senyum mengejek. Tak ada simpati sedikit pun pada pria yang dulu pernah menjadi pemilik hatinya itu.
"Kau tau, saat ini gairahku sedang berada di puncak. Tapi, keadaanmu malah seperti ini," Jelita berbicara sambil menunduk, sehingga terusan suez pada kedua bukitnya nampak jelas. Membuat kedua mata Seno seketika melotot.
"Sepertinya, sampai kapanpun kau tidak akan bisa memuaskanku. Tapi, tenang saja. Aku akan tetap menjadi istrimu di atas nota." Tawanya kembali menggema di ruangan VIP tersebut.
__ADS_1
"Berhenti mengganggu putraku. Apa kau tak punya hati!" Easy menarik Jelita agar menjauh dari brankar Seno.
Ia tak terima putra satu-satunya di hina seperti itu.
"Hah. Kau bilang aku tak punya hati?"
" Hei ... Nyonya. Apa kau pikir selama ini putra mu punya hati!" hardik Jelita sambil menuding telunjuknya ke wajah Easy. Tubuh wanita itu yang lebih pendek darinya, semakin mempermudahnya untuk mendiskriminasi.
" Ha! Sudahlah, aku hanya membuang waktu di sini. Lebih baik mencari lelaki perkasa yang mampu berdiri, untuk ku ajak bermain semalaman."
"Bye, Seno sayang. Cepat sembuh ya." Kemudian Jelita berlalu dengan tawa cekikikan.
Sementara itu di waktu yang sama di lokasi yang berbeda.
"Ar ...," Susi terus saja tersedu sambil mendekap tubuh Arjuna.
"Kenapa kau terus saja menangis? Yang mati kan si kucai itu." gemas Arjuna. Karena Susi terus saja menangis sambil memeluknya.
"Apa kau tidak lelah? Lihatlah kedua matamu ini," tunjuk Arjuna pada sepasang mata indah yang kini sembab itu.
"Aku takut, aku menghawatirkan mu," jelas Susi dengan sedikit terisak.
"Kan aku baik-baik saja. Apa yang membuat mu begitu takut?" Arjuna meraih dagu itu, hingga wajah sendu Susi mendongak ke arahnya.
"Itu semua karena Joy datang tepat waktu, seandainya ia telat sedikit saja. Aku tidak akan sanggup membayangkannya." Susi kembali menenggelamkan wajahnya di dada pelukable itu.
"Haish, Nona kenapa kau bucin duluan!" Joy menepuk jidatnya. Menyaksikan adegan di depan matanya.
__ADS_1
Arjuna hanya menaikkan kedua bahunya acuh dengan senyum tercipta setelahnya.
Bersambung>>>