Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 296. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Walls yang baru saja menyelesaikan makan siangnya di sebuah restoran, menyunggingkan senyumnya ketika ia hendak berbalik. Kedua mata birunya berbinar tatkala pandangannya itu menemukan satu sosok yang beberapa hari ini ia perhatikan pergerakannya. Pemuda dengan darah keturunan Eropa itu, akan memulai aksinya hari ini.


"Will, target kita berada di arah pukul 03.00," ucap Walls memberi kode kepada asistennya. Sontak Will segera menolehkan kepalanya kearah yang di maksud oleh majikannya itu.


Seketika raut wajah Will pun sumringah. Kedua pria berwajah bule itu pun langsung beranjak dari tempat mereka berdiri. Menghampiri Rose dan Mona, dengan cara yang tidak kentara.


Kedua wanita itu terlihat tengah memeluk map berwarna merah dan biru. Entah kenapa mereka memasang wajah yang begitu lesu. Bahkan Rose terlihat beberapa kali menolehkan kepalanya ke dalam restoran. seakan langkah kakinya berat untuk keluar dari tempat itu.


" Haduh Mon, Aku kira di tempat terakhir ini kita akan diterima. Aku sudah terlanjur menyukai tempat ini, karena suasananya nyaman serta desainnya begitu estetik." Rose mengeluh kepada wanita di sebelahnya dengan kepala yang masih melihat ke dalam restoran.


"Sebaiknya kita pulang saja Rose, aku lelah. Biarlah besok lagi kita mencari pekerjaan di tempat lain." Mona pun menarik tangan Rose untuk segera beranjak di tempat itu. Untuk menuju angkutan umum mereka harus menyeberang lahan parkir dulu. Ketika hendak melewati mobil yang terparkir tiba-tiba ada seorang pria yang menyenggol bahu Rose.


"Hei!" teriaknya kaget, karena pria ini tiba-tiba muncul dari balik mobil mewah.


"Oh, sorry!" ucap Walls berpura-pura seakan mencari sesuatu yang terjatuh ke atas tanah.


"Maaf, saya tidak melihat anda Nona." Walls memungut kunci di samping ban mobil kemudian ia menoleh ke arah Rose. Seketika hal itu membuat Rose membulatkan kedua matanya yang indah serta berbulu lentik.


"Kaโ€“kau!" tunjuk Rose kaget sekaligus terkesima.


"Ya Tuhan! Kau ternyata mengabulkan keinginanku." Walls menampilkan wajah senang seakan mereka benar-benar bertemu secara kebetulan.


Rose mendengus pada akhirnya, lantas ia menyeret Mona untuk meneruskan langkah mereka. Tak ada sepatah katapun lagi yang ia ucap selain sikap kekagetannya tadi.


"Hei Nona! Kok pergi gitu aja sih!" panggil Walls yang langsung mengambil langkah lebar demi mengejar target incarannya selama beberapa pekan ini.


"Kita tidak ada urusan lagi, tentu saja aku harus pergi." Rose berkata dengan ketus. Entah kenapa dia tidak menyukai gelagat yang ditampilkan oleh pemuda berwajah bule ini.


" Ya kan kita pernah bertemu, aku tahu kok kamu juga pasti ingat. Apa kau tidak senang bertemu lagi denganku? Aku saja senang. Bukankah ini berarti kalau kita berjodoh?" ucap Walls asal yang mana justru membuat langkah Rose seketika berhenti. Rose menoleh seketika dengan tatapan sinis nya ke arah Walls.


"Jangan asal bicara! Aku tidak mengenalmu!" tampik Rose memberi Walls serangan dengan jurus yang membuat pemuda itu skak-mat alias mati kutu.


Di belakangnya, Will ternyata tengah menahan tawanya mati-matian. Sampai- sampai pria berkacamata itu tersedak udara dan ia pun terbatuk-batuk setelahnya.


PLETAK!


Walls seketika berbalik dan mendaratkan pukulannya pada kepala Will.

__ADS_1


"Puas kau!" sarkas Walls dengan wajah kusut bak keset selamat datang.


"Sakit Bos!" Will mengelus kepalanya yang menjadi sasaran empuk dari kekesalan Walls.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ต ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ. Walls tersenyum smirk dengan segala pikiran liarnya. Ia yang semula hanya berniat main-main kini menjadi benar-benar serius dalam menargetkan Rose.


๐˜’๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ฐ๐˜ด. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜‰๐˜ฐ๐˜ด. Will masih terus menertawai Walls dalam hatinya. Dasar asisten lucnut!


Kita tinggalkan si bocah badung dengan segala ke-kekiannya. Sesekali anak itu memang harus mendapat pelajaran akhlak dan moral dalam hidupnya. Bahwa tidak semua perempuan atau wanita itu akan silau dengan tampang glowing atau dollar-mu yang bergemerincing.


Kita beralih kepada pejantan cogan kita, yang mana style rambutnya yang biasa saja, akan tetapi mampu membuat hatimu seakan ada sayap kecil yang menggelitik.


Rambut ikal sebahunya yang selalu di kuncir asal. Serta pakaiannya yang kasual terkadang semi formal. Membuat wanita manapun akan mengarahkan perhatian padanya. Tapi, jangan salah. Kau bebas menatapnya sampai puas, sedangkan pandangannya hanya terarah dan tertuju pada sosok mungil yang sedang mengunyah takoyaki di hadapannya ini.


"Mau nambah lagi ๐˜”๐˜ฐ๐˜บ?" tanya ... klean taulah siapa yang sedang ku bahas kan. Pria berkulit putih dengan kontur wajah Asia itu. Senantiasa melempar senyum lembut dan hangatnya pada sang istri.


"Cukup ih, Ninis udah nambah dua kali," sahut wanita mungil dengan tubuh yang semakin berisi itu. Karenanya ia mengenakan kaus dengan ukuran lebih besar dari tubuhnya. Vanish tak mau menampilkan lekuk tubuhnya yang semakin aduhai akhir-akhir ini. Tentunya juga karena atas permintaan dari suami gantengnya itu.


" Gapapa, kalau masih mau biar aku pesankan lagi," tawar Better serius. Padahal istrinya itu sudah menghabiskan 15 takoyaki.


"Gak mau, nanti Ninis ikutan bulet kayak makanan itu," jawab Vanish dengan celetukan asalnya.


"Ish apaan sih! Kebiasaan deh ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ nyubit pipi Ninis mulu sekarang," protes Vanish setengah merajuk. Ia merasa tak nyaman dengan bentuknya sekarang. Wajah tirusnya kini menjadi sedikit bulat dan chubby.


"Kok manyun sih? Aku kan gemes sama kamu jadi pengen gigit," ucap Better asal diiringi dengan kekehan kecilnya. Jarang-jarang seorang Better tertawa di tempat umum begini. Sampai beberapa pengunjung wanita yang berdekatan dengan meja keduanya terkapar di atas meja mereka.


"Lumer hati gue ges, sama senyum mahalnya."


"Gila tuh cewe, beruntung banget sih dapetin dia."


"Serasa nonton drama dari negara F gue gais."


"Ceweknya juga lucu ges, cantik."


"Enggak ah, B aja itu mah. Style nya aja sederhana banget gak imbang."


"Sirik aje lu Ijah!"


"Iyalah, secara gue ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด."

__ADS_1


Mendengar kasak-kusuk di sekitarnya, membuat Better jengah dan mulai tak nyaman. Ia bukan tipe pria caper yang suka tebar pesona dan gila pujian. Justru dirinya sangat risih di perlakukan seperti ini.


"Pulang yuk," ajak Better seraya bangun dari duduk dan mendekati Vanish. Ia mengulurkan tangannya untuk meraih pinggang istrinya itu.


"Kamu dari tadi malah belom makan, saking asiknya ngeliatin Ninis aja," protesnya enggan beranjak. Bukannya Vanish tak mendengar akan tetapi wanita mungil itu mencoba abai dan itulah ia yang selalu cuek dan masa bodoh dengan penilaian orang lain. Toh ia hidup bukan untuk menyenangkan orang, bukan.


Sejak awal ia pun tau kekurangannya. Mendapatkan Better adalah sebuah anugerah. Akan tetapi bukan berarti ia tak pantas, dan berhenti untuk mencoba menjadi yang terbaik di mata dan hati lelakinya.


"Melihat ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ makan aja aku udah kenyang. Nanti, mau makan kamu aja di rumah," bisik Better membuat kedua pipi Vanish nge-blush seketika.


"Masih siang juga udah kesitu aja deh ngomongnya," kilah Vanish, jantungnya berdegup kencang acap-kali Better memberi kode seperti itu. Padahal mereka pun sudah sering melakukannya. Apalagi Better seolah sedang kejar setoran.


"Biarin, biar cepet jadi," bisik Better lagi, kali ini ia juga melabuhkan kecupan pada telinga Vanish.


Muah ...


๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฎ. ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข. Vanish pun membalas rangkulan suami gantengnya itu, seraya melabuhkan kecupan sekilas di bibir Better.


Ia pun langsung berjalan sambil menarik tangan Better yang berada dalam genggamannya saat ini. Better seketika menyunggingkan senyumnya.


๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ....


"Huwaaa ... mereka serasi banget ges ..."


"Dahlah, gigit sedotan aja nih!"


...๐™ƒ๐™š๐™ž ๐™๐™š๐™ž ๐™๐™š๐™ž, ๐™ข๐™–๐™  ๐™ ๐™–๐™ข๐™—๐™š๐™  ๐™œ๐™–๐™ž๐™จ ......


^^^๐™๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™จ๐™ก๐™ค๐™ฌ ๐™ช๐™ฅ๐™™๐™–๐™ฉ๐™š ๐™ฎ๐™– ... ๐™ข๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™š๐™ง๐™ฉ๐™ž๐™–๐™ฃ๐™ฃ๐™ฎ๐™–.^^^


...๐™†๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™—๐™š๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™ฅ๐™– ๐™๐™–๐™ง๐™ž ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ก๐™–๐™ก๐™ช ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™Ÿ๐™ช๐™œ๐™– ๐™ ๐™š๐™ข๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™ž๐™ฃ๐™–๐™ฃ ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™—๐™š๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™ฅ๐™– ๐™๐™–๐™ง๐™ž ๐™ ๐™š ๐™™๐™š๐™ฅ๐™–๐™ฃ. ๐™ˆ๐™–๐™  ๐™จ๐™ž๐™—๐™ช๐™  ๐™—๐™–๐™ฃ๐™œ๐™š๐™ฉ ๐™™๐™ž ๐™ง๐™š๐™–๐™ก ๐™ก๐™ž๐™›๐™š....


๐™ˆ๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ฃ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ช๐™จ ๐™˜๐™š๐™ง๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™จ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™š ๐™ฉ๐™–๐™ข๐™–๐™ฉ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ฅ๐™ฅ๐™ฎ ๐™š๐™ฃ๐™™๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ฎ๐™–.


๐™Ž๐™š๐™๐™–๐™ฉ-๐™จ๐™š๐™๐™–๐™ฉ ๐™—๐™ช๐™–๐™ฉ ๐™ ๐™ก๐™š๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™ข๐™ช๐™– ...


๐™†๐™š๐™š๐™ฅ ๐™๐™š๐™–๐™ก๐™ฉ๐™ฎ, ๐™ ๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ก๐™–๐™œ๐™ž ๐™ข๐™ช๐™จ๐™ž๐™ข ๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™˜๐™–๐™ง๐™ค๐™—๐™–.


๐™‡๐™ค๐™ซ๐™š ๐™ช ๐™–๐™ก๐™ก๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2