
🔥🔥🔥🔥🔥
"Hem, Buatkan aku janji dengan Dokter Netta De Coco." suara bariton itu menggema di saluran telepon seluler.
Hingga seorang pria dengan potongan rambut hair cut skin, mengangguk patuh.
"Baik, Tuan. Saya akan kabarkan segera." sahut pria dengan piyama bermotif katak berwarna hijau, dirinya sesekali menguap. Karena sang Bos memang selalu menghubunginya tanpa sadar waktu.
Sebagai seorang asisten andalan, dirinya haruslah siap sedia dan siaga kapan saja.
"Kenapa tiba-tiba ingin menghubungi teman masa kuliahnya dulu ya? untuk apa?" herannya sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
"Tauk ah, mending tidur lagi." Joy pun kembali mendekap guling kesayangannya.
" Hem ... Veronica ...." begitulah panggilannya, pada si guling kesayangan.
________
Siangnya.
"Tuan, saya telah memasang janji dengan Dokter Netha, dua hari kedepan." lapor Joy, asisten yang selalu terlihat mempesona itu. Gayanya yang maskulin dengan setelah kerja yang formal. Berpadu dengan sempurna bagi seorang Joy sang penakluk.
" Terimakasih, Joy." sahut Arjuna, melirik sekilas. Karena tatapan kini kembali berpusat pada tumpukan berkas di hadapannya.
Sedangkan Susi, dirinya pun tengah menandatangani beberapa tumpukan berkas yang di kirim oleh sekretaris Better saat jam makan siang.
"Van, ini sudah separuh. Kamu temani aku makan siang dulu ya," pinta Susi kepada sahabat lamanya itu.
"Memang, Kakak tidak menemaninya? Kenapa malah mengajakku?" tanya Vanish. Sambil melirik kearah Arjuna.
" Sebentar, aku ijin dulu." Susi pun berdiri, kemudian melangkah menghampiri Arjuna.
"Ar, aku mau makan siang dengan Vanish. Apa kau ingin di bawakan sesuatu?" Pertanyaan Susi sontak menghentikan aksi serius Arjuna. Sepasang matanya menatap tajam Susi, membuat dirinya tercekat tiba-tiba.
__ADS_1
"Kita berangkat bersama." Arjuna pun langsung mematikan laptopnya itu.
"Kenapa?" Susi, sontak dirinya terkesiap ketika lagi-lagi Arjuna menatapnya tajam.
"Masih nanya." ucap Arjuna datar. Pria itu mengenakan jasnya.
"Nanti kamu bosen kalo denger kita berdua ngobrol." Susi memohon dengan menyentuh lengan kekar itu. Apa jadinya kalau si tuan kenebo kering yang jarang tertawa ini ikut.
"Buktikan." tantang Arjuna, lalu menarik tangan Susi.
Wanita itu menghela napas pasrah, daripada tidak bisa makan diluar, pikirnya.
Lalu, ia pun mengkode Vanish agar mengikutinya.
_______
Di sebuah restoran padang terkenal, yang terletak di area sekitaran perusahaan.
"Ehm, udah lama gak makan rendang seenak ini." celoteh Vanish, seraya memasukkan sisa daging dengan tangannya, kedalam mulut mungilnya itu.
" Tidak, Kak. Aku kenyang." tolak Vanish.
" Tentu saja kenyang, badan sekecil itu tapi bisa menghabiskan empat potong rendang dan satu kepala kakap." sarkas Joy, dengan lirikan sinisnya.
Vanish pun hanya bisa menunduk malu setelah ia menyadari, bahwa apa yang dikatakan Joy adalah benar.
(Kenapa aku bisa sekalap ini! Memalukan!) rutuk Vanish dalam hati.
"Sudahlah, Joy. Kau pun menghabiskan begitu banyak cumi dan belut. Lihat piring mu sendiri!" celetuk Arjuna, menghantam Joy seketika pada kenyataan di hadapannya.
"Wah, kok aku gak sadar ya. Karena terlalu menikmati sepertinya." kekehnya sambil nyengir-nyengir gak jelas.
Vanish pun mencebik pada Joy, membuat pria itu melotot padanya.
__ADS_1
(Sendirinya rakus, tapi malah menyerang ku!) sebal Vanish, walaupun hanya bisa dalam hati.
"Itulah arti peribahasa, gajah di pelupuk mata tak terlihat. Sedangkan semut di ujung lautan kau nampak." sindir Susi pada Joy, membuat pria itu ingin menenggelamkan dirinya ke dalam kuali tunjang.
🐾 Sabar ya readers ini ujian, abis baca cuzz-lah ke warung padang.🤣
________
Pagi ini Arjuna mengajak Susi mengunjungi kenalannya pada masa kuliah dulu.
"SPOG? Ahli kandungan?" Susi memasang wajah terkejut, kenapa tau-tau pria-nya ini mengajak menemui seorang Dokter spesialis.
"Ya, kita cari tau tentang segala kekhawatiran mu itu. Supaya tidur malam mu tidak mengigau lagi," Arjuna menyentuh ujung hidung Susi dengan jari telunjuknya.
"Kau tau? Bagaimana bisa?" Susi tanpa sadar membulatkan matanya.
Fiuuuuh ...!
Sepasang mata indah itu mengerjap, ketika Arjuna meniupnya pelan.
"Jangan melotot padaku."
"Siapa suruh tak mengunci pintu, untung saja aku bukan keturunan spesies buaya atau pun komodo," seloroh Arjuna membuatnya terkekeh sendiri.
"Perasaan sudah ku tutup," gumam Susi yang masih bisa terdengar oleh Arjuna.
Klek!
"Satria!" sapa seorang wanita cantik dengan mata biru dan berambut karamel.
"Hai, Netta." balas Arjuna dengan senyum di wajah tampannya itu.
(Apa hubungan mereka, kenapa terlihat sudah saling mengenal?) batin Susi, menatap keduanya bergantian.
__ADS_1
Bersambung lagi ......>>>>