Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Mantan gak ada akhlak!!


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


***


Setelah pertemuan makan malam itu, mereka berdua saling bertukar nomer ponsel.


Sejak saat itu, Seno melempar perhatian pada mantan istrinya itu. Sering mengirim chat dan juga menelepon.


Susi yang terbawa suasana merasa senang, ia belum pernah seperti ini. Mereka layaknya pasangan muda yang tengah berpacaran. Saling menanyakan kabar dan mengungkap rindu lewat chatting.


Beberapa kali bertemu meski hanya sekedar makan siang. Hubungan mereka kian dekat, Susi melihat kesungguhan dari mantan suaminya itu dan berniat melupakan sakit hatinya.


Bukankah, ini yang ia rencanakan? Mengambil kembali cinta dan perhatian Seno dari Jelita.


"Mbak ada layanan go food nih!" teriak Yupi pada Susi yang sedang di dapur.


"Banyak banget Yu, ya ampun!" Susi memekik kaget melihat bermacam makanan. Ada pizza, makaroni schotel, sea food saus thailand, sate kambing, ayam dan sop serta gulai. Beberapa minuman dingin, boba, jus, thai tea.


"Iya Mbak, ada tiga driver yang datang tadi," jelas Yupi.


"Perut kita akan membengkak makan ini semua," kekeh Susi, tak lama kemudian sebuah notifikasi pesan muncul di ponselnya.


📩Sayang, apa kirimanku sudah sampai ?


📩Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam, hanya saja aku harus ke luar negeri selama tiga hari.


📩Jangan merindukanku, biar aku saja yang merindukanmu.


Susi tersenyum simpul dengan kedua pipi yang merona, wajah dan hatinya menghangat.


Ia membalas pesan itu dengan singkat.


💌Terima kasih banyak.


💌Jaga dirimu!.


"Wah kita mukbang!" Seru Vanish dan Rapika yang baru datang.


****


Sepulang dari luar negeri Seno hanya mampir kerumahnya sebentar, lalu ia pergi lagi menuju apartemennya.


Apartemen yang khusus ia beli, baru saja. Ia berniat menyembunyikan hubungan dengan Susi di sini.


Ia sudah tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Otak nya sudah di penuhi oleh dengan pertautan gelora penuh gairah.


Seno terus mengumpat di bawah guyuran air shower di kamar mandi apartemennya.


"Sial! Bahkan, meniduri wanita malam setiap hari pun, masih membuat kepala ku pusing."


"Arrghh...! Susiii!"


Tak lama kemudian Seno keluar, di lihatnya layar ponsel yang tergeletak di atas kasurnya terus menyala.


📲"Halo babe."


📲"Ya, aku sudah pulang."


📲"Kau di rumah ku! A-aku langsung ke kantor."


📲"Baiklah, aku sangat merindukanmu." "Aku akan datang menemui mu." "Bersiaplah!"


Menutup telepon dan tersenyum penuh arti.


"Aku akan mengurangi linu di seluruh tubuhku ini dengan Jelita." Seno mengenakan pakaiannya lalu menyambar kunci mobilnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian.


(Sial! Kenapa seleraku tiba-tiba hilang.) rutuk Seno di dalam hatinya.


Padahal wanita yang sejak tadi bermain di atasnya sudah sibuk menjelajahi tubuhnya hingga meracau tak jelas.


"Akhh...ahh...! Apa goyangan ku kurang sayang?"


"Atau kau mau ganti posisi?" tanya Jelita, yang sudah bermandikan peluh karena telah sekuat tenaga mengerahkan seluruh kemampuannya.


"Turunlah, aku harus pergi!" Seno mendorong tubuh seksi itu hingga terpisah dari penyatuan mereka.


"Akh, ke-kenapa sayang?"


"Bahkan, kau belum keluar sama sekali?" tanya Jelita bingung, padahal sudah hampir dua jam dia bermain, semua cara sudah di lakukan nya. Sampai mulutnya kebas dan mati rasa karena terus menyesap kepala pusaka keramat itu.


Namun tak ada sedikit pun lahar yang berhasil di muntahkannya. Malahan dia yang sudah dua kali mencapai nirwana.


Seno tak menggubris, ia pergi dengan wajah kusut masai.


"Lelaki itu, kenapa akhir-akhir ini susah ku puaskan. Bagaimana kalau ia berpaling? Ah tidak! Aku tidak akan melepaskan tubuh dan uang mu yang lezat." Jelita tersenyum licik kemudian tertawa jahat.


Seno tak bisa mengalihkan pikirannya dari fantasi liar nya bersama Susi. Ia terus mengingat bagaimana lezat dan gurihnya tubuh itu.


📲"Sayang, keluarlah! Aku sudah di depan gang."


Seno menunggu Susi di depan gang. Ia pastikan, akan mendapatkan Susi malam ini. Apapun caranya, ia cukup tersiksa selama kedekatan mereka.


Seno tersenyum smirk sambil memandang buket bunga di sebelah kursinya.


Matanya teralihkan keluar jendela, kala sosok yang diinginkannya tengah menghampiri.


"Maaf Mas, kita mau kemana?" dengan wajah merona Susi bertanya, di dalam dekapannya kini ada sebuket besar bunga lili kesukaannya.


"Ke apartemenku, aku rindu steak buatan mu,"


"Ta-tapi, kita?" ragu Susi.


"Aku belum makan sejak semalam, apa kau tega?" rayu Seno.


"Ah, baiklah," ucap Susi pasrah.


Di sinilah mereka di sebuah ruangan yang sangat bagus mewah dan bersih.


"Apa ini dapurnya, Mas?" tanya Susi.


"Iya, ku harap kau nyaman memasak di sini. Aku sengaja membelinya untuk bisa bersama dengan mu lagi," ucap Seno membuat Susi sontak menoleh padanya.


"Kita jalani saja, jangan terlalu memaksakan diri dan kehendak. Biarkan semua yang pernah layu tumbuh kembali perlahan," ucap Susi penuh makna.


(Sial! Aku tak bisa menunggu selama itu.)


"Aku sangat merindukanmu." Seno meraih jemari lentik Susi, sambil terus menatap mata itu.


"Aku bahkan meninggalkan Jelita demi menemui mu." Seno mendekatkan punggung tangan Susi dan mengecupnya.


"Katanya lapar, jadi biarkan aku memasak." Susi melepaskan genggaman Seno, karena ia takut dirinya terbawa suasana yang hampir menghanyutkannya itu.


Seno meraih pinggang ramping Susi, memeluknya dari belakang.


"Akh, apa yang Mas lakukan!" pekik Susi yang kaget.


"Aku sangat merindukan wangi tubuhmu...," Seno mendekap Susi erat dan terus menciumi tengkuknya dari belakang.


Rupanya pria itu telah kehilangan kewarasannya, ia bahkan melupakan semua rencana yang telah di susunnya dengan rapi.

__ADS_1


"Lepas Mas! Aku tidak suka cara mu!"


"Ingat! Aku bukan lagi istri mu!" Susi meronta mencoba melepaskan diri dari dekapan pria tinggi itu. Tubuhnya yang lebih pendek dari Seno membuatnya sulit melepaskan diri.


"Tidak. Mas! Kau sudah gila!" Susi yang merasakan ada benda keras yang menusuknya dari belakang. Tambah kalut karena kedua tangan Seno telah memerangkap bongkahan di dadanya.


Meremasnya kuat membuat air mata Susi luruh seketika.


Seno mendorong tubuh ramping itu ke meja dapur. Menarik blues Susi hingga kancing-kancing baju atas berserakan.


Bahkan Seno telah membuka resleting celananya. Hatinya telah gelap tertutupi oleh kabut gairah dan napsu menggelora.


Susi merasakan benda tumpul itu menusuk di belakangnya. Seno semakin liar menciumi tengkuknya yang terbuka.


"Mas! Hentikan!"


"Akhhh...! Jangan....!" Susi masih berusaha melepaskan dirinya. Seno malah membalik tubuhnya, menarik blues nya hingga nampak pada pandangannya, dua buah padat yang tertutup pembungkus berwarna merah.


Pemandangan indah itu semakin menaikkan geloranya, Seno meraup bibir yang terus berteriak memohon padanya, menggesekkan pusaka nya yang telah mengeras pada bagian bawah Susi.


Susi sekuat tenaga menahan tangan Seno yang hendak melucuti pakaian bawahnya.


Sia-sia, tenaga pria yang beringas sangatlah kuat, Seno layaknya hewan buas yang tengah mencengkeram kelinci kecil.


Jemari Seno lolos menembus inti Susi yang lembab. Mulutnya kembali membungkam jeritan campur desah yang hampir melengking itu.


"Emmhh...," Susi masih berusaha mempertahankan kewarasannya, meski ia sempat terbuai sesaat dengan sentuhan Seno.


Namun ia sadar, ini adalah pelecehan. Tindak kejahatan tengah terjadi pada dirinya.


Jemari Seno semakin dalam mengobrak-abrik isi hutan yang terjaga ketat selama beberapa waktu itu.


Susi menggigit bibir Seno agar tautan mereka terlepas. Namun, Seno hanya menyeringai dan mengisap darah yang mengucur dari bibirnya.


Ia sudah memosisikan pusaka nya di antara kedua kaki Susi yang sudah terbuka.


Karena pakaian bawahnya telah melorot ke bawah sedangkan kain segi tiga itu telah di tarik hingga sobek tak berbentuk.


Sebelah tangan Susi mencari sesuatu meraba benda apapun yang sekiranya dapat di gunakan olehnya.


Hingga ia menemukan sebuah teplon gagang dan...,


PLETAKK!


BANG!


Seno terhuyung dengan kepala yang mengucurkan darah. Ia menatap Susi tajam dan hendak menerkam lagi.


Susi yang sudah mengenakan celana panjangnya mengarahkan kakinya di pusat vital Seno.


BUGGH!


"ARRRGGGH!"


"WANITA SIALAN!"


Seno ambruk sambil memegangi pusaka yang di tendang ketika sedang tegak-tegak nya.


Susi segera melarikan dirinya, untung saja pintu apartemennya belum di kunci. Bahkan ia lupa akan keadaan tubuh bagian atasnya yang terbuka, ia hanya ingat menyambar tas dan ponselnya.


Sebenernya berat nulis kisah pelecehan ini.


...Tapi cukup puas ketika Susi melawan....


...Semoga Seno gegar otak atau gak tongkatnya melehoy.😤...

__ADS_1


Beraambung>>>>


__ADS_2