Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Keadilan Bagi Penjahat.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Ada apa ini!" Tuan Koh Pi Liong, kaget karena ada serombongan pria berjas hitam masuk ke aula menemuinya.


"Dua orang asisten dari presdir Joy Dan Better mengalami pelecehan dan penyerang pada acara anda, mohon izinkan kami untuk melihat rekaman CCTV." Seorang pria berbadan besar maju, kulitnya sedikit gelap dengan kepala pelontos.


"Apa! Bagaimana bisa?"


"Ah, baiklah. Silakan kalian ikuti orang-orangku." Pria berkulit putih dengan mata sipit itu, terlihat memijat pangkal hidungnya.


Bukk!!


Tiga orang pria di lempar ke tengah aula, membuat beberapa tamu memekik kaget.


"Saya harap, anda menindak mereka." Pria yang bernama Black itu, meminta agar sang tuan rumah memberi ganjaran bagi ketiga tamunya yang berbuat di luar kendali.


"Serahkan pada saya, besok saya akan menyampaikan permohonan maaf untuk dua perusahaan korban." Pria bermarga naga itu, sedikit menunduk tanda menyesal.


"Kami akan menyampaikan permohonan maaf, anda." Setelahnya, Black beserta rombongannya undur diri.


"Buang mereka ke rawa buaya! Merusak acara ku, jangan harap masih bisa hidup!" titah tuan Koh pada anak buahnya.


"Ampuni kami, Tuan!"


"Mohon, masukkan kami ke penjara saja!"


"Setidaknya, buaya jangan di jadikan makanan buaya! Ini sungguh melecehkan!" Seseorang dari ketiga pria mabuk itu, masih belum sadar. Akibatnya pria itu terus meracau tak jelas.


Mereka pun di lempar ke dalam mobil box, lalu di bawa ke penangkaran buaya aligator milik pengusaha waralaba tersebut.


Bukankah, konglomerat ataupun milyuner pasti memiliki peliharaan? Entah itu manusia ataupun hewan buas.


Sehingga, mereka tidak terlalu membutuhkan hukum atau pihak berwajib untuk menyelesaikan urusan mereka.


Ya, lumayanlah. Mengurangi dosis manusia sampah di muka bumi. Lagipula, pajak rakyat bukan untuk memberi makan para penjahat.


Seperti di suatu tempat yang memuakkan bagi seorang pria, bekas milyuner. Karena sebuah kejadian, membuatnya harus rela mendekam di balik jeruji besi.


Hari ini, adalah hari bersih-bersih sepekan sekali. Seno yang keadaannya sudah lebih baik, diizinkan keluar dari sel untuk ikut bekerja bakti.


Dengan sarung tangan serta sapu lidi besar. Seno menyapu daun-daun yang berguguran. Sembari bekerja, sepasang matanya menatap nyalang pada sekitar.


Seno menggenggam benda itu ditangannya. Entah, bagaimana caranyq ia menyimpannya selama ini. Padahal dipakaiannya tidak ada saku.


Para penguni sel, juga tidak menggunakan dalaman. Bertujuan untuk menghindari percobaan bundir atau mencelakai teman sendiri.


"Tunggu tanggal mainnya, maka aku akan keluar dari tempat sialan ini!" gumamnya pelan, seraya kembali menyimpan benda yang akan mensukseskan rencananya.


Sementara itu, di sebuah panti jompo. Seorang wanita paruh baya yang bertubuh semakin kurus dari hari ke hari.


Keadaannya yang stroke menyebabkan susunan pada tulangnya mengalami perubahan. Wajahnya yang miring serta tangannya yang bengkok.


Bahkan, ia hanya bisa duduk bersandar di kursi rodanya. Merindukan sang putra yang entah dimana. Di hantui rasa bersalah pada masa lalunya.


Keadaan itu semua, menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit. Hingga kulitnya yang kering membuat Easy terlihat sangat-sangat tua.

__ADS_1


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข. ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข.


๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ? ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


๐˜’๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข?


๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ!


Eaay kembali meluruhkan air matanya dengan deras. Hingga suara geraman keluar dengan kencang.


"Haih, ibu itu sepertinya depresi. Keadaannya sangat menyedihkan. Setiap hari hanya bisa menangis saja, seperti tak ada semangat untuk hidup," ucap sang perawat terhadap teman sejawatnya.


" Begitulah, nasib seorang ibu yang di buang oleh anaknya. Mati segan hidup tak mau. Sudah cacat bukan di kasihi, malah di lempar ke tempat ini. Bukan, kasus baru seperti ini, malah belakangan seperti menjadi trend setter saja, ๐™‚๐™–๐™  ๐™—๐™ช๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™š๐™ข๐™–๐™ -๐™—๐™–๐™ฅ๐™–๐™  ๐™ก๐™ช! ๐™‡๐™ช ๐™œ๐™–๐™  ๐™ ๐™š๐™ง๐™š๐™ฃ!" geram perawat itu, sambil membejek kain selimut yang tengah ia lipat.


"Pasti neraka bakal penuh sama anak durhaka ya, mbak?" timpalnya, sekaligus miris dengan kenyataan yang ada.


"Kayaknya sih gitu, soalnya kejahatan yang gak bisa di pidanakan ya yang begini ini," tukasnya.


Salah satunya pun menghampiri Easy. Di mana wanita itu hanya bisa menyender miring di kursi rodanya. Menatap area luar taman, dari panti tersebut. Berharap ada kendaraan berhenti yang akan menurunkan sang putra.


"Bu, masuk dulu ya. Sudah waktunya makan dan minum obat," ajak perawat itu lembut. Meskipun, Easy menyusahkan dan suka melawan. Ia tetap sabar, mengurus orang-orang tua di panti ini.


"Eengghh ...," Easy hanya bisa menggeram untuk menjawab ajakan perawat.


"Lihatlah, dia tidak mau makan lagi." Perawat itu akhirnya mengadu dengan membawa kepala panti ke kamar yang berisi sekitar delapan orang tua.


"Bagaimana lagi, Bu. Beliau sepertinya orang kata, di lupakan di saat keadaannya seperti ini, pasti sebuah luka yang dalam di hatinya," ucap perawat itu.


Kembali ke suasana penjara. Sebelum Seno di pindahkan ke tempat lain, sel yang terletak jauh dari ibu kota. Khusus para penjahat besar, yang di kelilingi hutan dan rawa.


Maka, ia memiliki rencana, yang di harapkan akan berhasil membuatnya kabur. Tanpa peduli akan nyawa yang lainnya. Seno, hanya ingin keluar dari tempat ini dan menemui maminya.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช!


Para napi yang baru selesai makan kedua di sebuah ruangan besar nan luas. Dimana para penghuni penjara berkumpul makan bersama di beberapa meja besar.


Seperti biasa, malam ini Seno kembali harus menahan laparnya. Karena tiga pria sampah itu kembali mengganggunya.


"Gak usah makan, nanti perut orang kaya elu bakal sakit. Lagian, bekas orang kaya, mana doyan makan tumis genjer. Hahaha ...!" pria itu pun tergelak kencang diikuti oleh kedua temannya.


๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜•๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ!


Seno menyeringai halus, hingga tak ada satupun dari mereka yang menyadarinya.


Ketikq hendak berbalik ke sel masing-masing. Seno,mengeluh sakit perut. Bahkan ia sampai berguling dan meringis.


Hingga, sipir penjara mengantarnya ke ruangan pengobatan. Dengan senyum miringnya, Seno memuji keberhasilan aktingnya.


Karena dirinya pura-pura pingsan, maka ia harua bermalam tidur di atas brankar.


๐˜“๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ! ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ.

__ADS_1


Hingga waktu menunjukkan tengah malam, sebuah alarm berbunyi nyaring. Setelah sebelumnya terlihat asap mengepul dari dalam salah satu ruangan.


.


Membuat sistem pemadam air mengalir dari atas plafon. Namun tempat yang terbakar, tidak ada sistem pemadaman ya. Hingga api dengan cepat menyambar ruangan yang di dominasi oleh kain dan kertas itu.


Seketika seisi lapas pun kalang kabut. Para sipir berlarian memeriksa sel para napi. Karena asap yang semakin pekat, maka para napi di keluarkan,dan digiring untuk keluar.


"Bawa para napi keluar! Jangan sampai ada korban jiwa!" teriak salah satu sipir penjara.


Sementara, pria berewok tipis tengah menyeringai di balik tembok, yang membatasi antara dapur dan ruangan makan tadi.


"Udah kalang-kabut kan? Waktunya aku berikan sentuhan yang terakhir." Seno, menyalakan semua kompor, tapi tidak sampai mengeluarkan api. Ia ingat waktu di rumah, beberapa gagal menyalakan kompor hingga yang keluar hanya bau gasnya saja.


" Ada delapan kompor, dan bau gas mulai memenuhi ruangan ini, uhukk!" Seno menutupi hidungnya dan beranjak menjauh. Setelah ia jauh dari ruangan itu, Seno melempar korek gas hingga ...


Buuummm!


Daarrr!!


"Wooaaa!! Ledakan!!" Teriak para penghuni penjara semakin panik. Keadaan yang semakin berbahaya dan mengancam nyawa. Membuat masing-masing individu hanya berpikir untuk menyelamatkan dirinya.


Karena, ada juga dari para napi yang sudah menjadi korban karena tidak bisa keluar dari selnya. Seperti tiga penjahat yang selalu menyiksa Seno.


Keadaan yang ricuh juga menjadi kesempatan bagi beberapa napi. Keamanan yang kacau membuat mereka berhasil meloloskan diri.


Duuuammm!!


Ledakan besar kembali terdengar, hingga Seno yang berada di halaman belakang terkena dampak getarannya hingga terpental menabrak pagar pembatas.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช!


Seno pun berusaha memanjat pagar itu dengan susah payah, bahkan beberapa bagian tubuhnya terluka. Di karenakan pagar tersebut di tanamkan pecahan kaca pada bagian atasnya.


Giliran tiba untuk melompat, Seno bingung. Sementara kakinya saja belum sembuh benar.


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?


Bruaaggghh!!


Tembok yang dinaikinya tiba-tiba ambruk. Sebuah ledakan yang berasal dari dalam bangunan itu, sampai lagi hingga ke area paling belakang. Entah, bagaimana keadaan di dalam. Sementara api saja sudah sedemikian besar.


"Sial! Damn it!"


"Kenapa tembok ini menimpa kakiku!"


"Bagaimana aku bisa kabur, kalau begini!"


"Argh!"


"Berat sekali, betonnya menyakiti luka ku." Seno mengerang dan merintih. Bahkan, cairan merah mulai merembes dari area kakinya yang terhimpit bongkahan tembok.


Note๐Ÿ˜š: Jangan lupa pencet tombol like ya gais. Komentarnya juga sangat dinantikan oleh otor.


Kalo mau ngasih lebih dari itu juga, boleh bangett๐Ÿ˜Ž misalnya vote sama ๐Ÿ’ atau โ˜•๐Ÿ˜™

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2