
🔥🔥🔥🔥
'Ternyata begini ya rasanya punya istri. Semua sudah ada yang menyiapkan. Bahkan untuk urusan pakaian saja diurusi dengan sangat detail.' batin Joy sembari memperhatikan gerak-gerik Milna yang dari tadi sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Karena sore ini mereka akan segera berangkat, menggunakan tiket honeymoon yang diberikan secara gratis oleh Nyonya Susi.
" Apa ada yang perlu aku bantu? sepertinya sendiri tadi kau belum selesai juga." tanya Joy sembari mendekati Milna. Kemudian ia meraih beberapa pakaian lalu hendak memasukkannya ke dalam koper.
"Eh itu kenapa dimasukkan! Aku sengaja memisahkannya." Milna merebut kembali apa yang saat ini sedang dipegang oleh Joy bahkan mengeluarkan kembali beberapa pakaian yang dimasukkan ke dalam koper.
" Sudahlah kau diam saja tidak usah membantuku. Karena beberapa pakaian ini akan aku letakkan di tempat yang berbeda sesuai dengan kegunaannya nanti," jelas Milna dengan sedikit Ketus pada Joy.
"Dasar wanita. Semuanya disiapkan sedetail mungkin. Bahkan bantuan dari orang lain pun tidak terpakai." gumam Joy menggerutu.
Kemudian ia kembali duduk tempatnya semula. Ia memilih untuk memperhatikan saja Milna mondar-mandir dan sibuk sendiri sejak tadi. Istrinya itu tengah memisahkan barang-barang yang di bawa menjadi beberapa tas kecil, baru setelahnya ikut dimasukkan ke dalam koper besar.
Joy hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dulu sebelum mempunyai istri jika ingin pergi ke mana-mana dia hanya akan memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper lalu angkat kaki. Sedangkan sekarang Semua terlihat begitu rumit.
Akan tetapi ia tak perlu memikirkannya saat ini karena sudah ada Milna yang mengurusnya. Hanya saja dirinya ikut pusing melihat Milna tak juga kunjung selesai.
Beberapa saat kemudian.
" Kenapa kopermu lebih besar dari milikku?" tanya Joy heran dan bingung.
"Tentu saja karena barang bawaan wanita itu lebih banyak daripada laki-laki. Itu saja kau tanyakan!" Ketus Milna.
"Ya baiklah terserah kau saja." sahut Joy mengalah.
__ADS_1
"Lalu?" Milna bertanya seraya menatap Joy tajam. Ia tak bergeming berdiri di tempatnya. Sementara Joy melewatinya begitu saja.
"Lalu apa?" dahi Joy mengernyit bingung akan maksud dari Milna.
" Lalu apa aku harus membawa koperku sendiri?" tanya Mirna gemas.
"Ah ... ya maafkan aku! kenapa aku bisa lupa? sini biarkan aku yang membawanya." Joy mengulurkan tangannya hendak menarik koper besar dan juga koper kecil.
"Oh Joy, kenapa kau sekarang jadi begitu bodoh? Seharusnya 'kan kau hanya tinggal memanggil bellboy." celetuk Milna mengingatkan Joy pada ketulalitannya.
"Oh Shiit! Kenapa tidak kepikiran dari tadi!" Joy mengumapat kesal pada dirinya. Setelah menyadari kebodohannya, Joy segera mengangkat gagang telepon di atas nakas. Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamar mereka.
"Maaf tuan Joy. Adakah yang dapat saya bantu?" ucap seorang bellboy yang berdiri di depan pintu kamar.
Setelah membukakan pintu, Joy segera memasang wajah seriusnya. "Tolong bawakan barang-barang ini ke mobil saya di lobby dan ini tips untukmu." Joy memberi perintah pada pria muda yang mengenakan seragam hotel berwarna merah marun itu tersebut, kemudian memberi beberapa lembar uang.
"Baik Tuan. Terima kasih banyak." Pria bellboy tersebut menunduk tanda hormat, kemudian segera berlalu dengan dua koper yang di naikkan ke atas troli.
"Ck, dasar! Sabar Joy sabar." Gumam Joy seraya mengusap dadanya.
"Kak! Itu mereka!" tunjuk seorang wanita muda. Bahkan terbilang sangatlah muda. Terlihat dari suaranya, meskipun gaya dandan serta berpakaiannya dibuat sedewasa mungkin. Garis remajanya masih nampak, walaupun bentuk tubuhnya sudah berbentuk dengan sempurna.
"Kita tidak boleh kehilangan mereka. Awasi dan jangan sampai ketahuan." Wanita yang mengenakan dress cantik, karena mampu memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang mampu membuat mata lelaki membuka lebar. Memberi arahan serta peringatan pada kawan satu teamnya itu. Dirinya juga membawa beberapa orang suruhan. Terbaca sudah apa niat yang terisi di dalam kepalanya.
Sementara itu, Joy dan Milna sudah duduk di kursi kelas VIP mereka. Susi benar-benar memikirkan kenyamanan dari wanita hamil ini.
Tak lama kemudian Milna mengeluarkan batang coklat dengan merek SQ itu. Memasukkan kedalam mulutnya, lalu mengunyahnya secara perlahan.
__ADS_1
"Apa kau merasa mual saat ini?" tegur Joy yang saat ini sudah duduk di samping Milna. Istrinya itu lantas menoleh padanya. Kemudian mengangguk dengan pelan.
"Maaf aku agak lama, aku hanya menyampaikan beberapa pesan kepada pramugari," jelas Joy dengan rona sesal di wajahnya. Karena Milna akan langsung mual jika terlalu lama jauh darinya.
"Tentu saja lama karena kau sekalian menggoda mereka tadi!" ketus Milna tanpa melirik sedikitpun ke arah Joy.
"Enak saja! Siapa yang menggoda mereka? Jika aku yang digoda itu baru benar. Ups!" Ternyata Joy keceplosan. Pria itu segera membungkam mulutnya dengan satu tangan. Ia menoleh ke arah Milna, hingga tatapan matanya beradu dengan tetapan sinis dari Milna.
'Dasar player! Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi player.' batin Milna dalam hatinya. Ia segera menyentuh perut ratanya karena ada ketakutan tersirat dalam hati dan juga pikirannya. Bagaimana nasib anaknya kelak jika ayah mereka mempunyai tabiat seperti ini.
Milna pun menghela nafasnya perlahan melepas segala kerisauan dalam hatinya.
"Hei. Tolong kondisikan hatimu. Jangan berpikiran macam-macam tentangku. Apa kau tidak percaya jika aku sudah berubah? Aku tidak pernah lagi menggoda wanita manapun. Meskipun begitu, aku tidak bisa membuat keadaan di sekelilingku berubah. Kau tahu kan sejak dulu pesonaku ini luar biasa." Joy menyugar rambutnya sedikit bercanda dengan Milna. Akan tetapi justru malah membuat istrinya itu melengos semakin sebal padanya.
' Pesonaku ini bagaikan magnet bagi wanita manapun. Hanya kau yang tidak pernah tertarik sedikitpun padaku. Huh, Milna. Bagaimana caraku mengambil hatimu?' batin Joy gemas.
"Sudah tak perlu di bahas lagi. Ini adalah waktu bagi kita berdua untuk bersenang-senang." Joy pun melebarkan senyumnya, berharap kebahagiaannya menular pada Milna. Bahkan ia sudah membayangkan hal-hal yang romantis dan mengasyikkan di sana. Namun begitu, Milna masih dengan ekspresi yang sama dengan tadi.
***
"Aku ingin kamar hotel di depan kamar mereka! Kenapa begitu jauh!" teriak wanita seksi itu marah. Bahkan ia melempar sepatunya hingga mengenai tubuh pria yang bertugas sebagai pesuruhnya.
"Maaf Nona. Kebetulan pengunjung di kamar itu menambah satu hari untuk menginap." Pria tersebut menjelaskan seraya menunduk takut. Dirinya tau tabiat dari anak majikannya ini. Egois dan arogan. Setiap yang diinginkannya harus menjadi miliknya.
"Dasar Bodoh!" Wanita itu kembali memukul pria yang menjadi pesuruhnya. Sungguh kasar sekali sebagai wanita berkelas.
'Dasar anak orang kaya gak ada akhlak. Kalau saja keluargamu bukan orang berkuasa, sudah ku tinggalkan kau di jalanan.' batin pria tersebut sembari menerima rasa sakit di tubuhnya.
__ADS_1
"Awas kau Joy!"
Bersambung>>>>