
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Seno benar-benar tentang ucapannya.
Pria itu bercinta dengan sekretaris cantiknya di hadapan Jelita.
Wanita itu menahan geram sekaligus mual. Ingin rasanya ia membunuh kedua nya saat ini juga.
Bahkan, mereka berganti tempat beberapa kali. Dari sofa, meja kerja, hingga kursi kerja Seno.
"Permainanmu tidak buruk, meskipun belum memuaskan ku sepenuhnya." Seno meletakkan setumpuk kertas berwarna merah di atas dada sekretarisnya yang polos.
Seno melangkah mendekati Jelita yang sudah bermandikan keringat dingin. Dirinya sudah beberapa kali berlari ke wastafel, demi memuntahkan isi perutnya.
Sambil mengenakan kemejanya, ia tersenyum miring pada Jelita.
"Kau masih yang terbaik, tapi sayang kau hanya jadi penonton untuk saat ini." Seno merampas bibir Jelita sekilas, lalu menepuk pipi.
(Setelah anak ini lahir, aku akan membalasmu!) Jelita geram, tapi hanya bisa diam seraya menatap punggung Seno dengan tatapan kebencian.
"Ah, dua hari lagi bersiaplah." Seno menoleh sedikit dengan lambaian tangan tangan.
"Karena aku masih menghargai mu. Aku akan mengajakmu sebagai pasanganku di acara besar antar perusahaan." ucap Seno, dengan posisi nya yang tetap membelakangi Jelita.
🔥🔥🔥🔥🔥
"Apa harus menyewa make up artis seperti ini?" gumam Susi ketika dua orang wanita dewasa tengah mempersiapkan alat-alat tempur untuk touch up, di kamarnya.
"Mari, Nona saya bantu mengenakan gaunnya," ucap salah satu wanita berambut pendek sebahu, yang ternyata adalah asisten dari MUA tersebut.
__ADS_1
"Ah, biar saya saja yang memakainya sendiri, kalian balik badan ya. Awas jangan mengintip!" ucap Susi, membuat para perias itu balik badan sambil senyum-senyum.
"Sudah." Kini Susi telah duduk di kursi depan meja rias. Di mana sudah ada kaca lebar di sana. Tumpukkan berbagai macam jenis alat rias tertata di sebuah box besar.
" Nona, sudah cantik. Kulitnya juga sudah bagus, tinggal kita poles sedikit saja biar tambah flawless." Perias utama mulai memoleskan krim pada wajah mulus Susi.
Sedangkan di dalam kamar, Arjuna tengah mengenakan kemeja putih. Lalu dirinya duduk di pinggir tempat tidur.
Membuka ponselnya, lalu menyentuh sebuah nomer panggilan dengan nama 'Si Badung'.
Calling ....
.... Berdering...
"Hola Bang!!" pekik suara seorang pemuda memekik di seberang sana.
Segera Arjuna menjauhkan ponsel dari telinganya, kalau tidak pendengarannya bisa terancam tuli.
"Oke Bang. Oke." jawab Walls dengan tawa menyebalkan.
"Bagaimana, apa kau bisa meretasnya?" tanya Arjuna serius.
"Aku sedang mencobanya, Bang. Sistem keamanannya belum pernah ku temui sebelumnya. Mereka menggunakan sistem yang lebih canggih dan ketat dari militer. Bahkan, sistem ini hampir menyamai NASA." tutur Walls serius, dengan penekanan dari setiap kalimatnya. Menandakan bahwa ia bekerja sangat keras kali ini.
"Siapa mereka sebenarnya Bang, apa bisnisnya?bagaimana bisa mereka memiliki sistem secanggih ini?" Walls terdengar panik. Karena, pemuda ini menelpon sambil terus berusaha meretas sistem dari perusahaan Don Domino.
"Retas saja CCTV nya dulu untuk malam ini." pinta Arjuna.
Lelaki ini terlihat menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
"Oke. bang!"
"Siap, laksanakan!"
"Agak sedikit rumit ... tapi tidak sesulit tadi." ucap Walls yang terus melapor status nya di sana.
"Bagaimana, kenapa lama sekali?" tanya Arjuna tak sabaran, karena suara Walls tidak terdengar lagi.
Dalam pikirannya penuh pertanyaan, jika hacker sehebat Walls saja tidak bisa meretas sistemnya. Siapa sebenarnya Don Domino ini.
"Mafia macam apa orang tua itu." Arjuna memijat pangkal hidungnya. Rasa khawatir menyeruak dalam dirinya.
"Apakah, Daia menggunakan sugar daddy-nya ini untuk membalas dendam pada Susi?" pikir Arjuna.
"Gotcha!!" pekik Walls girang.
"Kau berhasil?" tanya Arjuna tak sabar, bahkan dirinya membuka kancing atas kemejanya.
"CCTV-nya telah berhasil ku retas Bang." jawab Walls.
"Pantau mulai dari sekarang." titah Arjuna.
" Kirim uang jajan ku dulu ya Bang." tawar Walls.
"Selesaikan dulu tugasmu! Baru ada jajan!"
Tuut ...
Panggilan di akhiri.
__ADS_1
"Haishh ..., dasar Abang pelit!" umpat Walls pada Arjuna melalui ponsel yang telah gelap.
Bersambung>>>